Janji Sunrise dan Pelajaran yang Tertinggal

Oleh Mulia Kusumawati

Sejak dulu, aku bukan tipe orang yang suka kegiatan ekstrem seperti naik gunung, karena dari kecil saya main ya seperti anak kecil pada umumnya. Sama sekali tak ada pikiran untuk naik gunung. Bagiku, liburan yang menyenangkan memang cukup sederhana: tak perlu capai-capai, tak perlu berdingin-dingin, dan tak perlu menghadapi hal-hal yang di luar kemampuanku. 

Tapi semua itu berubah saat aku masih duduk di kelas VII SMP, ketika sebuah ajakan datang dari kakak perempuan saya yang ingin mengajaku muncak untuk kali pertama.

Awalnya, aku sama sekali tidak diizinkan sama ibuku. Ia terlihat sangat khawatir dan berkata “Jangan naik naik gunung. Menakutkan. Kamu masih kecil. Fisiku belum kuat.”

Aku coba meyakinkan ibuku. Meski ibuku terus melarang, aku tetap keukeuh ingin ikut karena penasaran muncak gunung seperti apa rasanya dan keindahannya seperti apa.

Disisi lain, Mbakku terus membujuk. “Nanti lihat sunrise di atas kalau sudah sampai puncak. Bagus banget. Pokoknya kamu tak akan menyesal.”

Akhirnya ibuku mengizinkan dengan berat hati. “Hati-hati, ya. Kalau capai, jangan memaksa. Istirahat,” pesannya sebelum aku berangkat. 

Aku hanya mengangguk cepat, tanpa benar-benar memahami kekhawatiran ibuku saat itu. Yang ada di pikiranku hanya rasa ingin melihat sunrise seperti yang diceritakan Mbakku.

Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Sesampai di basecamp aku beristirahat untuk mempersiapkan kondisi tubuh agar tidak terlalu kecapaian. Aku naik pada tengah malam karena mengejar sunrise

Pada awalnya aku  merasa kuat. 

“Santai aja ya… pelan-pelan,” kata salah satu teman Mbakku. Aku bahkan masih sempat tertawa dan merasa bangga karena bisa ikut mendaki Gunung Slamet, gunung tinggi yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan akan aku datangi.

Namun, makin lama berjalan, rasa lelah mulai terasa. Napasku mulai berat dan langkahku melambat. “Mbak, capai. Masih jauh nggak?” 

Mbakku langsung enjawab “Bentar lagi, bersemangat. Katanya mau lihat sunrise? Teman Mbakku juga ikut menyemangati. Aku mencoba percaya, meskipun dalam hati mulai ragu.

Di tengah perjalanan, aku benar-benar kelelahan. Aku berhenti dan berkata pelan, “Mbak, ingin buang air kecil.” 

Akhirnya aku ditemani Mbakku buang air kecil di semak-semak. Saat itu mulailah rasa tidak nyaman, capai, dan mulai muncul rasa kedinginan, memutuskan untuk berhenti saja. Tapi aku tetap melanjutkan perjalanan.

Setelah itu, kondisiku makin menurun. “Aku lelah, Mbak, dingin banget. Nggak kuat,” ucapku sambil memegang tanganku sendiri yang mulai gemetar. Mbakku langsung panik. Aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Tubuhku mulai menggigil hebat dan tidak bisa dikendalikan.

“Aku enggak kuat…” kataku lirih, hampir tidak terdengar. 

Saat itu aku mulai merasa benar-benar tidak baik-baik saja. Dingin yang aku rasakan bukan lagi dingin biasa, tapi seperti menusuk sampai ke dalam tubuh.

Tiba-tiba seseorang yang sebelumnya hanya aku kenal sekilas di basecamp datang menghampiri. 

“Ini harus cepat turun,” katanya tegas. 

Tanpa banyak bicara, ia langsung menggendongku dan berlari menuruni jalur pendakian. Kakakku ikut panik dan berkata, “Hati-hati, Mas!” sementara aku hanya bisa diam, tubuhku menggigil tidak keruan.

Sepanjang perjalanan turun, aku hampir tidak bisa bicara. 

“Tahan ya, bentar lagi sampai bawah,” kata orang itu sambil terus berlari. 

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Sejak kejadian itu, sampai sekarang pada usia 19 tahun, aku tidak pernah lagi naik gunung. Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipaksakan, dan kadang kita harus lebih mendengarkan orang tua, karena di balik larangan mereka, ada rasa sayang yang ingin melindungi kita.(*)