Flamboyan Kosong Dua

Tahun 2007 lalu, aku dan keluarga kecilku mengunjungi calon rumah kami yang baru saja selesai dibangun di sebuah perumahan baru bernama Graha Sedayu Sejahtera. Kami melihat-lihat sambil membereskan rumah itu sebelum akhirnya benar-benar pindah ke sana. Ingatanku agak samar mengenai hal itu. Kala itu, jarak antar rumah masih sangat berjauhan. Bahkan, di gang rumah kami baru ada 3 rumah yang berdiri sempurna. Belum banyak tanda-tanda kehidupan. Rumah-rumah masih tertutup rapat dengan handle pintu berplastik dan belum berpenghuni. Suasana masih gersang dan berdebu karena pembangunan masih terus berlanjut di segala sisi.

Di arah timur laut, aku melihat ada sebuah rumah dua lantai yang cukup mencolok keberadaannya. Rumah itu terlihat lebih besar daripada bangunan lain di sekitarnya, tampak gagah dan kokoh dengan pagar besi setinggi dua meter yang tertutup rapat. Aku yang kala itu baru berusia dua tahun, dengan penuh rasa penasaran menghampiri rumah itu. Ternyata rumah itu berada di gang buntu yang ujungnya adalah jurang yang cukup dalam. Entah apa yang menarikku kala itu, aku terus berjalan mendekat ke arah jurang. Ibuku yang melihatku dari kejauhan seketika berteriak, “Adek!” Suara itu menghentikan langkahku untuk tidak berjalan lebih jauh lagi. Ayahku menggendongku dan kami kembali ke rumah kami di gang seberang. Tak lama setelahnya, kami kembali ke rumah nenekku, tempat dimana kami tinggal bersama sebelumnya.

Sepanjang perjalanan, ayah dan ibu berdiskusi. Kira-kira kapan waktu yang tepat untuk kami pindah ke rumah itu. Bagaimanapun, tinggal di rumah milik sendiri adalah impian mereka. Namun, akan sulit jika tinggal tanpa tetangga. Apalagi, ayahku masih harus bekerja di luar kota saat itu sehingga akan sering meninggalkan rumah. Setelah berpikir cukup lama, ibuku tidak keberatan akan hal itu. Kebetulan rumah kami juga berdekatan dengan pos jaga para mandor proyek sehingga cukup memberi kesan “ramai”, setidaknya di jam-jam kerja. Di gang bawah juga sudah ada beberapa penghuni dan warung, walaupun jaraknya cukup jauh.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya kami mengunjungi rumah kami lagi, namun kali ini bersama dengan setumpuk perabotan rumah tangga karena kami akan pindah pada hari itu. Ayah dan ibuku sibuk mengangkut barang, sementara aku hanya duduk manis bersama boneka kesayanganku yang aku namai “Sarah”. Aku dan Sarah berbincang santai sambil minum teh dari cangkir plastik yang sebenarnya kosong, berlagak layaknya sosialita di teras. Kami tidak mempedulikan orang dewasa yang sedari tadi berlalu-lalang melangkahi kami sambil membawa perabotan besar.

Di hari yang sama, tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan terparkir di depan rumah kami. Ternyata, pemilik rumah seberang. Kami berkenalan dan mereka bilang akan segera pindah juga. Senangnya kami mengetahui bahwa akan segera memiliki tetangga dekat. Mereka juga adalah keluarga kecil dengan 1 anak laki laki dan 1 anak perempuan yang usianya berada di atasku.

“Kamu namanya siapa, Dek?” tanya si anak perempuan kepadaku.

“Mimin,” jawabku singkat dengan nada imut sambil menggendong Sarah, bonekaku.

“Aku Jumi. Boleh ga aku main ke rumahmu?” timpal anak berusia 6 tahun itu dengan semangat.

Aku hanya mengangguk karena aku adalah anak yang pemalu. 

Tak lama, Kak Jumi dan keluarganya pergi lagi. Mereka hanya mampir sebentar karena ada urusan lain. Kak Jumi melambaikan tangan kepadaku, sambil berteriak “Sampai ketemu lagi, ya!” dengan wajah ekspresifnya yang membuat mataku berbinar. Kak Jumi anak yang aktif, tidak sepertiku. Ia bisa langsung akrab denganku dalam waktu singkat. Bahkan kami sempat minum teh bersama Sarah. Aku senang sekali memiliki teman baru yang seru seperti Kak Jumi.

Satu tahun berlalu, lingkungan mulai ramai dan rumah-rumah kosong mulai terisi. Di hari ulang tahunku, ibu mengundang anak-anak tetangga untuk merayakan ulang tahun bersama. Jumlahnya tidak banyak, memang. Dari seluruh penduduk yang ada, hanya ada 7 anak-anak. Kami mulai mengenal satu sama lain mulai saat itu. Ada 3 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Namanya Sapno, Ayus, Idoy, Hailey, Olivia, Kendall, dan Kak Jumi yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. 

