Oleh Winna Handayani
Pagi itu, matahari di desaku masih terasa malu-malu saat aku dan teman-temanku memacu motor ke salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di daerahku. Kami sengaja berangkat lebih awal agar bisa menikmati suasana tenang sebelum keramaian pengunjung mulai memadati area tersebut. Angin pegunungan yang sejuk sesekali menyelinap di sela-sela helm, membuat semangat kami semakin membara untuk segera sampai. Sepanjang jalan, kami terus bercanda tentang siapa yang akan paling pertama melompat ke dalam air nantinya.
Setibanya di sana, mata kami langsung dimanjakan oleh pemandangan hijau yang membentang luas di sekeliling area kolam renang. Suara gemericik air yang mengalir deras terdengar seperti musik alam yang sangat menenangkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Aku melihat uap air tipis yang seolah menari-nari di atas permukaan kolam yang tenang dan jernih. Tanpa menunggu aba-aba lama, kami segera memarkirkan kendaraan dan bergegas menaruh barang dengan perasaan tidak sabar.
Saat aku berdiri di tepian kolam, aku terpana melihat dasar kolam yang terlihat begitu jelas dari permukaan. Kejernihan airnya benar-benar berbeda dengan kolam renang di tengah kota yang biasanya tampak agak keruh atau kebiruan karena zat kimia. Inilah alasan yang membuat aku suka kolam renang ini. Kolam ini tidak mengandung zat kimia yang biasanya dipakai di kolam renang lainnya, yaitu kaporit. Aku sempat ragu sejenak karena udara pagi yang masih cukup dingin menusuk kulit lenganku. Namun, salah satu temanku tiba-tiba saja melompat dengan gaya bom yang membuat percikan airnya membasahi seluruh tubuhku.
Seketika aku merasakan sensasi dingin yang luar biasa saat tubuhku akhirnya menyentuh air yang berasal langsung dari mata air alami itu. Rasanya sangat berbeda, jauh lebih ringan dan segar dibandingkan dengan air yang biasa aku temui di tempat lain. Air ini terasa sangat hidup dan murni, seolah-olah setiap tetesnya membawa energi dari perut bumi. Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati kesegaran yang langsung membangkitkan seluruh panca inderaku yang sebelumnya masih mengantuk.
Satu hal yang paling aku sukai adalah sama sekali tidak ada bau menyengat kaporit yang biasanya menusuk hidung saat kita berenang. Mataku tidak terasa perih sedikit pun meskipun aku mencoba membukanya di dalam air untuk melihat dasar kolam. Kulitku juga tidak terasa lengket atau kering, melainkan justru terasa jauh lebih bersih dan sangat segar. Inilah kemurnian alam yang sulit ditemukan di kolam renang modern yang penuh dengan campuran bahan kimia.
Kami menghabiskan waktu dengan bermain kejar-kejaran dan mencoba berbagai gaya berenang yang konyol di tengah kolam. Teman-temanku tidak berhenti tertawa saat salah satu dari kami terpeleset pelan karena terlalu bersemangat saat akan melompat ke kolam. Kami benar-benar lupa sejenak dengan tumpukan tugas dan segala hiruk-pikuk dunia yang biasanya menghantui pikiran kami setiap harinya.
Sesekali kami menepi ke pinggiran kolam untuk sekadar mengobrol sambil membiarkan kaki kami terendam di dalam air yang mengalir. Aku bercerita kepada mereka betapa beruntungnya kami memiliki tempat seindah ini yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Teman-temanku mengangguk setuju, sambil sesekali memercikkan air ke arahku dengan jahil hingga kami tertawa bersama lagi. Mata air ini seolah menjadi saksi bisu betapa sederhananya cara kami untuk merasa bahagia dan tenang.
Matahari mulai naik lebih tinggi, membiarkan sinarnya menembus permukaan air hingga menciptakan pola cahaya yang cantik di dasar kolam. Aku melihat bayangan kami yang bergerak lincah di bawah sana, terlihat sangat jelas berkat air yang tanpa kaporit tersebut. Udara yang tadinya dingin kini mulai terasa hangat, namun air di kolam tetap mempertahankan suhu sejuknya yang konsisten. Keindahan visual ini benar-benar membuatku ingin berlama-lama di dalam air tanpa mau beranjak ke daratan.
Di sela-sela canda tawa, kami tidak lupa mengabadikan momen lewat lensa kamera untuk menangkap keindahan yang mungkin sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Cahaya matahari yang menembus beningnya air menciptakan efek visual yang dramatis, membuat setiap foto yang kami ambil terlihat sangat artistik tanpa perlu banyak polesan. Foto-foto itu nantinya akan menjadi pengingat bahwa kami pernah melarikan diri sejenak menuju surga kecil di desa tercinta kami, Bergas.
Setelah hampir dua jam bermain air, rasa lapar mulai menyerang perut kami secara bergantian dengan suara yang cukup keras. Kami memutuskan untuk menyudahi sesi berenang dan mulai membilas diri di pancuran yang airnya tak kalah segar. Sambil mengeringkan rambut, kami sudah mulai merencanakan menu makanan apa yang paling enak disantap setelah lelah bergerak. Setiap kami selesai berenang, kami memiliki salah satu penjual langganan kami. Dia menjual siomay yang di dalamnya berisi cincangan ayam. Siomay-nya adalah siomay paling legendaris di desa kami karena rasanya yang enak dan porsi yang besar.
Sambil berjalan menuju tempat jualan si akang siomay, kami terus membahas betapa puasnya kami dengan berkunjung ke kolam mata air alami hari ini. Tidak ada satu pun dari kami yang menyesal telah bangun pagi-pagi sekali demi mendapatkan tempat dan suasana yang terbaik. Pengalaman berenang tanpa kaporit ini benar-benar memberikan standar baru bagi kami dalam memilih tempat liburan di masa depan. Kami merasa tubuh menjadi jauh lebih ringan dan pikiran kembali jernih setelah menyatu dengan alam.
Perjalanan pulang terasa lebih santai dengan hati yang penuh dengan rasa senang dan kepuasan yang mendalam. Aku melihat ke arah spion dan melihat wajah teman-temanku yang tampak jauh lebih segar dari saat kami berangkat tadi pagi. Bergas memang selalu punya cara tersendiri untuk memberikan kejutan kecil yang menenangkan bagi warga dan pengunjung setianya. Aku berjanji dalam hati akan kembali lagi ke sini saat aku membutuhkan pelarian dari rutinitas yang menjenuhkan.
