Keseruan di Pondok Kopi Banaran

Oleh Dzaky Putra Pangestu

Pada pagi hari yang cerah di hari Sabtu waktu itu, burung berkicauan, air sungai kota menciptakan suara gemercik syahdu di pagi hari, dan matahari terik menyinari Lawang Sewu yang tinggi nan megah itu. Di sebuah sekolah menengah atas yang berjarak 1 km dari sana terdapat 12 buah truk tertutup milik polisi yang berbaris rapi di depan pos Satpam untuk menunggu para murid keluar dari sekolah. Bukan karena para murid menjadi incaran polisi atau narapidana, tetapi para murid akan berangkat ke tempat yang didambakan sejak seminggu yang lalu, Pondok Kopi Banaran. Para siswa yang berpakaian olahraga berwarna merah gelap duduk bersila di lapangan sambil mendengarkan arahan yang diberikan oleh kepala sekolah. Ada yang sibuk membawa tikar, ada yang sibuk membawa bantal dan guling, ada juga yang sibuk membawa banyak makanan untuk dimakan di perjalanan nanti.

Matahari di ibu kota Jawa Tengah yang terkenal sangat panas itu membakar kepala, punggung, dan leher para murid. Banyak murid mengeluh kepanasan dan tidak tahan duduk berlama-lama di sana lagi. Ada yang menutupi kepalanya dengan jaket, ada yang berteduh menggunakan kardus, dan ada juga yang mencuri kesempatan untuk duduk di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Kepala sekolah pun tersadar dan terdiam sejenak dari ceramahnya. Dia mulai menyadari bahwa banyak anak muridnya yang mengeluh kepanasan dan kegerahan. Dia pun mengarahkan anak muridnya untuk berdiri dan berbaris berjalan ke arah truk polisi yang sudah menunggu di depan sekolah. Para murid pun langsung bersemangat dan berdiri untuk berlari ke arah truk yang ada di depan sekolah. Barisan pun sudah tidak berbentuk barisan lagi. Ada yang berlari karena takut tidak mendapatkan tempat duduk; ada juga yang tidak berlari karena membawa terlalu banyak barang, yaitu aku.

Para murid pun sudah berbaris di belakang truk yang bertuliskan polisi tersebut. Beberapa anak berdebat dengan temannya karena berebut tempat duduk. Ada juga yang mengejek temannya karena dia tidak mendapat tempat duduk. Aku yang baru sampai karena terlalu banyak membawa barang pun terengah-engah dan kecewa karena tempat duduk sudah dipenuhi oleh para manusia berbalut kain merah itu. Aku pun memohon kepada temanku untuk berbagi tempat duduk denganku karena banyak sekali barang yang aku bawa. Pemandu perjalanan pun menyuruh 6 orang yang tidak mendapatkan tempat duduk untuk duduk di pangkuan temannya. Aku terdiam. Mataku terbelalak. Badanku lemas. Mukaku memerah karena kecewa dan marah, menyalahkanku karena aku tidak berjalan dengan cepat. “Hei ayo naik! Kok diam?” bentak pemandu yang sedang dikejar waktu. Aku pun naik ke truk dengan perasaan terpaksa. Walaupun ada perasaan tidak sabar, aku tetap tidak menerima jika harus duduk di pangkuan temanku.

Aku pun naik sambil memandang sekitar, berharap ada tempat kosong yang bisa aku duduki. “Nah, itu kosong, tempat siapa?” tanyaku kepada seorang teman yang duduk di sebelah tempat kosong itu. “Ini tempat si Dwi. Dia lagi di kamar mandi,” ujarnya. Mukaku yang semula sumringah menjadi kecewa dan kehilangan harapan, berharap ada yang mau berbagi tempat duduk denganku. “Yaudah gapapa, sini aja duduk sini,” ujar Tengku sambil menunjuk space kosong yang ada di bawahnya. Tengku adalah salah satu teman dekatku di kelas. Dia duduk sebangku denganku walaupun biasanya dia minta untuk pindah tempat duduk ke sebelah temannya yang lain. “Aduh, yaudah deh,” ujarku dengan rasa kecewa harus duduk di dasar truk dan bukan di tempat duduk. Walaupun harus duduk di bawah kursi, setidaknya aku duduk di dekat Tengku karena dia yang paling dekat denganku.

Truk bertuliskan polisi itu mulai bergetar, tanda sopir sudah menyalakan mesin; pemandu perjalanan mulai menutup bak belakang dan masuk ke kabin depan. Aku dan teman-teman sekelasku memulai doa untuk mengawali perjalanan yang kurang lebih sekitar 30 menit ini. Kita berdoa dan bersorak gembira karena hal yang ditunggu-tunggu dari seminggu yang lalu sudah tiba. Truk pun mulai berjalan. Para murid saling berpegangan dan menjaga keseimbangan. Truk berbelok ke jalan khusus roda empat. Jalan halus dan lebar membuat para siswa tidak khawatir akan guncangan yang disebabkan oleh kerusakan di jalan. Pemandangan kanan-kiri didominasi oleh sawah dan terdapat Gunung Ungaran di belakangnya. Mobil-mobil menyalip dari sebelah kanan truk tanda truk melaju dengan kecepatan normal. Di dalam bak tertutup itu hening; tak ada suara selain suara angin kencang yang masuk ke dalam bak. Dua orang murid perempuan dan laki-laki, Alya dan Allessandro, mulai mencairkan suasana di dalam bak tertutup itu. Allesandro mengeluarkan gitar mininya dan Alya mulai menyenandungkan suaranya.

