Oleh Muhammad Muhaiminun Niam
Simpang 7 Joglo yang sekarang berdiri megah bukanlah Simpang Joglo tiga tahun yang lalu. Banyak aktivitas masyarakat yang terjadi di satu lokasi yang sama. Terjadi persimpangan antara kereta Daop 6, yang merupakan salah satu daerah operasi tersibuk di Indonesia, dengan tujuh arah jalan yang mengarah ke satu titik yang sama, membuat Simpang Joglo menjadi simpang yang bukan yang paling “ramai”, namun Simpang Joglo mencatatkan dirinya menjadi simpang yang paling “pusing” menurut manajemen lalu lintas. Tiga tahun lalu, hiruk-pikuk di Simpang Joglo terjadi sangat masif. Pada waktu kerja (pagi atau sore) saja, melintasi simpang ini dapat menghabiskan waktu 5–10 menit; belum lagi jika palang pintu kereta tertutup, waktu melintasinya dapat menyentuh angka 20 menit.
Melewati Simpang Joglo dulunya bagaikan penderitaan bagi warga Solo Raya, bahkan tercatat ada hingga 60.000 pengendara yang menggantungkan nasibnya di simpang ini. Kami bagaikan membakar waktu hanya untuk melewati satu persimpangan, bertarung dengan debu jalanan dan gajah besi yang merajai simpang itu. Tak sedikit pengendara yang menggunakan waktu fajarnya untuk memulai berpacu lebih dahulu, namun juga banyak duka yang muncul di tempat itu. Simpang yang sangat padat tentunya rawan akan laka-lantas; siswa-siswa pun tak jauh menjadi targetnya. Belum lagi saat hujan deras mengguyur, air dapat memenuhi simpang itu, bahkan air dapat mencapai setengah dari ban sepeda motor.
Simpang Joglo merupakan cekungan alami di daerahnya. Air yang jatuh di sekitarnya berhilir di Simpang Joglo. Ditambah dengan sistem drainase yang tidak memadai, air yang seharusnya dialirkan ke sungai berhenti seketika di simpang Joglo. Sampah, sedimentasi, hingga batupasir menjadi faktor yang memengaruhi rusaknya sistem drainase Joglo. Perkembangan Solo Utara pada beberapa tahun terakhir memanglah sangat masif. Pohon-pohon beton mulai dibangun tanpa menghiraukan aspek lingkungan. Pada akhirnya, tanah sudah tidak mampu menyerap air hujan dan limpasan langsung menuju jalan raya sehingga jalan bagaikan sungai dadakan dengan arus yang deras.
Bertahun-tahun tidak ada kepastian proyek. Kami pun bertanya kapan Solo Utara akan diprioritaskan. Setelah Simpang Palur yang sebelumnya dibangun untuk menumbuhkan ekonomi dan merentas kemacetan di sana, Solo Utara sudah tidak dihiraukan pemerintah. Bertahun-tahun kami mengeluh akan kemacetan yang terjadi. Kami juga menuntut hak-hak kami sebagai warga negara. Suara dari kami akhirnya terdengar. Proyek mulai digagas, walau terkendala karena Covid-19, namun tahun selanjutnya akhirnya terencana. Sebagai pengguna, pastinya kita merasa senang dengan proyek ini. Di mana mobilitas dan demografi terus meningkat, proyek ini adalah titik terang bagi pengguna Simpang Joglo.
Pada awal tahun 2022, akhirnya proyek ini dimulai. Dengan wali kota Surakarta kala itu, batu pertama diletakkan di Simpang Joglo, menandakan proyek ini resmi dilaksanakan. Dengan dana yang fantastis, kami sangat optimis terhadap proyek ini. Pemerintah Surakarta mensosialisasi kepada semua kalangan dari pemerintah desa hingga pengguna jalan. Proyek yang akan digarap selama 3 tahun itu pasti menimbulkan banyak tanda tanya dari pengguna terkait pelaksanaannya. Sekolah dan kampus di sekitar simpang juga mulai membentuk aturan darurat terkait jam belajarnya. Seperti sekolahku, MAN 1 Surakarta mengubah waktu masuknya dari jam 07.00 menjadi jam 07.15 agar siswa tidak terburu-buru dan terhindar dari bahaya jalanan yang mengancam.
