Oleh Nerissa Aaliyah Putri Zulkifli
Sambil menatap ke luar dari jendela bus, aku berpikir, wah… ternyata aku bisa merantau juga yaa, pergi jauh dari Depok, keluar dari Depok, hidup di luar kota Depok. Aku ga tahu kalau bakal secepat ini pergi dari zona nyaman dan harus beradaptasi dengan zona yang lain.
Haiii…
Aku merupakan salah satu mahasiswa yang memiliki pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan hingga saat ini dari PAUD hingga SMA di Kota Depok. Bagiku, kota ini tidak hanya menjadi tempat beraktivitas sehari-hari, tetapi juga merupakan kota tumbuh kembangku. Depok memiliki berbagai cerita, tempat yang menarik dan unik, terutama dari segi sejarah, peristiwa, dan perkembangannya hingga saat ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, aku melihat Depok sebagai kota yang ramai dan terus berkembang. Banyak masyarakat yang beraktivitas sejak pagi hingga malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa Depok memiliki peran penting sebagai kota penyangga Jakarta karena sebagian pekerja di Jakarta pasti tinggal di Depok. Hmmm… karena itu sebenarnya ada sesuatu yang terbenak pada diriku kalau… Depok itu seperti kota pengungsian soalnya kan Depok ga punya laut, gunung, atau bentangan alam yang lain, cuma ada warga, warga, dan warga. Jangan bilang ke siapa-siapa ya hehehe, sssuutttt…
Tapi tau ga?
Ternyata di balik keramaian tersebut, Depok memiliki sejarah yang cukup panjang. Tidak banyak orang mengetahui, bahkan seorang warga Depok asli pun, bahwa kota ini memiliki latar belakang sejarah sejak masa kolonial Belanda. Kalian mau tau? Jadi gini ceritanya.
Depok pada masa lalu merupakan wilayah yang dimiliki oleh seorang warga Belanda bernama Cornelis Chastelein. Beliau adalah seorang bangsawan dan pejabat tinggi di VOC. Cornelis Chastelein memperoleh tanah Depok dengan cara membeli dari Lucas van de Meur, Residen Cirebon, seharga 300 rijksdaalders, sehingga tanah tersebut menjadi milik pribadinya. Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki kepedulian terhadap para pekerjanya. Ketika pindah ke Depok sekitar tahun 1705, Cornelis Chastelein tidak hanya membawa keluarganya, tetapi juga sekitar 200 orang budak. Para budak tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Bali, Sulawesi, dan Timor.
Para budak ini dibawa dengan tujuan untuk mengembangkan wilayah Depok menjadi lahan perkebunan, seperti kakao, jeruk sitrun, nangka, dan belimbing. Selain bekerja di perkebunan, mereka juga menjalankan berbagai peran lain, seperti menjadi pembantu rumah tangga, tukang kayu, dan mandor. Pada malam hari, mereka diwajibkan mengikuti pelajaran agama Kristen. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara Cornelis Chastelein dan para budaknya tidak sepenuhnya seperti hubungan majikan dan budak, melainkan lebih menyerupai hubungan patron dan klien, di mana terdapat unsur perlindungan sekaligus ketergantungan. Setelah meninggal, ia mewariskan tanahnya kepada para pekerja tersebut, sehingga terbentuklah komunitas masyarakat Depok.
Masyarakat tersebut kemudian dikenal sebagai 12 marga Depok. Mereka memiliki sistem kehidupan yang teratur dan berbeda dari masyarakat pada umumnya pada masa itu. Bahkan, Depok pernah memiliki sistem pemerintahan sendiri yang dikenal sebagai Gemeente Depok. Hal ini membuat Depok sering dianggap sebagai wilayah yang berdiri sendiri atau seperti “negara kecil”, meskipun sebenarnya masih berada di bawah kekuasaan Belanda.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga saat ini, terutama di kawasan Depok Lama. Kawasan ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang menjadi bukti perkembangan Depok dari masa ke masa. Salah satu peninggalan sejarah yang masih berdiri adalah Gereja Immanuel Depok. Gereja ini menjadi saksi perkembangan masyarakat Depok sejak zaman kolonial dan masih digunakan hingga sekarang. Selain itu, terdapat juga Tugu Cornelis Chastelein yang menjadi simbol penghormatan terhadap tokoh penting dalam sejarah Depok. Keberadaan tugu ini mengingatkan masyarakat akan asal-usul kota mereka.
