Aku Masih Di Sini Bersama yang Tidak Ada

Oleh Michelle Tinambunan

Pamulang selalu terasa sama. Ramai, panas, dan penuh suara kendaraan yang nggak pernah benar-benar berhenti. Tapi sejak beberapa waktu lalu, semuanya terasa beda buat aku. Bukan karena kotanya berubah, tapi karena ada satu orang yang nggak lagi ada di dalam cerita hari-hariku.

Aku sekolah di Mater Dei dan menjalani rutinitas seperti siswa pada umumnya. Tapi jujur, kehidupan aku yang sebenarnya justru ada di tempat lain, di Ganesha Operation. Di sana, aku ngerasa lebih hidup. Apalagi waktu itu lagi masa-masa mau UTBK, masa paling capek tapi juga paling berkesan.

Aku punya circle kecil di GO, empat temen cewek dari sekolah yang beda-beda, dan dua cowok. Salah satunya… Nico. Ironisnya, Nico juga temen sekolah aku, bahkan temen sekelas. Dari kelas 11 sampai kelas 12, aku sekelas terus sama dia. Pilihan mata pelajaran sama, tempat duduk kadang deket, bahkan les pun bareng. Jujur aja, aku sampai pernah ngerasa, “Ini orang kenapa sih muncul terus di hidup gue?”

Orang-orang sering ngira aku sama Nico pacaran. Bahkan kakak-kakak les suka banget ngecengin kita. “Ciee…” gitu tiap kita duduk bareng. Padahal ya… nggak ada apa-apa. Kita cuma deket banget, bestie banget. Aku bahkan sering ngebully dia tanpa rasa bersalah. Dia juga santai aja, malah kadang ngebales lebih nyebelin.

Tapi di balik itu semua, Nico itu pinter banget. Terutama matematika sama fisika. Aku sering banget nggak ngerti, dan dia selalu sabar ngajarin. Kadang aku mikir, dia tuh kayak “penyelamat nilai” aku. Tapi anehnya, aku nggak pernah baper sama dia. Bukan tipe aku, dan aku ngerasa hubungan kita emang cukup sebagai sahabat, dan itu udah lebih dari cukup.

Hari-hari di GO waktu itu rasanya nggak tergantikan. Kita belajar bareng, ngerjain soal bareng, stres bareng, ketawa bareng. Habis les, kita jajan, nongkrong, cerita hal-hal random, bahkan kadang lanjut belajar lagi walaupun ujung-ujungnya malah ngobrol nggak jelas. Capek, iya. Tapi seru banget. Menurut aku, itu salah satu fase paling hidup dalam hidup aku.

Nico selalu ada di situ. Selalu. Kayak bagian yang nggak mungkin hilang. Sampai suatu hari di bulan Agustus… semuanya berubah.

Aku masih ingat jelas kabar itu datang. Nico kecelakaan motor. Awalnya aku pikir… ah, paling cuma luka biasa. Tapi ternyata nggak. Dia… pergi. Gitu aja. Jujur, sampai sekarang aku masih nggak percaya.

Gimana bisa orang yang kemarin masih ketawa bareng aku, yang masih ngajarin aku soal fisika, yang masih aku bully tanpa henti… tiba-tiba nggak ada? Rasanya kayak dunia berhenti sebentar, tapi semua orang dipaksa jalan lagi secepat mungkin.

Aku dan temen-temen GO benar-benar hancur waktu itu. Kita nggak nyangka sama sekali. Nico, yang selama ini selalu punya mimpi besar—dia pengen banget jadi pembuat pesawat. Dia bahkan bercita-cita kuliah di ITB. Tapi hidup punya rencana lain.

Sekarang… aku suka mikir, mungkin dia tetap bikin pesawat. Tapi bukan di dunia ini. Mungkin dia lagi “ngerakit” sesuatu di tempat yang lebih tenang, lebih indah.

Di surga.

Sejak kejadian itu, Pamulang jadi terasa beda. Setiap jalan, setiap tempat nongkrong, setiap sudut yang pernah kita datengin bareng… semuanya nyimpan kenangan. Kadang tanpa sadar aku senyum sendiri, tapi beberapa detik kemudian… berubah jadi sedih.

Aku dan temen-temen GO sampai sekarang masih dekat banget. Justru mungkin karena kehilangan itu, kita jadi makin ngerasa saling butuh. Setiap kali kita pulang ke Pamulang, kita hampir selalu sempatin ziarah ke makam Nico. Di sana, suasananya sunyi. Tapi entah kenapa, aku selalu ngerasa dia “dekat”.

Aku sering ngomong dalam hati, cerita ini-itu, bahkan kadang masih refleks nge-bully dia—walaupun cuma dalam pikiran. Dan setiap kali itu, aku selalu berharap… semoga dia tahu kalau kita semua masih ingat dia. Masih sayang dia. Kalau boleh jujur, aku kangen. Kangen banget. Kangen sama semua hal yang dulu terasa biasa—yang sekarang jadi hal paling berharga yang nggak bisa diulang.

Aku nggak tahu apakah waktu benar-benar bisa menyembuhkan. Menurut aku, kehilangan orang seperti Nico bukan sesuatu yang bisa “sembuh”. Kita cuma belajar hidup dengan rasa itu. Belajar menerima bahwa ada bagian dari hidup kita yang akan selalu kosong. Tapi satu hal yang aku yakin… Nico nggak benar-benar hilang.

Dia ada di setiap tawa kita dulu, di setiap soal yang pernah dia ajarin, di setiap kenangan kecil yang sekarang terasa sangat besar. Dan mungkin, selama aku masih mengingat dia, selama aku masih menyebut namanya dalam cerita… dia tetap hidup. Di dalam aku. Di dalam kita semua.

Dan di Pamulang ini, di antara panas dan ramainya kota kecil ini, ada satu cerita yang nggak akan pernah selesai—cerita tentang kita, tentang persahabatan, dan tentang seseorang yang pergi terlalu cepat… tapi meninggalkan jejak yang nggak akan pernah hilang.(*)