Oleh Nur Fazria Rahma
Pagi itu, Desa Kalisidi masih diselimuti sisa-sisa mimpi. Kabut tipis menggantung rendah, menyentuh pucuk-pucuk daun dan perlahan menyusup ke jalur setapak yang akan kami lalui. Aku berdiri sejenak, menarik napas panjang, membiarkan udara dingin memenuhi paru-paru. Di sampingku, seorang teman mengencangkan tali sepatutnya. Wajahnya masih menyimpan sisa kantuk, tetapi matanya sudah memancarkan rasa penasaran.
“Kalau kita berangkat sekarang, kita bakal ditemani penghuni hutan, katanya,” ujarku. Ia mengangkat alis. “Penghuni hutan?”
“Monyet,” jawabku singkat.
Ia tersenyum kecil. “Semoga mereka lebih ramah daripada medan yang akan kita lewati.”
Kami mulai melangkah. Jalur awal masih bersahabat dengan tanah padat dengan sedikit bebatuan, diapit oleh pepohonan yang belum terlalu rapat. Cahaya matahari pagi menembus celah-celah daun, jatuh seperti serpihan emas yang menari di tanah. Suasana begitu tenang, hanya suara langkah kaki kami dan nyanyian burung yang saling bersahutan. Namun, ketenangan itu perlahan berubah ketika kami semakin masuk ke dalam hutan. Pepohonan menjadi lebih tinggi, lebih rapat, dan lebih tua. Akar-akar menjalar di permukaan tanah, menciptakan jalur alami yang indah sekaligus menantang. Tanah mulai lembap, sedikit licin, seolah mengingatkan bahwa perjalanan ini tidak bisa dianggap ringan.
Beberapa menit berjalan, kami mulai mendengar suara air. Gemericik halus, seperti bisikan yang memanggil dari kejauhan. Tak lama, kami tiba di sebuah sungai kecil. Airnya jernih, mengalir di antara batu-batu yang tertutup lumut hijau. Kami berhenti sejenak. Aku jongkok, menyentuh airnya yang dingin, segar, dan terasa hidup.
“Kalau ini baru pembuka, aku penasaran bagaimana yang di ujung sana,” kata temanku. “Kita akan tahu kalau terus jalan,” jawabku.
Kami melangkah melewati sungai itu dengan hati-hati. Batu-batu licin memaksa kami menjaga keseimbangan. Satu langkah yang salah bisa membuat kami basah sebelum waktunya. Namun, justru di situlah letak keseruannya: perjalanan ini bukan hanya tentang sampai, tapi juga tentang bagaimana kami melewati setiap rintangan kecil di sepanjang jalan.
Semakin jauh, jalur mulai menanjak. Tidak terlalu curam di awal, tetapi cukup untuk membuat napas mulai terasa lebih berat. Kami berjalan lebih lambat, menyesuaikan ritme tubuh dengan medan yang terus berubah. Di atas kami, terdengar suara ranting patah. Kami berhenti. Di balik dedaunan, seekor monyet muncul, lalu disusul beberapa lainnya. Mereka bergerak lincah dari satu cabang ke cabang lain, mengamati kami dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan rasa ingin tahu kami terhadap mereka.
“Benar juga,” bisik temanku, “kita tidak sendirian.” Aku tersenyum. “Kita cuma lewat di dunia mereka.”
Monyet-monyet itu tidak mengganggu. Mereka hanya menemani diam-diam, dari kejauhan, seperti penjaga jalur yang memastikan kami tidak tersesat. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri pada perjalanan pagi itu. Ada rasa liar, alami, dan sedikit magis yang sulit dijelaskan. Kami kembali berjalan. Jalur kini semakin menantang. Tanjakan menjadi lebih curam, dan beberapa bagian bahkan mengharuskan kami berpegangan pada akar atau batang pohon untuk menjaga keseimbangan. Keringat mulai mengalir, bercampur dengan udara dingin yang membuat kulit merinding.
