Oleh Kesya Agnesita Asturi
Semarang memang bukan tempatku lahir, namun tempatku dibesarkan. Dibesarkan dengan penuh kelebihan dan kekurangan. Kota yang membawa kenangan indah dan kenangan buruk bagiku. Walau setiap sisi kota belum kutelusuri, aku sangat sayang rumah. Ada beberapa hal yang kutahu dari Kota Semarang, seperti lumpia, kota lama, simpang lima. Ketiga hal tersebut adalah ikon yang menonjol dari Kota Semarang.
Pertama kali aku menginjakan kaki di sini, aku dibawa oleh ayah untuk berkeliling Kota Semarang. Kami berkeliling Kota Semarang berbonceng empat dengan ayah, ibu, aku dan kakakku yang masih kecil. Melihat gemerlapnya Simpang Lima pada malam hari, bermain di sekitar Simpang Lima. Kami juga berkeliling di sekitar Simpang Lima untuk membeli makan.
Bicara soal kuliner, Semarang tak akan pernah ketinggalan soal lumpia. Makanan yang menjadi ciri khas kota ini. Hampir di setiap sudut kota Semarang banyak yang menjual lumpia. Aku sendiri tidak bisa merekomendasikan lumpia mana yang enak, karena selera setiap orang pasti beda. Kalian bisa milih buat beli di mana, tapi yang pasti, ada harga, ada rasa.
Selain kuliner khas Semarang yang enak, Semarang juga punya cuaca yang panas. Banyak yang bilang kalau di Semarang itu mataharinya satu orang satu. Setuju sih aku, soalnya di Semarang bener-bener sepanas itu. Apalagi mendekati pukul 11 siang sampai pukul 2 sore. Panasnya sampai bikin kulit belang sekalinya keluar rumah. Bukannya melebih-lebihkan, hanya saja ini sering terjadi sama aku.
Semarang juga punya bangunan-bangunan unik bekas peninggalan Belanda. Tepatnya di Kota Lama, ada banyak bangunan peninggalan yang menjadi keindahan Kota Lama. Gedung-gedung itu seperti Gereja Blenduk, Gedung Marba, dan Semarang Contemporary Art Gallery. Ada juga Museum Kota Lama. Kalian bisa mempelajari sejarah Kota Semarang di museum ini.
Kenangan yang indah selalu saja dibarengi dengan kenangan yang jelek dan menyedihkan. Sesekali muncul tanpa peringatan dan wanti-wanti, kenangan itu berjalan beriringan dengan membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat. Semarang menyadarkanku bahwa di tengah kesunyian dan kenangan buruk dalam hidupku akan selalu ada secercah harapan yang muncul. Sebuah keinginan, jalan, dan arah yang hadir untuk menuntun ke jalan yang benar.
Di tengah ramai dan sibuknya Kota Semarang, akan selalu ada waktu untuk diri menenangkan pikiran sejenak dan bersantai. Bersantai bisa dilakukan dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, seperti Lawang Sewu. Lawang Sewu dulunya merupakan bangunan peninggalan Belanda yang difungsikan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api atau trem pada masa Belanda. Namun, sekarang sudah beralih fungsi menjadi museum.
Semarang juga memiliki tradisi yang unik saat menjelang Ramadan. Tradisi ini disebut dengan Dugderan dan dirayakan saat menjelang bulan suci Ramadan. Dugderan juga punya makna: ‘dug’ yang berarti bunyi dari bedug dan ‘der’ yang merupakan bunyi dari meriam. Saat Dugderan dimulai, semua warga Semarang akan selalu merayakannya.
Dugderan juga memiliki hewan ikonik, yaitu Warak Ngendog. Warak Ngendog memiliki makna, yaitu warak yang sedang bertelur. Warak Ngendog memiliki perwujudan yang unik, yaitu hewan yang tidak nyata yang memiliki tubuh kambing, kepala naga, dan sisik yang terbuat dari kertas warna-warni. Warak Ngendog juga memiliki telur rebus yang orang Semarang menyebutnya ‘endog’.
Walau aku belum menjelajahi setiap sudut Kota Semarang, sebagian yang sudah kukunjungi terasa menyenangkan dan menenangkan. Perjalanan dari Semarang bagian atas lalu turun ke Semarang bagian bawah juga baru kulalui beberapa hari ini. Karena aku lebih nyaman berada di rumah, di mana keluarga berkumpul dan membagi canda dan tawa.
Bagiku, Semarang adalah kumpulan kenanganku yang bertumpuk menjadi satu. Kenangan yang pahit dan manis membentuk sebuah pohon yang besar dan kuat. Kota yang menawan dari segala sisi ini berhasil membuatku nyaman tinggal di sini dengan keluargaku. Akan selalu kusimpan kenangan ini sewaktu-waktu aku merindukan suasana atau bahkan tempatnya. (*)