Kebersamaan di Tawangmangu

Oleh Rifqi Hakim Candranegara

Liburan merupakan momen yang paling dinantikan oleh para mahasiswa setelah kurang lebih enam bulan disibukkan dengan tugas, ujian, dan berbagai kewajiban akademik. Setelah seluruh tanggung jawab di kampus selesai, sebagian besar mahasiswa memilih pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga maupun teman lama. Begitu pula denganku, aku memutuskan untuk pulang agar bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terdekat.

Setelah sekian lama merantau demi menempuh pendidikan, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan keluarga dan teman-temanku. Hal sederhana seperti itu sudah cukup membuatku bahagia serta sedikit menghapus rasa lelah selama menjalani perkuliahan. Kebetulan saat itu juga bertepatan dengan libur Idulfitri, sehingga aku memiliki kesempatan untuk bertemu sanak saudara yang selama ini tinggal jauh di perantauan.

Sekitar empat hari setelah Lebaran, aku dan keluargaku memutuskan untuk pergi berlibur ke daerah Tawangmangu. Kami berangkat pukul lima pagi agar perjalanan terasa lebih santai dan nyaman. Udara pagi masih dingin, jalanan pun belum terlalu ramai. Sejak awal perjalanan, suasana sudah terasa menyenangkan dan membuat pikiranku lebih tenang.

Perjalanan menuju Tawangmangu terasa sangat menghibur karena sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan pegunungan yang indah serta hamparan pepohonan hijau. Semakin dekat ke tujuan, udara terasa semakin sejuk. Aku membuka jendela kendaraan dan membiarkan angin segar masuk. Hal sederhana itu saja sudah cukup membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Namun, seiring matahari mulai terbit, banyak orang mulai beraktivitas. Karena saat itu masih dalam masa libur panjang, jalanan pun semakin ramai oleh kendaraan para wisatawan yang memiliki tujuan sama, yaitu berlibur ke kawasan Tawangmangu.

Awalnya, aku dan keluargaku berencana mampir ke Telaga Sarangan. Akan tetapi, karena kondisi lalu lintas yang padat dan kawasan wisata tersebut diperkirakan sangat ramai, kami mengurungkan niat. Akhirnya, kami memutuskan mengubah tujuan menuju Air Terjun Grojogan Sewu yang saat itu tidak terlalu padat pengunjung.

Sebelum menuju lokasi air terjun, kami sempat mampir ke pusat oleh-oleh terdekat. Di sana kami membeli beberapa makanan khas daerah serta camilan untuk dibawa pulang. Suasana toko cukup ramai, dipenuhi wisatawan lain yang juga sedang berbelanja.

Setelah selesai berbelanja, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Grojogan Sewu. Sesampainya di pintu masuk, aku melihat banyak pengunjung datang bersama keluarga maupun teman-teman mereka. Meski cukup ramai, suasananya masih terasa nyaman. Kami membeli tiket masuk lalu berjalan santai sambil menikmati pemandangan sekitar. Dari kejauhan, suara gemuruh air terjun sudah mulai terdengar samar-samar.

Untuk mencapai lokasi air terjun, kami harus menuruni ratusan anak tangga. Awalnya aku mengira perjalanan turun itu akan mudah, tetapi ternyata cukup menguras tenaga. Meski begitu, rasa lelah terbayar dengan pemandangan sepanjang jalur yang dipenuhi pepohonan besar, udara segar, dan suara burung yang terdengar alami.

Di tengah perjalanan, aku beberapa kali berhenti sejenak untuk mengambil napas sekaligus menikmati suasana. Dari sela-sela pepohonan terlihat kabut tipis yang terkena cahaya matahari pagi. Pemandangan itu terasa damai dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Aku juga melihat beberapa monyet liar di sekitar jalur wisata. Mereka tampak santai duduk di pagar dan pepohonan. Banyak pengunjung sibuk mengambil foto, tetapi aku memilih menjaga jarak. Meski terlihat lucu, mereka tetap hewan liar yang harus dihormati ruang geraknya.

Semakin dekat ke lokasi utama, suara air terjun terdengar semakin keras. Aku mulai merasakan percikan air di udara meskipun bentuk air terjunnya belum terlihat jelas. Rasa penasaran semakin besar, sehingga langkahku menjadi lebih cepat.Saat akhirnya tiba di depan air terjun, aku sempat terdiam beberapa saat. Pemandangannya jauh lebih megah dibandingkan yang pernah kulihat di foto. Air jatuh deras dari ketinggian, menghantam bebatuan di bawah, lalu menciptakan kabut air yang menyebar ke segala arah.

Aku berdiri cukup lama hanya untuk menikmati suasana itu. Angin membawa percikan air ke wajahku dan rasanya sangat menyegarkan. Di momen tersebut aku sadar bahwa tubuh dan pikiran memang perlu beristirahat sejenak dari tekanan kehidupan sehari-hari. Setelah puas menikmati pemandangan, aku duduk di sekitar area wisata sambil menikmati camilan dan minuman hangat dari pedagang setempat.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kami pun bersiap kembali naik ke atas, meskipun harus menghadapi ratusan anak tangga yang tadi sudah kami lewati. Perjalanan naik terasa melelahkan, napasku beberapa kali terengah-engah dan kakiku mulai berat. Namun, kelelahan itu terasa sepadan dengan pengalaman yang didapat. Sesampainya di atas, aku menoleh sekali lagi ke arah kawasan air terjun. Ada rasa puas dan tenang yang sulit dijelaskan. Dalam perjalanan pulang, tubuhku memang lelah, tetapi pikiranku terasa jauh lebih ringan. Kunjungan ke Air Terjun Grojogan Sewu menjadi pengalaman liburan yang sangat berkesan, dan aku berharap suatu hari nanti bisa kembali lagi ke tempat itu.(*)