Pembangunan resmi dimulai pada tahun 2022 dengan fokus pada pilar-pilar dan struktur jalan bawah tanah. Truk-truk besar mulai berdatangan. Tentunya, itu mengganggu aktivitas kami sebagai pengguna jalan. Apalagi saat hujan turun, sisa-sisa tanah berubah menjadi lumpur dan membuat jalanan licin. Tahun 2023–2024, jalan mulai ditutup total. Struktur rel layang merah yang ikonik itu mulai dibangun. Rangka baja besar mulai menghantui jalanan bersimpangan dengan kami di saat jam-jam sibuk. Tanah mulai dikeruk, fondasi beton mulai dibangun dan tiang-tiang tajam mulai ditusukkan ke bumi.
Tentunya, saat mulai ditutup total, pemerintah melakukan rekayasa lalu lintas yang meledakkan jalanan kecil. Berpapasan dengan pelebaran jalan dan terowongan jalan di dekat Simpang Joglo membuat lalu lintas sangat semrawut. Kami sebagai pengguna selalu mengambil waktu pagi kita untuk menghindari padatnya jalan, bahkan pada pukul 05.30, di mana pada jam itu seharusnya jalanan masih sepi, dengan penggunanya berubah menjadi pacuan kuda besi, bukan untuk mencari yang tercepat, namun untuk mencari siapa yang terhindar dari padatnya lalu lintas pagi. Selain itu, debu-debu mulai berdatangan bahkan hingga perkampungan karena jalan kampung yang biasanya sepi berubah menjadi ramai dalam seketika akibat pengguna motor.
Masyarakat, pengguna jalan dan kami siswa sangat terganggu oleh proyek ini. Waktu kami berantakan, jadwal kami berubah. Debu dan bising suara proyek pastinya membuat keseharian masyarakat terganggu. Bahkan mungkin beberapa kesehatan masyarakat turun di kala itu. Bukan cuma satu proyek besar kata itu; ada beberapa proyek besar di sekitarnya, antara lain proyek Simpang Joglo, Terowongan Gilingan dan Rumah Sakit Umum Daerah Ibu Fatmawati Soekarno. Tidak terbayang tiga proyek besar dengan lokasi berdekatan dijalankan sekaligus, betapa sibuknya jalanan yang menjadi jalur keseharian para warga dan pengguna jalurnya.
Tiga tahun berlalu. Pada 2025, Simpang Joglo sudah mulai dibuka kembali. Dari yang awalnya 10 menit bagi pengendara melewati simpang itu, sekarang hanya perlu 30 detik untuk melewatinya. Kami sebagai pengguna tentunya merasa sangat terbantu oleh kesuksesan proyek itu. Namun, pada saat musim hujan tiba, proyek ini masih belum sepenuhnya terhindar dari masalah musimannya, yaitu banjir. Banjir yang memenuhi terowongan tentunya membuat mobilitas kembali terhambat, bak proyek gagal, tutur beberapa warga. Simpang ini belum sepenuhnya menuntaskan masalah yang terjadi sebelumnya.
Proyek ini memang dibangun bukan hanya untuk mempercepat mobilitas antardaerah, tetapi juga untuk mengatasi banjir di daerah Simpang itu. Pemerintah sudah merancang tatanan ruang di daerah simpang yang kompleks, seperti lahan hijau dan sebuah kolam retensi untuk menampung limpahan air dalam volume besar dari beberapa daerah sekitar sebelum dialirkan ke sungai. Sebuah terowongan bawah tanah pasti rentan terhadap banjir karena cekungannya. Pastinya sebuah terowongan selalu memiliki sebuah pompa air untuk mengangkat air yang menggenang di terowongan. Penuhnya air di terowongan pada awal-awal proyek ini selesai karena beberapa pompa belum dapat digunakan dan belum adanya kolam retensi di samping simpang.
Setelah sempurna terbangun, Surakarta memiliki ikon kota yang baru. Kami mobilitas dengan lancar; warung-warung seperti kafe dan angkringan banyak bermunculan. Hal ini membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya mempermudah kita, tetapi juga membangun perekonomian baru bagi warga sekitarnya. Uang yang digelontorkan untuk pembangunan sepadan dengan hasil yang terjadi. Banjir, macet dan tertahannya perekonomian dapat diatasi dengan satu hal saja. Penantian bertahun-tahun dengan kemacetan di mana-mana akibat penutupan Simpang Joglo terbayarkan dengan hasilnya, bagaikan pepatah “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Sakit selama proyek ini berlangsung tinggal kenangan dan kami sudah dapat menikmati hasilnya sekarang. (*)