Oleh Lintang Putrirahmadhani Sulistyo
Masjid Kubah Emas merupakan salah satu ikon wisata religi yang terkenal di Kota Depok. Masjid yang memiliki nama resmi Masjid Jami’ Dian Al-Mahri terletak di Kecamatan Cinere, Kota Depok, dan terkenal karena kubahnya yang dilapisi emas 24 karat yang berkilau dan menarik perhatian. Sejak diresmikan pada tahun 2006, masjid ini telah menjadi destinasi wisata religi utama yang menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Masjid ini memiliki kesan megah dan mewah, berdiri kokoh dengan gaya arsitektur Timur Tengah yang dipadukan dengan sentuhan modern. Masjid ini memiliki lima kubah utama yang melambangkan lima rukun Islam, dengan satu kubah besar di tengah yang dikelilingi kubah-kubah kecil sebagai pelengkap keindahan. Selain itu, terdapat enam menara tinggi berbentuk segi enam yang melambangkan rukun iman. Puncak menara yang berlapis emas semakin menambah kemewahan bangunan, terutama saat terkena cahaya matahari.
Selain bangunannya yang indah, lingkungan di sekitar masjid juga sangat nyaman. Halamannya luas, bersih, dan tertata rapi sehingga pengunjung dapat berjalan santai sambil menikmati suasana. Terdapat taman hijau dan pepohonan rindang yang menambah kesejukan, menjadikan tempat ini terasa damai. Area parkir yang luas serta fasilitas pendukung lainnya membuat pengunjung semakin nyaman saat berada di kawasan masjid. Masjid Kubah Emas bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial, edukasi, dan wisata religi.
Pengalaman saya pertama kali mengunjungi masjid kubah emas pada usia 6 tahun. Saya tidak terlalu ingat detail yang terjadi, tapi saya ingat kekaguman saya pertama kali melihat masjid kubah emas. Saya takjub dengan bangunan yang menjadi tempat ibadah umat Muslim itu. Saya ingat betapa kagumnya saya melihat masjid yang begitu besar dengan halaman yang luas, lantai marmer yang sejuk, dan juga kubah yang benar-benar ada berwarna emas dan terlihat menyala pada siang hari.
Seperti tempat wisata pada umumnya, banyak juga pedagang yang mencari rezeki di kawasan Masjid Kubah Emas. Mereka berjualan air minum, makanan ringan dan berat, dan yang paling saya ingat adalah pedagang yang menjual gelang lilit yang terbuat dari manik-manik plastik yang sedang populer pada zamannya untuk anak perempuan usia saya pada saat itu. Di kelompok teman sebaya saya, gelang itu terkenal dibeli di Masjid Kubah Emas. Saya ingat bagaimana saya merengek minta dibelikan gelang tersebut agar bisa saya pamerkan kepada teman-teman saya bahwa saya benar-benar telah mengunjungi masjid kubah emas.
Saya mengunjungi masjid kubah emas bersama dengan bunda saya, mengenakan pakaian muslim, mengendarai sepeda motor, dan berkendara sekitar 5 km dari rumah saya. Memang sedekat itu, tapi bisa dihitung jari berapa kali saya mengunjungi masjid kubah emas. Kunjungan saya memang singkat, tapi setiap kali saya melewati masjid tersebut, saya berdoa agar tempat ibadah ini selalu menjadi ikon religi yang tidak hanya mewah di luar, tetapi juga memberikan manfaat yang banyak untuk masyarakat.(*)