Senja Di Embung Kledung Temanggung

Oleh Sheni Anita Lestari

Temanggung adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang berada di antara dua gunung besar, yaitu Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Di sini, segalanya terasa berjalan lebih pelan. Bukan karena waktu benar-benar melambat, melainkan karena suasananya. Saat kembali ke sini, aku merasa ada sebuah ketenangan yang tidak memaksa, tetapi perlahan menyelimuti, seperti sesuatu yang datang tanpa diminta namun sulit diabaikan.

Ada suatu hari yang sebenar-benarnya tidak jauh berbeda dari hari-hari lainnya. Aku hanya bangun pagi dan menjalankan rutinitasku seperti biasanya, tanpa ada rencana yang benar-benar ingin kulakukan. Tidak ada hal yang benar-benar kutunggu, dan juga tidak ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari rutinitas itu. Sampai akhirnya tiba-tiba ada sebuah notifikasi dari ponselku yang menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk. Saat kubuka, ternyata isi pesan tersebut adalah ajakan sederhana untuk pergi ke embung pada sore hari. Tidak ada kata-kata yang istimewa di dalamnya, tetapi entah mengapa, rasanya cukup untuk membuatku langsung mengiyakan ajakan tersebut. Seperti ada bagian kecil di dalam diriku yang memang ingin pergi, rasanya memang seperti ingin melihat sesuatu di luar hari yang terasa membosankan ini. 

Begitu waktunya tiba, aku bersama dengan tiga temanku akhirnya berangkat menuju embung yang hendak kami tuju, yaitu Embung Kledung. Mereka bertiga adalah teman-teman yang telah lama berjalan bersamaku. Bagiku, mereka bertiga bukan hanya sekadar teman ataupun sahabat, tapi mereka sudah seperti keluarga yang menjadi tempatku kembali, tempatku menaruh lelah, dan tempatku bersandar tanpa perlu banyak kata yang terucap. Bersama mereka, aku tidak perlu menjadi sosok lain. Aku cukup menjadi diriku sendiri, dan itu sudah menghadirkan kenyamanan tersendiri. Ada rasa aman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, namun begitu nyata kurasakan ketika aku berada di dekat mereka.

Motor yang kami kendarai melaju menyusuri jalan yang menanjak, yang diapit oleh hamparan sawah yang terbentang luas di kanan dan kiri. Angin dari arah pegunungan datang tanpa diminta, menyentuh wajahku dengan dingin yang lembut. Aku membiarkannya begitu saja, seolah ingin menyimpan sensasi itu lebih lama dan membiarkannya menetap di ingatan. Di momen seperti itu, hal sederhana seperti angin pun terasa berarti. Di sepanjang perjalanan, percakapan kecil terus mengalir tanpa arah yang jelas. Tidak semua yang dibicarakan terdengar dengan jelas; sebagian hilang karena tertiup angin, sebagian lagi hanya tertangkap setengahnya. Namun, anehnya, hal itu tidak mengurangi rasa kebersamaan yang ada. Sesekali juga tawa muncul begitu saja, tanpa alasan yang benar-benar jelas. Aku pun ikut tertawa, bukan karena sepenuhnya lucu, tetapi karena suasananya memang membuatku ingin tersenyum. Di situ tampak ada kehangatan yang membuat perjalanan itu terasa lebih hidup daripada biasanya. 

Sesampainya di embung, kami memarkirkan motor dan membeli tiket masuk. Lalu kami berjalan pelan menaiki beberapa anak tangga. Langkahku terasa ringan, seolah ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh, menuntutku untuk melihat apa yang sudah menungguku di atas sana. Begitu sampai, pemandangan langsung terbuka luas. Embung itu terbentang tenang, dikelilingi oleh pepohonan dan gunung yang berdiri di kejauhan. Aku sempat terdiam cukup lama. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tetapi karena rasanya memang lebih tepat untuk diam. Beberapa hal terasa lebih utuh jika hanya dilihat dan dirasakan.

Pada saat itu Gunung Sindoro tampak jelas tanpa tertutup awan, berdiri tegas dengan bentuknya yang utuh. Sementara di sisi lain, Gunung Sumbing tidak dapat terlihat jelas karena tertutup oleh awan. Keduanya seperti hadir dengan caranya masing-masing: yang satu terlihat jelas dan yang lainnya seperti sedang bersembunyi, tetapi tetap terasa. Aku memandangnya cukup lama sembari tetap berjalan pelan dan berpikir bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang sering aku pikirkan. Dan di tengah keluasan itu, aku hanyalah bagian kecil yang sedang lewat. 