Pada awalnya, wilayah Depok merupakan bagian dari Kabupaten Bogor. Seiring dengan perkembangan wilayah yang pesat serta meningkatnya jumlah penduduk, Depok kemudian mengalami pemekaran wilayah. Pada tahun 1999, Depok resmi memisahkan diri dari Bogor dan menjadi kota yang berdiri sendiri.
Seiring berjalannya waktu, Depok mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dari yang awalnya merupakan kawasan perkebunan dan permukiman sederhana, kini berubah menjadi kota modern dengan berbagai fasilitas. Perubahan ini terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan sarana penunjang kehidupan. Salah satu perkembangan yang paling terlihat adalah hadirnya pusat pendidikan seperti Universitas Indonesia yang menjadikan Depok dikenal sebagai kota pendidikan di Indonesia. Keberadaan kampus ini tidak hanya memberikan dampak pada bidang pendidikan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya, seperti munculnya kos-kosan, warung makan, dan berbagai usaha lainnya.
Selain itu, pembangunan pusat perbelanjaan seperti Margo City juga menunjukkan bahwa Depok telah berkembang menjadi kota yang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Pusat perbelanjaan tersebut menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan, baik untuk berbelanja maupun sekadar bersantai. Namun, perkembangan yang pesat ini juga menimbulkan berbagai tantangan, seperti meningkatnya kemacetan lalu lintas dan kepadatan penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan suatu kota tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga memerlukan pengelolaan yang baik agar tetap nyaman untuk ditinggali.
Oh, Iya!
Selain memiliki sejarah yang panjang, Kota Depok juga sering menjadi sorotan karena berbagai peristiwa yang terjadi. Salah satunya adalah kasus pertama COVID-19 di Indonesia yang berasal dari Depok. Selain itu, Depok juga sering menjadi perbincangan di media sosial karena berbagai kejadian unik dan berbagai cerita viral di masyarakat, seperti kisah-kisah mistis yang lucu seperti kemunculan pocong, tuyul, vampir, babi ngepet, keranda terbang, babi ngepet reborn. Serta kejadian unik yang beredar di media sosial, seperti pembangunan fasilitas roket nuklir (ternyata tower masjid kubah emas), Musadeq ngaku nabi, Winardi mengaku Imam Mahdi, melaksanakan hari Idul Fitri pada hari ke-28 puasa Ramadan, jadi di saat pemerintah dan masyarakat beragama Islam di Indonesia sedang sibuk menentukan kapan bulan Syawal, ada sebagian warga Depok yang sudah melaksanakan dan merayakan Idulfitri. Dan masih banyak lagi peristiwa aneh yang membuat orang-orang panik, kesal, tertawa, dan terheran-heran karena saking anehnya (aku yang menulis pun sambil tertawa). Dan yang membuat makin terheran adalah ada saja orang yang percaya meskipun tidak semuanya dapat dibuktikan kebenarannya.
Jadi… bisa disimpulkan bahwa Kota Depok ternyata memiliki perjalanan panjang dari masa kolonial hingga menjadi kota modern seperti sekarang. Jejak sejarah yang masih ada hingga saat ini menjadi bukti bahwa perkembangan sebuah kota tidak terlepas dari masa lalunya.
“Eh udah nyampe Semarang, kira-kira aku diturunin Dimana ya?”
“Dek, turun sini ya soalnya kalau di atas nanti muternya jauh.
“Oh iya, Pak, nggak apa-apa. Makasih ya, Pak.”
“Loh kok disini, kenapa ga di pom bensin depan aja atau di mini market depan sana? Duhhh kayak anak ilanggg mana bawa koper gede sama tas gede, Mas Iyan juga belum nyampe. Ih, maluuuu untung ga ada orang, eh tapi di dalam toko itu ada orang ga ya? Ga ada motor sih, ah, tapi kan belum tentu kalau nggak ada orang, duh, semoga nggak lama-lama deh. Masa hari pertama merantau dah kayak anak hilang. (*)