Oleh Karisma Saifi Dina
Aku selalu percaya setiap kota punya caranya sendiri untuk menyimpan kenangan. Dan bagiku, semua itu tertata rapi di sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa yang dikenal dengan horornya Alas Roban, yaitu kota Batang. Di sanalah aku dilahirkan dan tumbuh menjadi gadis yang menyukai petualangan.
Kota itu bukan sekadar tempat, melainkan rumah bagi segala cerita yang pernah kujalani. Di kota ini aku bertemu mereka, orang-orang yang membuat masa sekolahku terasa lebih hidup dan penuh warna. Anin, Dito, dan Leon. Kami sudah bersama sejak kecil, tinggal di desa yang sama, bermain di bawah langit yang sama, dan tumbuh berdampingan, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan kami.
Hari-hari kami dipenuhi petualangan sederhana dengan mengandalkan sepeda motor dan tangki penuh. Kami menjelajahi kota kecil ini. Terkadang kami bersantai menghabiskan waktu di Pantai Ujungnegoro, menikmati medan hangat dan segarnya air kelapa muda sambil melihat laut dari kejauhan.
Ada kalanya kami melarikan diri ke dataran tinggi Batang, menuju kebun teh Pagilaran, tempat di mana udara terasa lebih jernih dan waktu seolah berjalan lebih lambat. Di tengah-tengah hamparan daun teh, kami mengabadikan tawa dalam foto-foto sederhana, saling bercerita satu sama lain lalu tertawa tanpa alasan yang jelas.
Bunyi bel pulang sekolah menggema di seluruh sudut sekolah. Siswa-siswi bersiap untuk pulang ke rumah. Beda halnya dengan aku dan teman-temanku, layaknya anak kelas 12 pada umumnya, kami sudah menyusun rencana untuk masa depan kami masing-masing. Kami disibukkan sekolah, ujian, bahkan mengikuti Les untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, kali ini berbeda: kami berencana untuk pergi bermain ke pantai.
“Eh, pulang sekolah ke pantai yuk, bosan belajar mulu!”
Suara Anin selalu jadi awal dari petualangan kecil kami. Kami semua mengangguk tanda menyetujui. Hari itu, seperti biasa, kami berempat langsung meluncur ke Pantai Ujungnegoro. Tempat favorit kami sejak kelas sepuluh SMA. Dinginnya angin laut menyambut kami. Dito langsung berlari ke arah air sambil teriak,
“Yang terakhir nyampe traktir es teh!”dengan suara tengilnya
“Dih, nggak jelas banget!” balas Anin sambil ikut lari
Aku hanya tertawa kecil, sudah terbiasa melihat kelakuan mereka, sementara Leon berjalan di sampingku. “Capek?” tanyanya singkat.
Aku menggeleng. “Enggak. Justru… pengen waktu kayak gini nggak cepat habis.”
Leon menatap laut sejenak, lalu berkata pelan, “Oke.”
***
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Kami sudah sampai di ujung semester, waktu di mana kami sudah menangis haru melihat pengumuman penerimaan perguruan tinggi. Sore ini kami kembali berkumpul menikmati senja di Pantai Ujungnegoro.
“Aku keterima IPB, bulan depan berangkat ke Bogor,” kata Anin tiba-tiba. Kalimat itu jatuh pelan di antara suara ombak, membuat kami terdiam sesaat.
“Aku juga,” sambung Dito, kali ini dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
Aku tersenyum dengan lebar. “Wah, selamat untuk kalian berdua. Kalian memang ga terpisahkan,” semburat merah jambu tercetak di pipi Anin dengan samar. Senyum Dito yang makin lebar
“Bulan depan, aku juga udah berangkat ke Yogyakarta. Semua mata beralih pada Leon.
“Selamat buat kalian semua, udah berhasil masuk PTN… keren!” Ia tersenyum dengan bangga, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. “Aku tetap di Batang.”