Kemudian aku berhenti sejenak dan mencoba benar-benar hadir di momen itu. Suasana di sana yang tidak ramai. Pepohonan yang berdiri teduh, angin yang bergerak pelan, dan langit yang masih berwarna biru pucat yang perlahan berubah. Aku menarik napas lebih dalam, membiarkan udara itu memenuhi dada, seolah ingin menyimpan ketenangan itu. Rasanya seperti diberi ruang untuk benar-benar diam sejenak.

Di balik gunung, cahaya mulai menghangat. Ia tidak datang sekaligus, tetapi perlahan menyelinap di antara awan, menciptakan warna-warna lembut yang sulit dijelaskan. Aku memandangnya cukup lama, tanpa merasa bosan, tanpa merasa perlu beralih ke hal lain. Waktu terasa tidak lagi penting di saat seperti itu.  Air embung yang terlihat tenang, dengan gelombang kecil yang disebabkan oleh embusan angin dan ikan-ikan yang hidup di dalam sana. Gelombang kecil yang bergerak pelan di permukaannya itu justru menenangkan. Aku memandangnya dan tanpa sadar, pikiranku ikut melambat, seakan mengikuti ritme air tersebut. Hal-hal yang tadi terasa penuh di kepala perlahan mereda.

Saat itu kami tidak langsung diam di satu tempat. Kami berjalan menyusuri hampir seluruh sudut embung, menikmati pemandangan dari berbagai sisi yang ada. Setiap langkah terasa seperti memberi sudut pandang baru, meskipun tempatnya sama. Sesekali kami juga berhenti untuk memotret pemandangan yang kami lihat. Gambar yang dihasilkan pun bukan hanya untuk disimpan begitu saja, tetapi juga untuk nantinya dijadikan kenangan yang indah bahwa momen itu benar-benar pernah ada. 

Setelah cukup berkeliling, kami duduk di kursi yang ada di tepi embung. Kami bercerita, bersenda gurau dan membahas hal-hal yang sederhana, tetapi hangat saat dibagikan bersama. Aku merasa waktu berjalan pelan di antara tawa-tawa itu. Tawa terus muncul berkali-kali, lalu mereda, lalu muncul lagi. Obrolan mengalir tanpa arah yang pasti, tetapi tidak pernah terasa kosong. Aku sangat menikmati setiap detiknya, tanpa merasa perlu melakukan hal lain. Tidak ada keinginan untuk buru-buru pergi. Di tengah itu semua, ada momen ketika kami sama-sama terdiam. Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Hanya memandang ke arah yang sama, yaitu embung dengan airnya yang tenang itu. Salah satu dari mereka kemudian mengatakan sesuatu dengan pelan, tetapi cukup untuk menggambarkan apa yang kami rasakan. Aku hanya tersenyum kecil karena entah kenapa rasanya memang tidak perlu ditambahkan.

Senja turun perlahan, hampir tanpa terasa. Warna langit berubah dari yang tadinya berwarna biru pucat menjadi kekuningan, lalu jingga yang hangat. Cahaya itu jatuh di permukaan air, bergerak mengikuti alur halus air yang tidak pernah benar-benar diam. Semuanya terasa lembut, tidak mencolok, tetapi justru itulah yang membuatnya indah. Di momen itu, aku merasa waktu benar-benar melambat. Tiadak ada yang perlu dikejar. Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu jauh. Aku hanya duduk, melihat dan merasakan. bagi ku hal seperti itu sudah cukup. 

Lalu pada akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Saat itu langit sudah mulai meredup. Aku menoleh sekali lagi ke arah embung. Airnya masih tenang, pepohonan di sekitarnya tetap bergoyang pelan dan kedua gunung itu masih tetap terlihat berdiri dengan sangat gagah. Ada rasa enggan yang muncul dari diriku. Seolah belum benar-benar siap meninggalkan suasana itu. Namun, aku tahu beberapa hal memang tidak bisa dibawa pulang, hanya bisa disimpan perlahan di dalam ingatan. Yang kuingat dari tempat ini bukan hanya pemandangannya, tetapi juga momen kebersamaan ku bersama teman-teman dan perasaan yang muncul saat berada di sana, yaitu perasaan tenang, hangat dan menyenangkan. 

Di perjalanan pulang kami ditemani oleh angin malam yang mulai terasa dingin serta sisa-sisa tawa yang masih tertinggal. Kemudian tiba-tiba aku menyadari satu hal, yaitu sering kali yang tak pernah direncanakan justru berubah menjadi sesuatu yang layak dikenang dan menyimpan makna yang paling dalam. Rasanya semua itu hadir begitu saja, tanpa perlu dicari atau dipaksa. Dan di kota yang dijuluki sebagai kota tembakau inilah, aku sering menemukan hal-hal yang tak sepenuhnya mampu ku uraikan dengan kata-kata. Sebab di kota inilah, aku dipertemukan dengan ketenangan, kedamaian dan rasa nyaman yang tak pernah kutemukan di kota-kota lain yang pernah kusinggahi sepanjang hidupku.(*)