Kini sudah lima tahun sejak kami berteman. Usiaku delapan tahun. Kami masih sama, bermain setiap hari, entah bermain di luar atau hanya menonton TV bersama di rumah Kendall. Kendall adalah anak tunggal yang ditinggal orang tuanya bekerja sehingga Ia sering kesepian. Hanya ada asisten rumah tangga yang menemaninya sepanjang hari. Akan sangat menyenangkan baginya jika kami beramai-ramai main ke rumahnya. Kami hanya menonton kartun bersama, namun rasanya sangat mengasyikkan sampai-sampai enggan untuk pulang. Namun, ketika waktu tidur siang telah tiba, aku harus tetap pulang. Jika tidak, ibu tidak akan mengizinkanku untuk main lagi.

Suatu pagi di hari Minggu, aku sudah mandi dan hanya duduk manis menonton TV bersama Sarah. Sebenarnya aku menunggu ada yang menghampiriku untuk bermain. Tak lama kemudian…

“Dek Min, ayo maaaiiiiiinnn~” teriak Kak Jumi dengan nada naik turun yang lambat.

Aku langsung menyambar remot TV dan menekan tombol off.

 “Bu, adek main dulu, yaa!” aku berpamitan kepada ibu yang sedang memasak di dapur. 

Tak butuh jawaban, aku langsung lari keluar, memakai sandalku kemudian bermain dengan teman-teman. Aku dan Kak Jumi berjalan bersama menuju pos mandor proyek yang menjadi markas kami setiap hari Minggu karena di hari itu para mandor tidak ada di pos. Di depannya ada pohon kersen yang tumbuh kokoh menjulang dengan ranting yang kuat. Ranting itu sering kami jadikan tempat nongkrong sambil memetik dan memakan buahnya. Area main kami hanya di sekitar sana.

Di sebelah timur markas, ada gang buntu kosong yang kami jadikan tempat bermain juga. Kami bisa main dengan leluasa di sana karena tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang. Gang itu bernama Gang Flamboyan. Di Gang Flamboyan Nomor 02, berdiri rumah dua lantai yang belum pernah terlihat penghuninya sejak awal berdiri. Kami menyebutnya sebagai Rumah Kosong atau Flamboyan Kosong Dua. Aku selalu penasaran dengan rumah itu sejak awal melihatnya. “Kemana pemiliknya?”, “Mengapa rumah sebesar itu dibiarkan kosong?” Pertanyaan itu yang muncul di benakku setiap melihat bangunan besar itu. Seperti nama gangnya, Flamboyan, rumah itu memang terlihat gagah besar dan mencolok bak bunga flamboyan.

“Bikin gulali, yuk!” celetuk Sapno dari atas pohon sambil mengunyah buah kersen.

“Emang bisa, Sap?” tanya Hailey.

“Bisa, lah. Tapi cari gypsum sama bata dulu,” jawabnya.

“Aku sama Sapno udah nyoba kemarin, tinggal bakar permen aja, haha,” Ayus menimpali.

“Bahaya ih main api,” kata Kak Jumi. Ia anggota tertua di geng kami.

“Sedikit aja kok, apinya,” jawab Sapno.

Karena kami semua penasaran, akhirnya kami menuruti ide Sapno untuk membuat gulali dari permen yang sebetulnya gulali juga. Intinya, kami hanya ingin bermain api. Kami berpindah tempat ke Gang Flamboyan, tepat di depan rumah nomor 02. Bangunannya yang tinggi dapat melindungi kami dari sinar matahari. Cukup mudah menemukan serpihan gypsum dan bata di sini. Sapno mencari lembaran gypsum yang paling besar. Idoy dan Ayus menata bata dan menyiapkan perapian. Sisanya, anggota perempuan membeli permen dengan berbagai rasa di warung.

Lembaran gypsum dipasang di atas susunan bata yang di tengahnya sudah ada api yang menyala. Kami memilih permen kami masing-masing kemudian meletakkannya di atas gypsum. Permen pun meleleh dan kami dapat mengubah bentuknya sesuai keinginan dengan tusuk gigi. Aku tidak tahu apakah gulali ini aman untuk dimakan, namun tentu saja jawabannya tidak. Gypsum yang dijadikan alas benar-benar penuh debu dan kami tidak tahu zat asing apa saja yang menempel di sama. Kami hanya memainkan lelehan permen untuk bersenang-senang.

Api telah mati, kami mencari ide bermain lainnya. Akhirnya kami bermain petak umpet. Seperti biasa, kami hompimpa terlebih dahulu dan yang kalah harus jaga duluan. Entah mengapa Olivia selalu menjadi langganan orang yang pertama kali jaga. Kami masih di Gang Flamboyan dan pagar rumah nomor 02 dijadikan tempat bersandar bagi si penjaga sambil menutup mata dan berhitung dari satu hingga seratus dengan kecepatan maksimal.

“Tu, wa, ga, pat, ma, nam, ju, pan, lan, luh, wapuluh, gapuluh, patpuluh, mapuluh, nampuluh, jupuluh, panluh, lanluh, seratus!” begitulah cara Olivia berhitung.

