Jalan Pulang di Buton Tengah

Oleh Mohammad Iklil

Sore itu langit di Buton Tengah mulai bertransformasi menjadi warna jingga saat saya memutuskan untuk kembali ke rumah setelah seharian beraktivitas. Angin dari laut bertiup lembut, membawa wangi unik yang selalu saya inginkan. Jalan yang saya lalui bukanlah jalan besar yang ramai, tetapi jalan sederhana dengan permukaan batu dan tanah yang sudah saya kenal sejak kecil. Sebetulnya, perjalanan pulang itu tidaklah sesuatu yang luar biasa. Tetapi entah apa sebabnya, sore itu terasa tidak sama. Mungkin karena saya mulai mencermati hal-hal kecil yang dulu sering saya lewatkan. Saya memperhatikan anak-anak kecil bermain di tepi jalan dengan ceria, tidak memikirkan hal lain selain kegembiraan mereka saat itu. Dari kejauhan, tampak sejumlah orang yang sedang bersantai di depan rumah sembari mengobrol, menikmati sore setelah seharian beraktivitas.

Langkah saya melambat saat melewati kawasan perbukitan kecil yang dekat dengan rumah. Dari lokasi tersebut, saya dapat melihat sebagian daerah Buton Tengah dengan jelas. Lanskap yang terdiri dari perbukitan karst terlihat membentang dengan warna hijau yang tidak terlalu pekat tetapi tetap memberikan nuansa alami. Saya teringat bagaimana dahulu saya sering menganggap lokasi ini biasa saja, bahkan pernah merasa jenuh karena minimnya tempat rekreasi seperti di kota besar.

Namun, setelah pergi merantau untuk studi, cara pandang saya sedikit demi sedikit berubah. Saya mulai memahami bahwa lokasi yang selama ini saya anggap biasa ternyata menyimpan keindahan dan keunikan yang khas. Suasana yang damai, udara yang cenderung bersih, serta kehidupan komunitas yang tetap menghargai nilai kebersamaan adalah hal yang sulit ditemukan di lokasi lain. Namun, setelah pergi merantau untuk menempuh pendidikan, cara pandang saya sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Saya mulai memahami bahwa lokasi yang selama ini saya lihat sebagai biasa ternyata menyimpan keindahan dan keunikan yang khas. 

Suasana yang damai, udara yang cukup segar, serta masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai kekompakan adalah hal yang sulit ditemukan di lokasi lain. Di tengah jalan, saya menjumpai seorang kakek yang sedang mengangkut hasil kebunnya. Dia menyapa saya dengan hangat dan saya pun membalasnya dengan senyuman. Percakapan singkat itu tampak biasa saja, namun bagi saya ada makna yang cukup dalam. Aspek-aspek kecil seperti itu memperlihatkan bahwa interaksi antarwarga di Buton Tengah masih terpelihara dengan baik.

Saat saya meneruskan perjalanan, keadaan jalan yang tidak sepenuhnya rata mengharuskan saya untuk lebih waspada. Sebagian jalan masih berbatu dan agak licin, terutama setelah hujan. Akan tetapi, keadaan tersebut justru mengingatkan saya pada masa kecil, saat saya biasa melangkah di jalur yang sama tanpa terlalu banyak mengeluh. Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa lingkungan di mana kita berkembang berperan dalam membentuk cara kita menangani berbagai situasi dalam hidup.

Sesampainya di dekat rumah, suara ayam dan kegiatan keluarga mulai terdengar. Kondisi yang sederhana itu justru menciptakan rasa nyaman yang susah untuk dijelaskan. Aku duduk sejenak di depan rumah sambil melihat langit yang mulai kelam. Di dalam hati, saya merasa beruntung dapat berkembang di lokasi seperti ini. Pengalaman biasa dalam perjalanan pulang itu membuat saya menyadari bahwa setiap tempat memiliki kisah dan arti yang unik. Buton Tengah bukan hanya sebatas rumah bagi saya, melainkan juga bagian dari perjalanan hidup yang membentuk diri saya saat ini. Dari pengalaman singkat tersebut, saya menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kadang-kadang, ia muncul dari hal-hal kecil yang biasa kita abaikan. Namun, di Buton Tengah, saya menjumpai banyak hal sederhana yang ternyata sangat berharga.(*)