Oleh Enggar Panji Nirmolo
Di lereng megah Gunung Merbabu, terdapat sebuah kabupaten yang dikenal dengan udara sejuk dan julukan Kota Susu, yaitu Boyolali. Daerah ini tidak hanya kaya akan hasil peternakan, tetapi juga memiliki kehidupan seni dan budaya yang terus berkembang. Salah satu wujudnya adalah Merbabu Art Fest, sebuah festival seni tahunan yang menggabungkan keindahan alam dengan kreativitas para seniman dari berbagai daerah. Boyolali menjadi ruang hidup bagi tradisi dan inovasi, di mana kesenian lokal tetap dijaga sekaligus diberi ruang untuk berkembang mengikuti zaman.
Awalnya, aku hanya seorang pengunjung biasa. Setiap tahun, aku selalu menyempatkan diri untuk datang ke Merbabu Art Fest. Perjalanan menuju lokasi acara selalu terasa menyenangkan dengan udara pegunungan yang segar, pemandangan hijau yang menenangkan, dan suasana desa yang hangat. Begitu sampai di lokasi, aku seperti masuk ke dunia lain, panggung seni berdiri di tengah alam, lampu-lampu temaram menyatu dengan langit senja, dan suara musik tradisional berpadu dengan sentuhan modern. Semua itu terasa begitu khas Boyolali, sederhana namun penuh daya tarik.
Dari tahun ke tahun, aku selalu duduk di antara penonton, menyaksikan berbagai pertunjukan tari tradisional, musik etnik, hingga kolaborasi seni kontemporer. Boyolali sendiri memiliki kekayaan kesenian seperti tari rakyat, karawitan, hingga kesenian berbasis tradisi agraris yang mencerminkan kehidupan masyarakatnya. Setiap penampilan terasa punya cerita sendiri. Aku sering terpukau melihat para penari yang begitu ekspresif di atas panggung. Dalam hati, aku pernah berpikir, “Bagaimana rasanya ya berada di atas sana?”
Tanpa kusadari, rasa kagum itu perlahan berubah menjadi keinginan. Aku mulai lebih serius berlatih, mendalami gerak tari, dan mencoba memahami bagaimana sebuah pertunjukan dikemas dengan baik. Aku juga mulai mengenal lebih dalam kesenian khas Boyolali yang banyak terinspirasi dari kehidupan masyarakat pedesaan, seperti gerakan yang meniru aktivitas sehari-hari dan iringan musik gamelan yang khas. Merbabu Art Fest bukan lagi sekadar tontonan bagiku, tapi juga menjadi sumber inspirasi.
Hingga akhirnya, tahun ini menjadi titik yang berbeda. Di bulan Juni nanti, aku tidak lagi datang sebagai penonton. Aku akan berdiri di atas panggung itu menjadi bagian dari pertunjukan, bahkan ikut menarikan opening acara Merbabu Art Fest. Saat pertama kali mendapat kesempatan ini, perasaanku campur aduk antara senang, bangga, dan gugup. Panggung yang dulu hanya bisa kulihat dari kejauhan kini akan menjadi tempatku mengekspresikan diri sekaligus memperkenalkan nuansa seni Boyolali kepada penonton.
Persiapan demi persiapan mulai kulalui. Latihan yang dulu terasa biasa saja kini menjadi lebih serius dan penuh tanggung jawab. Aku tidak hanya menari untuk diriku sendiri, tetapi juga membawa nama tim dan daerah. Dalam setiap gerakan, aku ingin menampilkan karakter khas kesenian Boyolali yang luwes, sederhana, namun penuh makna. Aku juga belajar memahami bagaimana menghidupkan suasana panggung agar penonton bisa merasakan energi yang sama.
Aku sering membayangkan suasana saat hari itu tiba. Lampu panggung menyala, musik mulai dimainkan, dan aku melangkah ke tengah panggung dengan perasaan yang mungkin tidak akan pernah kulupakan. Bayangan penonton yang datang dari berbagai daerah membuatku semakin bersemangat, karena ini bukan hanya tentang tampil, tetapi juga tentang memperkenalkan kekayaan seni Boyolali kepada khalayak luas.
Perjalananku dari pengunjung setia hingga akhirnya ikut berpartisipasi di Merbabu Art Fest memberikan banyak pelajaran berharga. Aku belajar bahwa ketertarikan yang terus dipupuk bisa berubah menjadi peluang nyata. Selain itu, aku juga semakin memahami bahwa kesenian daerah seperti yang ada di Boyolali perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tidak hilang ditelan zaman. Konsistensi dalam berlatih dan keberanian untuk mencoba adalah kunci utama.
Namun, aku juga menyadari bahwa masih ada hal yang perlu diperbaiki. Rasa gugup dan kurang percaya diri kadang masih muncul, terutama saat membayangkan tampil di hadapan banyak orang. Selain itu, manajemen waktu antara latihan dan aktivitas lain juga menjadi tantangan yang harus lebih diatur dengan baik. Dalam proses ini, aku belajar bahwa menjadi bagian dari dunia seni tidak hanya soal bakat, tetapi juga kedisiplinan dan komitmen.
Meski begitu, pengalaman ini sangat berarti bagiku. Dari hanya menikmati sebuah pertunjukan, kini aku menjadi bagian dari cerita itu sendiri. Merbabu Art Fest bukan hanya sebuah acara seni, tetapi juga perjalanan yang membentukku untuk lebih berani, berkembang, dan percaya pada proses. Aku merasa semakin dekat dengan identitas budaya Boyolali yang sebelumnya hanya kulihat dari sudut pandang penonton.
Ke depan, aku berharap bisa terus terlibat dalam kegiatan seni di Boyolali, tidak hanya sebagai penampil tetapi juga sebagai bagian dari generasi yang menjaga dan melestarikan budaya daerah. Boyolali dengan segala kesederhanaannya menyimpan potensi seni yang luar biasa. Dan melalui pengalaman ini, aku semakin yakin bahwa kesenian bukan hanya tentang pertunjukan, tetapi juga tentang jati diri, kebanggaan, dan warisan yang harus terus dijaga.(*)