Hening…
“Aku dapat kesempatan kerja di sini,” lanjutnya. “Dan… aku nggak bisa ninggalin keluarga. Aku mengangguk pelan, tapi sebelum sempat berkata apa-apa, Anin tiba-tiba bersuara, sedikit lebih keras daripada biasanya.
“Serius? Kamu nggak mau coba keluar? Lihat dunia lebih luas?”
Leon menatapnya. “Nggak semua orang harus pergi untuk berkembang, Nin.”
Suasana mendadak berubah. Dito yang biasanya santai pun ikut terdiam.
“Aku cuma pikir… kami punya kesempatan yang sama,” kata Anin, kali ini lebih pelan, tapi masih terasa tajam.
“Dan aku cuma milih jalan yang berbeda, bukan nggak mau berkembang,” balas Leon tajam. Aku menatap mereka bergantian. Untuk pertama kalinya, percakapan kami terasa canggung.
“Aku takut,” kataku akhirnya. Mereka menoleh. “Takut bukan cuma karena kami bakal berpisah… tapi karena kami mulai nggak saling ngerti.”
Sunyi kembali jatuh, lebih dalam dari sebelumnya.
Dito menghela napas panjang. “Ya… mungkin kami bakal beda jalan. Cara pikir juga bisa beda.”. “Tapi bukan berarti kami harus jadi jauh,” lanjutnya. Leon menatap laut. Suaranya lebih tenang.
“Kami nggak harus jalan di arah yang sama untuk tetap saling dukung.”Anin terdiam cukup lama. Lalu ia menghela napas. Bahunya sedikit turun.
“Iya… mungkin aku yang terlalu maksa,” katanya pelan. “Maaf, Leon.”
Leon tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Aku juga ngerti kok.” Aku tersenyum melihat mereka. Hangat, meski sempat merasa takut.
Anin lalu berkata, “Yang penting… nanti kami balik lagi ke sini. Cerita tentang jalan masing-masing.”
“Janji?” tanyaku.
“Janji!” Seru kami dengan semangat
Hari kelulusan datang dengan tawa yang tetap riuh. Kami berfoto, saling mencoret seragam, dan kali ini lebih banyak saling menyemangati daripada sekadar bercanda.Waktu berjalan. Kami benar-benar menempuh jalan masing-masing. Jauh, berbeda, dan penuh tantangan. Grup obrolan memang tak seramai dulu, tapi setiap pesan terasa lebih berarti—berisi kabar tentang langkah-langkah kecil menuju mimpi.
Hingga suatu malam saat liburan semester datang, sebuah pesan grup muncul memecah kesunyian grup chat yang sempat kami biarkan menganggur.
“Aku pulang. Kangen Batang. Kumpul yuk?” tulis Anin.
“Ujungnegoro?”balasku cepat.
“Gas!” sahut Dito.
“Aku tunggu,” tulis Leon.
Sore itu, aku kembali berdiri di Pantai Ujungnegoro. Anginnya masih sama, lautnya masih setia. Tapi kali ini, aku datang dengan perasaan yang berbeda, lebih dewasa, lebih mengerti.
Satu per satu mereka datang. Anin, dengan cerita barunya. Dito, dengan semangatnya, dan Leon, dengan ketenangan yang tak pernah berubah. Kami saling menatap sejenak lalu tertawa. Tidak ada lagi kecanggungan. Tidak ada lagi perbedaan yang terasa berat. Yang tersisa hanya rasa bangga.
“Kami berhasil ya,” kata Anin pelan.
“Iya,” jawab Leon.
Kami duduk berdampingan, memandangi matahari yang perlahan tenggelam. Dan di saat itu aku sadar jarak yang terbentang di antara kami bukanlah tanda perpisahan, melainkan bagian dari cara kami belajar memahami satu sama lain.
Kami memang berjalan di arah yang berbeda. Tapi justru di sanalah kami tumbuh. Dan ketika kami kembali, kami bukan lagi sekadar teman lama. Kami adalah versi baru dari diri kami yang tetap memilih untuk saling kembali. (*)