Oleh Tiara Larasati
Sebuah gunung yang berdiri tenang di Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah. Gunung Ungaran dikenal sebagai salah satu gunung berapi tua yang sudah tidak aktif. Ketinggiannya mencapai 2.050 meter di atas permukaan laut. Dengan jalur pendakian yang cukup bersahabat untuk pendaki pemula. Di balik kesederhanaannya, gunung ini menyimpan banyak cerita tentang alam, kebersamaan, dan orang-orang yang membawa tujuan masing-masing.
Dari dulu aku ingin sekali mendaki gunung, tapi aku tidak tahu gunung mana yang cocok untuk pendaki pemula seperti aku. Aku ingin tahu seperti apa rasanya berdiri di atas ketinggian, melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Pada saat itu ada seorang temanku yang bercerita bahwa ia baru saja mendaki gunung. Ya, gunung itu adalah Gunung Ungaran. Aku mendengarkan cerita temanku betapa serunya dan menyenangkannya ia mendaki dengan teman-temannya. Sampai aku jadi memiliki keinginan untuk mendaki gunung itu juga. Setelah aku mendengarkan cerita temanku, aku mencari tahu di salah satu platform media sosial tentang pendakian Gunung Ungaran.
“Kayaknya aku bisa deh mendaki gunung ini,” gumamku dalam hati.
Keinginan itu lama hanya menjadi bisikan dan anganku saja. Sampai suatu hari, tanpa sengaja aku mendengar temanku membicarakan rencana untuk mendaki. Aku yang awalnya hanya mendengar langsung ikut nimbrung dalam percakapan tersebut. Entah kenapa, saat itu rasanya seperti kesempatan datang tanpa diminta. Setelah aku dan kedua temanku merencanakan pendakian ini, aku tidak berharap banyak karena takut pada akhirnya menjadi sebuah wacana saja.
Tapi ternyata… tidak, ini betul-betul terjadi!
***
Pagi itu, sekitar pukul 08.00, kami berangkat. Langit terlihat sangat cerah seolah memberi izin untuk memulai perjalanan. Jalanan yang kami lewati perlahan berubah. Dari suasana jalan raya yang ramai menjadi jalanan yang menanjak dan berliku dengan pemandangan yang lebih hijau dan terbuka. Perjalanan terasa lebih singkat dari yang kubayangkan, mungkin karena sepanjang jalan, mataku sibuk melihat pemandangan yang terasa berbeda, lebih tenang, dan lebih hidup.
Sesampainya di basecamp, aku langsung merasakan udara yang terasa lebih sejuk, padahal kelehatannya cuaca sangat cerah dan panas. Perasaanku saat itu campur aduk antara antusias, penasaran, dan gugup.
Setelah registrasi dan mempersiapkan segala perlengkapan, kami mulai melangkah menuju gerbang pendakian. Kami sempat berhenti untuk mengabadikan momen sebelum perjalanan benar-benar dimulai. “Oke, sebelum kita lanjut, semoga hari ini cerah dari kita naik sampai turun lagi, aamiin… Pokoknya kita jalannya santai aja, kalau capek ya istirahat dulu.
Langkah pertama terasa ringan, suara langkah kaki yang menyatu dengan suara alam, daun yang bergesekan, angin yang berhembus pelan, dan kicauan burung yang terdengar samar. Ada 5 pos pendakian dan setiap tiba di pos, kami beristirahat sejenak.
Seiring perjalanan, tubuh mulai merasakan perubahan setelah melewati track akar-akar pohon besar dan bebatuan yang juga tak kalah besar. Napas yang tadinya teratur mulai tersengal; kaki yang tadinya terasa ringan mulai terasa berat. Namun, setiap kali berhenti sejenak dan melihat sekitar, rasa lelah menjadi berkurang. Alam seakan memberikan jeda yang cukup untuk kembali melanjutkan langkah.
***
Sekitar menjelang siang, kami sampai di Puncak Bondolan di ketinggian 1.885 mdpl. Di sana kami beristirahat. Mengatur napas dan menikmati pemandangan yang terbentang di depan mata. Langit terlihat lebih luas. “Akhirnya kita sampai, bagus banget pemandangannya,” ujarku dan teman-temanku. Tidak lupa kami mengabadikan momen di plang puncak Bondolan. Saat itu kami berpikir perjalanan kami sudah cukup sampai di sana dan memutuskan untuk turun.
Namun, perjalanan tidak jadi berhenti di sana.
Kami bertemu empat pendaki lain yang ternyata merupakan teman-temanku. Mereka mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Botak, puncak tertinggi di Gunung Ungaran. Kami bertiga ragu karena sudah cukup lelah, tapi ada satu perasaan yang sulit dijelaskan: rasa sayang jika harus berhenti ketika tujuan sebenarnya sudah dekat.
Akhirnya, kami memilih untuk melanjutkan.
Perjalanan menuju puncak botak terasa lebih sunyi, disertai angin pelan. Jalurnya yang setapak tidak hanya menguji fisik, tetapi juga kesabaran. Setiap langkah terasa lebih berat, namun di situlah letak serunya. Kami jalan sambil berbincang dan bercanda sembari menikmati pemandangan.
***
Dan akhirnya sampailah pada Puncak Botak di ketinggian 2.050 mdpl. Semua rasa lelah terbayar dengan pemandangan yang lagi-lagi sangat amat indah. Terlihat beberapa gunung lain seperti Gunung Prau, Sindoro, Sumbing, Andong, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Lawu.
Hanya kami bertujuh yang berada di puncak botak, dari yang awalnya cerah berubah menjadi berkabut, menciptakan suasana tenang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kami berbagi camilan, berbincang ringan, bercanda tawa, dan sesekali hanya diam menikmati suasana. Tidak lupa mengabadikan momen di tugu dan pelakat atau plang puncak botak. Aku tidak hanya melihat pemandangan, tapi juga merasakan sesuatu yang lebih dalam “Gak nyangka aku bisa sampai sini”
Sudah puas kami menikmati, akhirnya kami turun
Perjalanan kami turun sangat dramatis. Tanah yang licin akibat gerimis membuat setiap langkah harus lebih hati-hati. Beberapa kali kami terpeleset, tertawa di tengah rasa lelah yang tersisa dan saling membantu satu sama lain. Kotor, lelah, tapi di situlah rasa kebersamaan dan kesenangan.
Kami tiba kembali di basecamp pukul 15.30 sore. Kaki mulai terasa pegal, pakaian penuh tanah, tapi hati terasa sangat happy.
Di perjalanan menuju arah pulang, kami berhenti sejenak untuk makan bakso. Momen sederhana ini terasa begitu hangat karena kami menjalaninya setelah perjalanan panjang yang penuh cerita.
Kemudian, kami berpisah arah. Masing-masing kembali ke tujuan yang berbeda, membawa cerita yang sama.
Dari perjalanan ini aku belajar bahwa keinginan sederhana bisa menjadi sesuatu yang sangat besar selama kita berani melangkah. Dan serunya bertemu orang baik, berkenalan dengan orang baru merupakan sesuatu yang sangat berkesan dalam menambah pengalaman baru dalam hidupku. (*)