Dompet Itu Ternyata…

Oleh Nadya Aurell Putri Aji

Rencana itu lahir dari diskusi panjang untuk wawancara mata kuliah hukum perdata di UNNES. Kami, lima sekawan yang haus akan suasana baru, sepakat bahwa akhir pekan ini harus menjadi perjalanan spiritual sekaligus ajang healing ke Masjid Agung Kendal. Strateginya sudah disusun rapi, yakni kumpul jam 06.00 pagi, naik BRT pertama, dan sampai di lokasi sebelum matahari membakar aspal jalur Pantura. Kami merasa rencana ini sudah bersifat wajib dan tidak bisa diganggu gugat. 

Namun, hukum persahabatan ternyata lebih kuat daripada hukum tertulis. Jam 06.00, hanya ada empat orang yang berdiri mematung di titik kumpul. John, sosok yang paling semangat saat perencanaan, justru menghilang tanpa kabar. Teleponnya hanya memberikan nada sambung yang menjengkelkan. Baru pada pukul 07.00, ia muncul dengan langkah santai dan wajah tanpa dosa, seolah-olah jam di tangannya menggunakan zona waktu yang berbeda dari kami.

Sorry guys, Kopi pagi tadi rasanya terlalu nikmat untuk ditinggalkan,” katanya enteng. Kami hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa keterlambatan ini akan menggeser seluruh jadwal yang sudah disusun presisi.

Drama sesungguhnya dimulai saat kami memasuki halte BRT. Suasana sangat kacau orang-orang berebut naik seperti sedang mengevakuasi diri dari bencana. Begitu pintu bus terbuka, saya terdorong masuk oleh arus penumpang. Saat saya menoleh ke belakang, saya melihat pemandangan yang menyedihkan John dan Bening masih berdiri di luar, terjepit di antara kerumunan dengan wajah yang tampak sangat bingung. 

Perlu diketahui, bagi John dan Bening, BRT adalah makhluk asing. Ini adalah pengalaman pertama mereka menggunakan transportasi publik di Semarang, dan mereka sangat bergantung pada saya sebagai pemandu wisata dadakan. Pintu bus tertutup dengan suara mesin yang tajam, memisahkan kami. Bus mulai melaju, dan saya hanya bisa melihat wajah panik mereka menjauh dari balik kaca yang berdebu. Saya segera merogoh ponsel, mengubah grup WhatsApp menjadi pusat komando darurat. 

“John, Bening, dengar! Jangan panik. Tunggu bus berikutnya dengan rute yang sama. Kalau naik, pastikan tanya kondekturnya ‘Mangkang lewat?’. Jangan sampai kalian berakhir di arah yang salah!” Sepanjang perjalanan, tangan saya tidak berhenti mengetik instruksi, memastikan dua bayi besar ini tidak tersesat di Semarang.

Setelah akhirnya berhasil melakukan reuni di halte transit, perjalanan kami berlanjut menuju Kendal. Bus BRT yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi di jalur Pantura yang terkenal garang. Angin kencang menerpa kaca bus, dan mesin meraung keras. Tiba-tiba, seorang pengendara motor dengan gaya berkendara sembrono memotong jalur bus tanpa memberi aba-aba. “Citttttt!”

Sopir bus menginjak rem sekuat tenaga. Tubuh kami terlempar ke depan, saling bertubrukan satu sama lain. Suara ban yang bergesekan dengan aspal menciptakan kepulan asap tipis dan bau karet terbakar yang menyengat. Nyaris saja bus itu melumat si pemotor. Bukannya meminta maaf, si pemotor justru berhenti dan turun dengan gestur menantang. Sopir bus, yang emosinya sudah di puncak kepala karena panasnya cuaca, langsung melompat turun. Di tengah panas terik Pantura, di bawah tatapan ribuan kendaraan lain, kedua pria itu berdiri berhadapan, dada membusung, dan kata-kata kasar mulai berhamburan. Mereka hampir saja gelut atau baku hantam jika tidak segera dilerai oleh kondektur dan warga sekitar. Kami di dalam bus hanya bisa menonton dengan jantung yang berdegup kencang, menyadari bahwa nyawa kami baru saja dipertaruhkan hanya karena satu ego yang tidak terkendali.

Sampai di kawasan Balai Kota untuk transit terakhir sebelum ke arah Kendal, sebuah masalah baru muncul. Moses, teman kami yang lain, tiba-tiba berkeringat dingin. Wajahnya pucat dan ia memegangi perutnya dengan sangat erat.

“Aku tidak bisa menahannya lagi. Ini darurat tingkat nasional,” bisiknya lirih.

Masalahnya, toilet umum di sekitar halte tampak kurang memadai di mata Moses. Ia yang memiliki standar kebersihan yang tinggi, bersikeras bahwa ia hanya bisa menuntaskan urusannya di toilet mall. Maka terjadilah sebuah anomali perjalanan: kami yang seharusnya menuju masjid agung di Kendal, justru harus terdampar di sebuah mal mewah di Semarang hanya untuk menunggu Moses menyelesaikan “panggilan alamnya”. Kami duduk di lantai mall, di depan deretan toko pakaian mahal, sementara waktu terus merangkak menuju siang.

Setelah semua badai tersebut, kami akhirnya sampai di Masjid Agung Kendal. Keindahan arsitekturnya benar-benar mengobati rasa lelah. Kami menyucikan diri dengan air wudu yang dingin, seolah-olah membasuh semua kekesalan akibat John yang telat, sopir yang hampir baku hantam, dan perut Moses yang bermasalah. Kami duduk diam di dalam masjid, menikmati ketenangan yang sangat kontras dengan keributan di jalanan tadi. Namun, kedamaian itu hanyalah sebuah ketenangan sebelum badai berikutnya datang.

Saat sore hari tiba dan kami dalam perjalanan pulang ke arah UNNES, musibah terakhir menyerang. Di dalam bus yang penuh sesak dan berdesak-desakan dengan penumpang yang lelah bekerja, saya merasa ada yang aneh. Saat kami turun di dekat area kampus dan saya berniat mengeluarkan uang untuk membeli air minum, tangan saya meraba kantong celana. Kosong. Dingin. Hampa. Seluruh isi dunia seakan runtuh. Bayangan kehilangan kartu ATM, KTP, dan sisa uang saku bulan ini membuat saya lemas. Saya yakin sekali saya telah menjadi korban pencopetan di dalam bus yang sesak tadi. Teman-teman saya langsung sibuk, Moses memeriksa tasnya, Bening mencoba menelepon nomor siapa pun yang mungkin membantu, sementara John hanya bisa menatap saya dengan rasa iba yang mendalam. Saya pulang ke kos dengan perasaan hancur, meratapi nasib yang begitu sial sepanjang hari ini. 

Namun, begitu saya membuka pintu kamar kos yang sedikit berderit, mata saya tertuju pada satu benda yang terletak sangat tenang di atas meja belajar, tepat di samping tumpukan buku kuliah. Sebuah dompet cokelat. Dompet saya. Saya terpaku. Di dalam dompet itu, uangnya masih utuh, kartu-kartunya masih lengkap. Ternyata, akibat terburu-buru mengejar John yang telat di pagi hari, saya sama sekali tidak membawa dompet itu keluar dari kamar. Semua drama “kecopetan” yang saya alami, kepanikan yang saya rasakan, dan rasa sedih yang mendalam di perjalanan pulang tadi adalah murni kesalahan memori saya sendiri. Saya telah menjadi korban dari pikiran saya sendiri yang terlalu sibuk menyalahkan keadaan, padahal masalah utamanya ada pada keteledoran saya sendiri.(*)