Kenangann tentang Dandangan

Oleh Maulana Sannjaya

Gebyar Dandangan selalu datang seperti angin yang membawa kenangan. Di alun-alun kota kecil itu, lampu warna-warni mulai dipasang, dan suara pedagang memanggil pembeli terdengar riuh sejak sore. Warga berdatangan dengan wajah penuh antusiasme, seolah-olah acara ini adalah penanda bahwa sesuatu yang istimewa akan segera tiba.

Aku berdiri di pinggir keramaian, memandangi deretan kios yang menjual berbagai jajanan. Aroma gula jawa dan santan dari jenang yang dimasak di kuali besar membuat perutku keroncongan. Aku tersenyum tipis, mengingat masa kecilku ketika selalu datang bersama ayahnya ke acara ini.

Dahulu, ayah selalu menggandeng tanganku erat, takut aku tersesat di tengah lautan manusia. Kami akan membeli mainan sederhana, seperti balon atau seruling bambu, lalu duduk di bawah pohon sambil menikmati suasana. Kini, semua itu tinggal kenangan yang perlahan memudar, namun tetap hangat di hati.

Aku melangkah lebih jauh, melewati penjual pakaian, mainan, hingga pernak-pernik khas Dandangan. Suara tabuhan bedug terdengar dari kejauhan, mengiringi langkah orang-orang yang semakin ramai. Ada sesuatu yang berbeda malam itu, seolah suasana membawa pesan yang belum ia pahami.

Di sudut alun-alun, aku melihat seorang anak kecil yang tampak kebingungan. Anak itu berdiri sendiri. Matanya mencari-cari sesuatu di antara kerumunan. Aku mendekat dan berjongkok di depannya, mencoba menenangkan.

“Kamu cari siapa?” tanyaku dengan lembut.

Anak itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ibu… aku nggak tahu ke mana,” jawabnya lirih.

Aku menghela napas pelan. Aku tahu betapa mudahnya seseorang tersesat di tengah keramaian seperti ini. Aku pun menggenggam tangan anak itu, mengajaknya berjalan menyusuri kerumunan sambil berharap menemukan orang tua si anak.

Mereka berjalan melewati panggung kecil tempat beberapa orang memainkan musik tradisional. Lampu-lampu berkelap-kelip di atas kepala mereka menciptakan suasana yang meriah sekaligus hangat. Aku merasa seperti kembali ke masa lalu, ketika aku juga pernah merasa aman di tengah keramaian seperti ini.

Tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita memanggil dengan panik. Anak kecil itu langsung menoleh dan berlari ke arah suara tersebut. Aku tersenyum lega saat melihat mereka berpelukan; tangis haru bercampur rasa syukur.

Wanita itu menghampiriku dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, merasa hatiku sedikit lebih ringan. Ada kebahagiaan sederhana dalam membantu orang lain, terutama di tempat yang penuh kenangan seperti ini.

Saat malam semakin larut, aku kembali berdiri di tengah keramaian Gebyar Dandangan. Aku menyadari bahwa meskipun waktu terus berjalan dan banyak hal berubah, ada hal-hal yang tetap sama: kehangatan, kebersamaan, dan kenangan yang terus hidup di hati. Aku pun melangkah pulang dengan perasaan yang lebih damai, membawa sepotong kecil kebahagiaan dari malam itu.(*)