Oleh Rizka Zahra Arfianti
Hai, perkenalkan aku Rizka. Aku lahir dan tumbuh besar di Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, sebuah desa yang ternyata memiliki sejarah panjang dan cukup unik. Dulu, aku hanya menganggap desa ini sebagai tempat tinggal biasa. Namun, setelah menelusuri lebih dalam melalui tugas penulisan sejarah asal desa pada waktu semester 1, aku mulai menyadari bahwa desaku menyimpan banyak cerita yang menarik untuk dibagikan.
Desa Ketanjung berawal dari seorang musafir yang kemudian dikenal sebagai Mbah Tawang yang datang dan membabat alas di sekitar tepi sungai. Dalam perjalanannya, beliau bertemu dengan Mbah Zaenal Abidin yang berasal dari Wedung, serta satu tokoh lain yang dipercaya masih keturunan Sunan Kalijaga. Dari usaha mereka membuka lahan tersebut, akhirnya terbentuk sebuah perkampungan. Nama “Ketanjung” sendiri berasal dari pohon tanjung yang tumbuh di sekitar wilayah tersebut, yang kemudian disepakati sebagai nama desa.
Sejak kecil, aku sering mendengar cerita dari kakek dan nenekku tentang kondisi Desa Ketanjung di masa lalu. Kakekku, yang merupakan penduduk asli desa tersebut dan pernah menjabat sebagai kepala desa, sering menceritakan bagaimana keadaan desa pada masa itu. Menurut beliau, dahulu kondisi desa masih sangat terbatas. Akses jalan sulit, belum terdapat fasilitas pendidikan yang layak, bahkan kegiatan belajar masih menumpang di rumah warga.
Seiring berjalannya waktu, Desa Ketanjung mengalami banyak perkembangan. Kini, fasilitas pendidikan sudah tersedia, akses jalan semakin baik, dan kehidupan masyarakat pun semakin maju. Perubahan tersebut menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat desa.
Secara geografis, Desa Ketanjung terbagi menjadi dua bagian akibat pelurusan tanggul Sungai Wulan, yaitu bagian barat (Brang Kulon/Kulon Kali) dan bagian timur (Brang Wetan/Wetan Kali). Pemisahan ini terjadi karena adanya tanggul sungai yang membelah wilayah desa. Meskipun secara geografis sebagian wilayah berada di Kabupaten Kudus, secara administratif keduanya tetap berada dalam lingkup Kabupaten Demak.
Namun, di balik perkembangan tersebut, pada tahun 2024 desa ini mengalami peristiwa yang sangat membekas, yaitu banjir besar. Peristiwa ini tidak hanya terjadi satu kali, melainkan dua kali dalam waktu yang berdekatan, yakni pada bulan Februari dan Maret 2024. Penyebab utama banjir adalah jebolnya tanggul Sungai Wulan akibat tingginya debit air yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Pada banjir pertama di bulan Februari, warga sama sekali tidak menduga akan terjadi bencana sebesar itu. Awalnya, masyarakat mengira air tidak akan meluap hingga ke permukiman. Namun, kenyataannya, air datang secara tiba-tiba dan dengan cepat menggenangi wilayah Dukuh Norowito dan sekitarnya. Ketinggian air mencapai sekitar 1,5 hingga 3 meter sehingga banyak rumah warga terendam.
Rumah kakekku dan keluarga omku yang berada dekat tanggul menjadi salah satu yang terdampak cukup parah. Banyak barang tidak sempat diselamatkan karena kejadian berlangsung sangat cepat. Setelah air mulai surut, ayahku dan omku kembali ke rumah untuk menyelamatkan barang-barang yang berharga.
Belum sepenuhnya pulih dari banjir pertama, banjir kedua kembali terjadi pada bulan Maret 2024, tepatnya pada tengah malam menjelang sahur. Saat itu, kabar datang bahwa tanggul di wilayah Brang Kulon kembali jebol. Aku yang berada di Brang Wetan hanya bisa menyaksikan bagaimana air kembali meluap dan merendam wilayah desa.
Hujan yang terus turun menyebabkan air semakin meluas, bahkan hingga ke area persawahan di belakang rumah. Setelah sahur, aku langsung menuju rumah kakekku untuk membantu proses evakuasi. Kondisi saat itu sangat darurat dan menegangkan. Warga harus bergerak cepat untuk menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
Pada banjir kedua ini, arus air membawa lumpur dan berbagai material hingga masuk ke dalam rumah warga. Di tengah situasi tersebut, muncul cerita yang berkembang di masyarakat. Konon, ada pekerja proyek yang mengaku bertemu dengan sosok kakek misterius di sekitar tanggul yang jebol. Hal ini membuat sebagian masyarakat percaya bahwa peristiwa tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan hal-hal mistis.
Aku juga mendengar cerita bahwa penunggu sungai tersebut digambarkan seperti seekor naga yang meminta sesajen. Oleh karena itu, dilakukan ritual penyembelihan wedhus kendit sebagai bentuk kepercayaan dan upaya tolak bala. Kepala hewan tersebut kemudian dikubur di sekitar tanggul dengan harapan banjir tidak kembali terjadi. Setelah ritual tersebut dilakukan, banjir perlahan mulai surut, meskipun kebenarannya tidak dapat dipastikan.
Peristiwa banjir yang terjadi dua kali tersebut memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Selain menimbulkan kerugian materi, peristiwa ini juga memberikan dampak psikologis, termasuk rasa takut dan kekhawatiran saat musim hujan tiba. Aktivitas ekonomi masyarakat pun sempat terganggu, termasuk kegiatan di pasar.
Seiring berjalannya waktu, kondisi desa mulai berangsur membaik. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti perbaikan tanggul dan normalisasi Sungai Wulan, untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang. Masyarakat pun perlahan mulai bangkit dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Dari seluruh peristiwa yang terjadi, aku menyadari bahwa banjir besar ini bukan sekadar bencana alam, tetapi juga membawa banyak pelajaran. Aku belajar tentang pentingnya kesiapsiagaan, kepedulian antarwarga, serta kekuatan untuk bangkit di tengah kesulitan. Pengalaman ini menjadi hal yang tidak akan aku lupakan, sekaligus mengajarkanku untuk lebih menghargai lingkungan dan kehidupan di sekitarku.(*)