Senar gitar mulai dipetik. Suasana berubah menjadi hening. Tak ada suara selain suara angin dan senar gitar milik Allesandro. “Kau begitu sempurna,” kalimat pendek bernada keluar dari bibir Alya. “Di mataku kau begitu indah,” dilanjutkan oleh semua murid di dalam bak tertutup itu dengan perasaan gembira dan tenang. Semua bernyanyi dengan sangat menghayati lirik lagu yang dinyanyikan, ada yang bersender ke pundak temannya, ada juga yang meletakkan kepalanya ke tas yang sedang dipeluknya, dan ada juga yang bernyanyi sambil bertepuk tangan ringan. Suasananya syahdu dingin angin perbukitan yang kita lewati membuat suasananya benar-benar mustahil untuk dilupakan. “Sempurna…” kata terakhir di lirik itu benar-benar membuat hatiku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan di bangku sekolah sebelumnya.

Setelah 30 menit, truk bertuliskan polisi itu mulai berbelok ke jalan yang lebih sempit dengan pepohonan rindang di kanan-kirinya. Para murid yang tadinya ceria bernyanyi bersama mulai lelah dan mengantuk karena bosan, dan suasana juga mendukung untuk membuat para siswa mengantuk. Angin dingin. Di kiri hanya ada hutan dan sawah, dan suasana hening karena semua lelah. Truk mulai melewati kebun kopi yang membentang sepanjang jalan yang hanya muat untuk satu truk itu, tanda bahwa dataran tinggi berada di sana. Truk berhenti di lapangan luas yang beralaskan rumput hijau. Kebun kopi yang sangat luas mengelilingi lapangan, dan sebuah panggung tinggi berdiri tegak di tengah lapangan dengan seorang MC yang berdiri di atasnya. Semua murid turun satu per satu dari truk masing-masing. “Selamat datang di SMA Negeri 6 di Pondok Kopi Banaran.” Suara MC yang lantang membuat semua murid yang baru datang mengalihkan perhatian ke arah sumber suara yang berada di panggung tengah lapangan itu.

Murid-murid yang baru datang diarahkan untuk segera berbaris di lapangan. Guru mewajibkan murid membuat barisan dengan teman yang berbeda kelas agar dapat kenal satu sama lain. Aku, Tengku, Melano, dan Habibie saling bertatapan seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kami semua adalah teman sekelas yang bisa dibilang cukup dekat satu sama lain. Sebelum berbaris, kami saling mendekat dan berbisik menyusun rencana agar kami bisa berbaris satu barisan, karena barisan ini yang menentukan siapa saja teman yang bisa satu tenda dengan kami. Kami berencana untuk segera berbaris tanpa mengobrol satu sama lain agar guru tidak tahu bahwa kami saling mengenal. Kami berbaris dengan rapi menjalar ke belakang tanpa tahu bahwa di belakang masih ada 2 tempat yang harus diisi tanpa boleh kosong. Kami panik, bingung, tidak tahu harus mengajak siapa agar bisa berbaris dan tinggal satu tenda dengan kami untuk 2 hari ke depan. Kami tidak ingin tinggal dengan orang yang tidak kenal dengan kami karena takut kami akan canggung dengan mereka yang tidak kenal dengan kami.

Di sisi lain, 2 orang murid sedang kebingungan mencari kelompok yang mau menerima mereka. Karena mereka berdua datang paling akhir, agak sulit menemukan sisa kelompok yang mau menerima mereka. Melano tersadar bahwa yang sedang kebingungan mencari kelompok tersebut adalah salah satu teman kami di kelas, yaitu Asha dan Prata. Melano langsung menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk segera bergabung dengan kelompok kami agar tidak kedahuluan oleh orang yang tidak kami kenal. Asha dan Prata pun segera berlari mencari barisan kelompok kami dan segera mengisi tempat yang kosong agar tidak diisi oleh siswa pilihan guru. Mereka pun akhirnya berhasil mengisi tempat kosong di barisan kelompok kami dan menyapa kami satu per satu. Kami berenam memang sudah kenal dari kelas 10 dulu karena kami memang anak satu kelas. Saat sudah mendapatkan barisan semua, guru mengarahkan murid-murid untuk berjalan beraturan sesuai nomor kelompok. Kita mendapatkan nomor kelompok 12. Nomor kelompok menentukan tenda mana yang akan kami dapatkan dengan tujuan agar para murid tidak saling berebut.

