Keseruan di Air Terjun Montel

Oleh Samoda Danu Brata

Tinggal di Kudus sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri untuk mencari tempat bermain yang agak jauh dari keramaian kota. Apalagi daerah rumahku lumayan dekat dengan kawasan Gunung Muria. Bulan lalu, kebetulan sedang liburan dan santai, aku merasa butuh melihat sesuatu yang hijau-hijau. Entahlah, aku butuh semacam penyegaran agar pikiran tidak penat. Terus, aku kepikiran untuk mengajak dua teman dekatku, Izza dan Rian, untuk mencari udara segar ke arah atas pegunungan. 

Sebenarnya, rencana ini lumayan mendadak dan tidak ada persiapan matang sama sekali. Siang itu, aku dan Rian sedang bermain di rumah Izza. Kami memang sering berkumpul di sana untuk sekadar mengobrol atau bermain ponsel. Seingatku, Rian yang tiba-tiba nyeletuk ingin main air, dan karena kami bertiga kebetulan sama-sama warga dengan pelat K, akses untuk pergi ke daerah wisata itu sebenarnya sangat gampang dan tidak jauh dari rumah kita. 

Masalahnya mulai muncul saat kami mau menentukan kendaraan untuk berangkat. Entah bagaimana ceritanya, ujung-ujungnya kami nekat memutuskan untuk berangkat boncengan tiga hanya memakai satu motor saja. Dan sialnya, motor yang disepakati untuk dipakai itu adalah motor Honda Beat Street milikku. Ya, motorku sendiri yang harus jadi korban menanggung beban tiga remaja hari itu. Sejujurnya saat itu aku agak was-was, tapi karena malas mengeluarkan motor satu lagi dari rumah, ya sudah kami paksakan saja biar perjalanannya terasa lebih seru. 

Perjalanan ke arah Colo itu kan jalurnya lumayan menanjak dan banyak kelokannya. Posisiku sebagai yang membawa motor di depan benar-benar merasakan tarikan mesin yang sangat berat. Suara mesin Honda Beat Street kesayanganku pas bertemu tanjakan curam terdengar sangat memaksa dan berdengung keras. Sampai di titik tertentu, aku sempat berpikir takut kalau mesinnya akan mati di tengah tanjakan. Tapi bukannya panik memikirkan nasib motor, kami malah lebih banyak tertawa ngawur di atas motor sepanjang perjalanan itu. 

Tertawa kami paling banyak pecah gara-gara Izza yang posisinya duduk di tengah. Badannya terjepit rapat di antara punggungku dan tubuh Rian yang duduk di ujung paling belakang. Dia terus-terusan mengeluh napasnya sesak dan posisi kakinya kram, sementara Rian di belakang malah asyik sendiri mengobrol. Angin di jalanan siang itu lumayan kencang menabrak muka, tapi karena terlalu banyak bercanda, perjalanan yang bikin punggung sakit ini malah tidak terasa terlalu menyiksa buat kami. 

Setelah perjalanan yang cukup membuat jantung berdebar itu, motorku akhirnya berhasil sampai di area parkir kawasan Colo tanpa harus didorong. Aku langsung membuang napas lega dan kami bertiga turun dari motor untuk meregangkan badan yang rasanya kaku semua gara-gara posisi duduk yang tidak manusiawi tadi. Di parkiran ini suasananya sudah sangat berbeda dibandingkan saat di bawah kota. Hawa terasa jauh lebih dingin menembus jaket dan bau khas udara basah pegunungan mulai tercium jelas. 

Dari parkiran, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke titik lokasi air terjunnya. Jalan setapak yang kami lewati itu letaknya membelah area perkebunan kopi milik warga yang cukup rimbun. Biarpun hawanya di kulit terasa dingin, tapi karena jalurnya lumayan menanjak, tetap saja punggungku mulai terasa basah oleh keringat dan bajuku terasa lengket menempel di badan. Napasku juga agak tersengal-sengal. Mungkin rasanya aku sudah jarang sekali berolahraga secara rutin.  

Saat kami akhirnya tiba di bawah Air Terjun Montel, suara gemuruh airnya langsung mendominasi dan hampir menutupi suara obrolan kami. Debit airnya lumayan deras hari itu, mungkin karena di kawasan puncak Muria malam sebelumnya sempat turun hujan lebat. Aku melihat ke sekeliling. Banyak sekali batu-batu besar di pinggiran aliran sungainya. Batu-batu itu warnanya gelap dan terlihat sangat licin karena tertutup oleh lapisan lumut tipis yang selalu basah terkena percikan air terjun. 

Kami lalu sibuk mencari tempat duduk di atas hamparan batu yang sekiranya agak kering untuk sekadar mengatur napas dan meluruskan kaki yang lumayan lelah. Di momen inilah Rian mulai mengomel-ngomel sendiri tentang kakinya yang pegal. Ternyata, eh ternyata, dia salah kostum karena dia dengan pedenya memakai sepatu kanvas bersol tipis warna putih untuk main di alam berbatu. Jelas saja dia kesusahan berjalan dan mengeluh telapak kakinya sakit setelah melewati jalanan makadam yang tidak rata tadi. 

Saat kami sedang enak-enaknya duduk bersantai sambil merasakan embun air terjun yang terbawa angin ke arah kami, Izza tiba-tiba mengeluarkan bungkusan plastik kecil. Isinya adalah getuk nyimut hangat yang tadi sempat kami beli saat melewati pinggiran jalan Desa Kajar. Baru saja Izza memakan satu gigitan getuk bulat itu, tiba-tiba ada pergerakan di dahan pohon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari batu tempat kami bersantai. Ada seekor monyet ekor panjang ukuran kecil yang turun dan diam menatap lurus ke arah tangan Izza.  

Monyet itu sebenarnya cuma diam saja seperti sedang menunggu ada pengunjung yang melempar makanan, tapi Rian ini ternyata punya trauma masa lalu dikejar monyet saat kami masih berseragam SMP. Begitu melihat hewan itu, dia panik berlebihan dan refleks langsung berusaha melompat lari menjauh. Masalahnya, dia lupa kalau batu yang dipijaknya itu sangat licin dan dalam hitungan detik kakinya terpeleset ke depan. Pose-nya saat jatuh itu sangat konyol. Tangannya sempat mencoba berpegangan pada batu, tapi malah ikut merosot dan akhirnya dia jatuh terjerembap masuk ke aliran air dangkal di bawahnya. 

Melihat Rian basah kuyup dari celana jin sampai kaosnya sambil memasang wajah memelas, aku dan Izza langsung tertawa lepas sampai perutku sakit, sementara monyetnya malah kabur kembali ke atas pohon karena kaget. Karena kasihan melihat Rian menggigil kedinginan dengan baju basah kuyup, kami sepakat untuk langsung pulang saja. Perjalanan turun gunung bonceng tiga lagi menjadi penderitaan tambahan buat Rian yang kedinginan diembus angin sore. Saat sampai di rumah Rian, dia langsung lari masuk untuk mandi, dan aku cuma bisa merebahkan diri di karpet ruang tamunya untuk mendinginkan punggung sambil memikirkan rencana makan nanti malam (*)