Nadran: Rasa Syukur Nelayan di Indramayu

Oleh Mouza Hannan

Memori itu masih tersimpan rapi, sedemikian jernih hingga seolah saya bisa mencium aroma garam yang berpadu dengan wangi kemenyan yang lembut, membelai udara pagi yang segar, penuh misteri, dan serat makna yang spiritual. 

Hari itu, untuk pertama kalinya saya melihat dan menyaksikan salah satu tradisi adat yang berada di Indramayu bersama paman saya, yaitu Nadran. Nadran adalah tradisi ritual syukuran adat masyarakat nelayan di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia, yang dilakukan secara tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil tangkapan laut yang melimpah. 

Pagi itu, suasana sudah ramai sejak mahari belum sepenuhnya naik. Warga berkumpul di tepi pantai. Mereka datang tidak dengan tangan hampa; ada nampan-nampan penuh hasil bumi dan sesaji yang ditata sedemikian rupa.  

Ada sakral yang menyusup ke dalam dada. Seolah pagi itu, seluruh jiwa di kampung nelayan ini melebur dalam satu tarikan napas syukur atas hasil laut yang telah mereka terima selama ini. Ritual dibuka dengan ucapan doa yang dipimpin oleh ketua adat. Semua orang hening menundukkan kepala dengan khusyuk.  

Saya berdiri di sana menyelusup di antara bahu-bahu mereka, mencoba menghayati setiap bait mantra dan doa yang melangit. Paman memegang tangan saya  dengan erat sebagai jangkar teguh di tengah badai, matanya terpejam dengan penghayatan penuh ketenangan, sementara nelayan tua berlutut hormat di pasir basah dan lembap, dan pemuda di sekitarnya memeluk sesaji dengan tangan gemetar penuh hormat serta keyakinan mereka terhadap masa depan yang cerah.  

Setelah doa selesai, sesaji yang telah disiapkan kemudian dibawa ke perahu yang sudah dihias dengan warna-warni yang indah. Perahu itu terlihat begitu istimewa, seolah menjadi simbol harapan dan doa masyarakat nelayan.  Ketika perahu mulai didorong menjauh ke laut, sorak-sorai pecah bersambut dengan tetabuhan musik tradisional yang ritmenya seolah memicu detak jantung. Wajah-wajah penuh haru, air mata,  pelukan ibu, tepukan anak-anak, semua melebur dalam irama rasa syukur.  

Saya terpaku melihat wajah-wajah di sekitar saya. Ada garis-garis lelah yang tertutup oleh binar kebahagiaan dan seulas harapan. Saat sesaji itu dilarung, perlahan tenggelam dalam pelukan ombak, ada rasa haru yang mendesak di tenggorokan.   

Di depan mata, saya menyaksikan sebuah kontrak tua antara manusia dan alam kembali diperbarui. Sebuah bentuk penghormatan paling tulus kepada laut yang telah menjadi sumber kehidupan mereka. Hingga detik ini, Nadran bagi saya bukan sekadar tradisi, tapi juga wujud rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam. 

 Setiap kali ingatan itu muncul, kehangatan pagi di pesisir itu selalu hadir kembali, mengingatkan saya bahwa rasa syukur adalah bahasa paling indah untuk membahas kebaikan alam.  

Setelah selesai, saya dan paman saya menyaksikan bagaimana proses Nadran itu dari awal hingga akhir dengan penuh khidmat. Kami pulang bersama, melangkah membelai pasir pantai yang masih basah tersapu air laut, dengan hati yang penuh hormat mendalam terhadap tradisi leluhur, rasa syukur yang meluap-luap atas kelimpahan rezeki alam, dan keyakinan teguh terhadap apa yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.  

Sambil berjalan pelan di pinggir pantai, kami meninggalkan keramaian warga yang masih asyik mengobrol. Matahari mulai tinggi, dan harum kemenyan yang masih menempel di pakaian seakan berbisik bahwa manusia, laut, dan Sang Pencipta memang tak pernah terpisahkan.  

Dalam perjalanan pulang paman berhenti sejenak melihat ke arah laut lepas. Baginya, Nadra adalah awal dari perjalanan baru yang penuh berkah. Melihat ketulusan hati paman saya, saya pun ikut merasa kecil dan rendah hati di hadapan alam.  

Langkah kami berakhir di sebuah rumah biru dekat dermaga. Sambil ditemani secangkir teh hangat di teras, kami merenungkan kembali makna ritual tadi tentang jiwa yang kembali bersih dan keluarga yang makin kompak. Rasanya, benih-benih syukur mulai tumbuh subur di dalam hati. (*)