Kami, kelompok 12, segera berjalan menuju tenda yang sudah dipilihkan guru untuk kami. Kami berenam segera menaruh barang-barang kami di tenda dan segera kembali ke lapangan untuk berbaris kembali. Kami berbaris di lapangan karena akan melaksanakan outbound dan bermain games yang sudah disiapkan oleh guru. Kami berbaris dan berjalan sesuai kelompok untuk segera bermain game yang sudah disiapkan. Game yang disiapkan adalah game berkelompok yang akan bersaing dengan kelompok lainnya. Kelompok kami sampai di tempat yang sudah disiapkan: 16 buah ban karet yang tersusun berjajar 2 baris. Di sana terdapat seorang guru yang sudah menunggu kedatangan para siswa yang siap mengarahkan dan membimbing para murid untuk melaksanakan game. Guru menjelaskan lomba dan petunjuk teknis lomba yang akan dilakukan oleh kelompok kami. Kelompok kami akan berlomba melawan Kelompok 6. Kami tersadar bahwa Kelompok 6 adalah anak-anak dari ekstrakurikuler basket dengan badan tinggi dan atletis. Kami terkejut sejenak karena kami sudah merasa pesimis terlebih dahulu karena penampilan kelompok 6 sangat atletis dan gagah. Guru mengajarkan ke murid bahwa kami harus menggunakan karung goni dan melompat dari satu ban ke satu ban yang lain, kelompok tercepat akan menang dan dapat maju ke kelompok selanjutnya

Saat itu, kelompok kami sudah menyiapkan mental untuk bersaing dalam lomba lompat karung ban ini. Kita berdiskusi agar dapat bersaing dengan kompak. Guru pun meniup peluit tanda bahwa lomba sudah dimulai. Habibie memulai perlombaan dengan 5 anak; sisanya berbaris di belakangnya menunggu giliran untuk lompat. Habibie lompat secepat mungkin yang dia bisa. Ban demi ban dia lompati, dan hal yang membuat aku terkejut adalah bahwa Habibie bisa menyelesaikan lompatan itu lebih cepat dari kelompok lawan. Tengku melanjutkan lompatan Habibie, ban demi ban dia lompati dengan santai, walaupun pelan tapi pasti, di pertengahan jalan dia agak tersandung sedikit dan untungnya dia tidak jatuh. Lompatan selanjutnya dilanjutkan oleh Asha. Dia lompat dengan sangat hati-hati karena badan Asha memang agak besar, yang membuat dia berjalan saja sudah susah, apalagi untuk melompat dengan karung goni. Sepertinya dia tidak sanggup. Di pertengahan jalan, Asha terlihat tersandung oleh ban yang sedang dia lompati. Dia terjatuh. Namun, ternyata Asha tidak putus asa dan tetap melanjutkan lompatannya. Asha pun menyelesaikan lompatan dengan sangat terengah-engah. Lompatan selanjutnya dilanjutkan oleh Prata, tapi saat Prata hendak  melompat, ternyata kelompok lawan sudah bersorak merayakan kemenangan. “Yahhh kita kalah…” ucap Melano dengan nada kecewa. Ternyata kelompok kita benar-benar kalah dan tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya untuk bersaing dengan kelompok lain. Walaupun kita kalah, kita masih senang dan gembira karena kita menganggap bahwa saat Asha terjatuh itu adalah hal yang cukup lucu dan menggemaskan. Kita sambil tertawa kegirangan berjalan dan diarahkan guru untuk segera ke tempat di mana kita bisa makan siang.

Kita makan siang bersama di satu meja. Tempat makan saat itu masih cukup sepi , hanya ada beberapa orang saja yang kalah dalam pertandingan tadi. Kita makan dengan sangat lahap, tanda bahwa kita kelaparan. Saat itu, hari sudah sore menjelang malam. Kita menunggu teman-teman yang lain yang sedang bertanding hampir sekitar 4 jam. Meskipun begitu, kami tidak merasakan kebosanan atau kesuntukan sama sekali karena kami berenam sangat menikmati waktu kami bercerita dan  mengobrol. Tak terasa hari sudah semakin gelap. Guru mengarahkan murid agar bisa segera berkumpul dan membuat lingkaran mengelilingi panggung, karena setiap kelas akan menunjukkan pentas seni, bisa menyanyi, menari, atau yang lainnya. Di sana suasananya cukup gelap, tapi tetap seru karena pertunjukan masing-masing kelas cukup unik. Ada yang bernyanyi lagu dangdut, ada juga yang membuat tarian dengan koreo yang bukan main-main bagusnya, dan masih banyak lagi. Menurutku ini adalah cerita terbaik semenjak aku di bangku SMA. Bukan tentang romansa ataupun asmara, tapi pertemanan bagiku adalah hal yang tiada tara dibandingkan dengan kisah asmara ataupun romansa.(*)