Oleh Titin Irodat
Aku masih mengingat kenangan itu, saat aku pertama kali melangkahkan kaki di Simpang Lima Gumul, sebuah tempat yang sering kulihat di foto dan media sosial, tetapi terasa begitu berbeda saat aku benar-benar berada di sana. Dari kejauhan, monumen itu tampak megah dengan lampu yang menyoroti bangunan itu, berdiri di tengah pertemuan lima jalan, seolah menjadi pusat denyut kehidupan di Kediri. Langit saat itu cerah dan angin berhembus pelan membawa rasa penasaran yang semakin besar di dalam diriku terhadap bangunan indah ini.
Saat aku semakin mendekat pada bangunan indah ini, detail bangunan itu mulai terlihat jelas. Pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi mengingatkanku pada bangunan klasik Eropa, namun tetap terasa akrab dengan suasana lokal. Ukiran yang mengelilingi bangunan ini menceritakan tentang kesenian, sejarah dan budaya kota Kediri ini. Ada rasa kagum yang perlahan tumbuh, seperti melihat sesuatu yang jauh, kini hadir begitu dekat di depan mataku.
Aku berjalan pelan di sekitar area monumen, menikmati setiap sudut yang terlihat begitu hidup dan indah tentunya. Banyak orang berlalu-lalang, ada yang sekadar berjalan santai, ada yang berfoto, dan ada pula yang duduk menikmati suasana sambil mengobrol ria. Di antara keramaian itu, aku merasa menjadi bagian dari cerita kecil yang tercipta di tempat ini. Tempat yang begitu indah dan penuh kenangan serta cerita kota Kediri pastinya.
Langkah kakiku membawaku mendekati bagian bawah monumen. Dari sana, aku mendongak, mencoba menangkap keseluruhan bentuk bangunan khas itu. Rasanya seperti melihat sesuatu yang tak hanya besar secara fisik, tetapi juga menyimpan makna yang dalam tentang kebanggaan daerah, daerah diri yang khas dan penuh sejarah, tentang identitas, dan tentang waktu yang terus berjalan.
Sore mulai merambat perlahan, dan cahaya matahari berubah menjadi keemasan, menandakan hari mulai malam. Menciptakan pemandangan yang begitu indah dan suasana yang mulai ramai oleh pengunjung. Aku duduk sejenak di salah satu sisi, membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa. Menikmati indahnya pemandangan dari monumen bersejarah ini.
Di sekitarku, suara tawa anak-anak bercampur dengan obrolan hangat para pengunjung. Menciptakan suasana yang terasa ramai tapi tetap hangat. Ada pedagang kecil yang menawarkan makanan ringan. Aroma jajanan itu menyebar di udara yang lembut ini. Semua terasa sederhana, namun justru di situlah keindahannya: kehidupan yang berjalan apa adanya.
Aku sempat mengabadikan beberapa momen lewat kamera ponselku, tetapi aku sadar tidak semua keindahan bisa ditangkap dalam gambar. Ada rasa, suasana, dan ketenangan yang hanya bisa dirasakan langsung, tanpa perantara. Melalui indra mata yang menangkap keindahan secara langsung ini, aku menyimpan setiap kenangan indah dalam memori ingatan.
Ketika langit mulai berubah menjadi jingga kemerahan, suasana di Simpang Lima Gumul justru semakin hidup. Lampu-lampu mulai menyala, menciptakan nuansa yang berbeda. Suasana yang jauh lebih hangat, lebih romantis. Monumen itu kini terlihat seperti penjaga malam yang diam, namun penuh wibawa karena bangunannya yang berdiri penuh keagungan.
Aku berjalan lagi, kali ini lebih pelan, seolah tidak ingin melewatkan satu pun detik dari pengalaman ini. Angin sore menyentuh wajahku, membawa perasaan damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Suasana tenang ini, suasana yang begitu aku dambakan dan akan selalu kukenang.
Di tengah perjalanan pulang, aku menoleh sekali lagi ke arah monumen itu. Ada rasa enggan untuk benar-benar meninggalkan tempat ini. Seolah ada bagian kecil dari diriku yang tertinggal di sana, menyatu dengan kenangan yang baru saja tercipta. Sedih rasanya harus kembali pulang, tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku pasti akan datang kembali berkunjung ke tempat ini, tempat yang penuh kenangan dan cerita dengan bangunan yang begitu indah pastinya.
Perjalanan ke Simpang Lima Gumul bukan hanya tentang mengunjungi sebuah tempat, tetapi tentang merasakan keindahan dalam kesederhanaan. Tentang bagaimana sebuah ruang bisa menyimpan begitu banyak cerita, termasuk ceritaku sendiri yang kini akan selalu teringat setiap kali aku mendengar nama tempat itu. Simpang Lima Gumul bagaikan sebuah ikon Kediri yang banyak cerita serta kenangan.(*)