“Curaaaang,” teriak kami sambil berlari mencari tempat persembunyian.

Kendall yang tidak pandai bersembunyi langsung ketahuan oleh Olivia.

“Kendall pong,” teriak Olivia sambil menempelkan tangannya ke pagar.

Kendall hanya bisa pasrah sambil berjalan ke tempat jaga. Sambil berjalan, mata Kendall melirik ke arah persembunyian teman lain, memberi isyarat kepada Olivia agar cepat menemukan temannya. Tak butuh waktu lama, satu persatu berhasil ketahuan oleh Olivia. Namun, rasanya seperti ada yang kurang.

“Loh Sapno mana?” tanya Idoy.

“Bukannya tadi bareng kamu, Yus?” tanya Hailey kepada Ayus.

“Ah engga tuh,” jawab Ayus.

“Pulang kali ya, tadi bilang katanya kebelet gitu,” Kak Jumi menerka.

“Ah, udahan aja yuk mainnya, lanjut nanti sore aja, udah panas ni,” usul Hailey.

Kami semua setuju dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Baru saja kami berpencar, Sapno kembali dengan wajahnya yang cengengesan.

“Loh kok bubar?” tanya Sapno tanpa dosa.

“Capek ah, lanjut sore aja,” kata Kendall.

“Yah, yaudah deh,”

Kami pun pulang ke rumah masing-masing. 

Sore harinya, sesuai perjanjian, kami kembali lagi ke Gang Flamboyan untuk bermain. Banyaknya sisa gypsum yang kami gunakan untuk bermain tadi pagi memberi kami ide untuk bermain engklek. Gypsum kami pecah menjadi kepingan-kepingan untuk digunakan sebagai gaco. Aku dan Kak Jumi menggambar pola engklek di paving Gang Flamboyan menggunakan pecahan bata. Kali ini kami memilih pola gunung. Pola gunung adalah pola favorit kami di antara pola lainnya, yaitu kitiran dan pesawat. Kak Jumi paling hebat dalam permainan ini. Ia selalu yang menjadi pemilik rumah terbanyak di gunung pada permainan ini.

Waktu di sore hari memang terasa singkat. Padahal, semakin lama permainan terasa semakin seru dan kami semakin ingin melanjutkannya. Langit mulai memerah, gerombolan burung di langit semakin banyak yang melintas, dan hembusan angin terasa lebih dingin, bertiup menembus lubang baju dan mengenai kulit yang bercucuran keringat. Kami mengabaikan semuanya. Ibuku sudah memanggilku dari rumah yang jaraknya hanya beberapa meter di arah barat daya sana. Namun aku pantang pulang sebelum teman-temanku pulang juga.

Kali ini permainan kami sulit dihentikan karena Sapno bersaing sengit dengan Kak Jumi. Padahal biasanya Sapno paling ogah bermain engklek. Tak lama, Icha, adik perempuan Olivia yang berusia dua tahun datang bersama mamanya untuk menjemput Olivia yang tidak pulang-pulang juga padahal sudah petang begini. Mama Olivia tidak mengatakan apapun, hanya berdiri melihat Olivia. Ia terkenal galak sehingga kami langsung bersiap pulang saat itu juga, mengambil sandal masing-masing yang kami tumpuk di depan pagar rumah nomor 02.

“Ih ada badut, ada badut!” celetuk Icha sambil menunjuk ke arah lantai atas rumah kosong itu dengan wajah datar.

Kami yang sedang memakai sandal tiba-tiba mematung sepersekian detik, kemudian berpandangan satu sama lain dan berakhir lari terbirit-birit ke rumah masing-masing. Tentu saja kami ketakutan. Badut apanya? Jelas-jelas rumah itu kosong tak berpenghuni sejak awal. Entah makhluk seram apa yang Icha lihat. Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi bermain hingga petang. Ternyata, rumah kosong itu tidak benar-benar kosong. Penghuninya ada, namun tidak semua orang bisa melihatnya. Untungnya, makhluk itu tidak pernah mengganggu kami selama kami bermain di sana.

Kini, aku dan teman-temanku sudah beranjak dewasa. Kami memiliki kesibukan masing-masing yang membuat kami perlahan saling berjauhan. Gang Flamboyan bukan tempat bermain kami lagi. Cara berteman kami sudah berbeda. Kami hanya berteman di sosial media saja, walaupun hanya saling mengikuti tanpa saling peduli lagi. Aku hanya sebatas tahu bahwa beberapa dari kami kuliah di luar kota dan beberapa lainnya sudah ada yang bekerja.

Rumah di Gang Flamboyan Nomor 02 itu, aku sudah lama tidak memperhatikannya. Bangunan itu adalah saksi bisu pertemanan masa kecilku yang bahagia. Hingga sekarang, rumah itu masih berdiri kokoh dan kosong seperti dulu. Seperti namanya, Flamboyan Kosong Dua. Memiliki kesan gagah mencolok, rumah kosong dengan dua lantai.(*)

Catatan: 

Nama karakter yang digunakan adalah nama samaran.

Iesa Anin Rahmajani