“Ini baru setengah jalan atau bagaimana?” tanyanya, kali ini dengan napas sedikit terengah.
Aku tertawa pelan. “Kalau kamu sudah mulai bertanya begitu, berarti kita masih harus berjuang.”
Ia menggeleng, tetapi tetap tersenyum. “Baiklah, anggap saja ini bagian dari cerita yang nanti akan kita banggakan.”
Di tengah perjalanan, kami menemukan sungai kecil lain—lebih lebar, dengan arus yang sedikit lebih deras. Suaranya lebih jelas, seperti musik alam yang mengiringi langkah kami. Kali ini, kami memutuskan untuk berhenti lebih lama. Kami duduk di batu, melepas sepatu, dan merendam kaki di air. Dingin yang menusuk justru terasa menyegarkan, seperti menghapus lelah yang mulai menumpuk.
“Aku mulai mengerti kenapa orang-orang rela jauh-jauh ke sini,” katanya pelan. Aku mengangguk. “Karena keindahan seperti ini tidak bisa didapat tanpa usaha.”
Kami melanjutkan perjalanan dengan semangat baru. Namun, jalur di depan seakan tidak ingin memberi kemudahan. Tanjakan semakin curam, tanah semakin licin, dan beberapa bagian terasa seperti ujian kecil yang harus dilalui dengan kesabaran. Setiap langkah menjadi lebih berat. Napas semakin dalam. Kadang kami berhenti hanya untuk menarik napas dan melihat sekeliling. Dan setiap kali kami berhenti, hutan selalu memberi sesuatu—entah cahaya yang jatuh dengan indah, suara angin yang membawa ketenangan, atau sekadar rasa damai yang sulit dijelaskan.
Waktu terasa berjalan berbeda di sana. Tidak terburu-buru, tidak menekan. Seolah hutan memiliki ritmenya sendiri dan kami hanya mengikuti. Lalu, di antara suara langkah dan napas yang mulai tak teratur, kami mendengar sesuatu.
Suara yang berbeda. Lebih kuat. Lebih dalam.
Kami berhenti bersamaan. “Itu…?” tanya temanku.
Aku mengangguk. “Sepertinya kita sudah dekat.”
Suara air terjun itu semakin jelas seiring langkah kami. Ada semacam energi baru yang muncul, mendorong kami untuk bergerak lebih cepat meski tubuh mulai lelah. Jalur mulai sedikit menurun. Pepohonan perlahan membuka ruang. Cahaya matahari masuk lebih bebas, menciptakan suasana yang berbeda—lebih terang, lebih hidup. Dan kemudian, tanpa peringatan panjang, kami sampai.
Di hadapan kami, Curug Benowo berdiri megah.
Airnya jatuh dari ketinggian dengan aliran yang deras, menghantam batu di bawahnya dan menciptakan kabut halus yang menyebar ke udara. Suaranya menggema, memenuhi ruang, tetapi justru terasa menenangkan. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang kami lihat saat itu. Semua rasa lelah, semua tanjakan yang terasa menyiksa, semua langkah yang berat—lenyap begitu saja. Kami berjalan mendekat. Percikan air menyentuh wajah, dingin dan menyegarkan. Udara di sekitar air terjun terasa berbeda—lebih segar, lebih hidup, seolah membawa energi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Temanku berdiri tepat di depan aliran air, membiarkan dirinya basah oleh percikan. “Kalau perjalanan hidup selalu seperti ini, aku tidak akan pernah mengeluh,” katanya. Aku tertawa kecil. “Masalahnya, tidak semua perjalanan punya akhir seindah ini.”
Kami duduk di batu besar, memandangi air yang jatuh tanpa henti. Waktu terasa berhenti. Tidak ada lagi yang perlu dikejar. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan. Hanya ada kami, hutan, dan air terjun yang terus mengalir. Dalam diam itu, aku menyadari sesuatu— bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai tujuan. Tapi tentang setiap langkah yang kami ambil, setiap rintangan yang kami lewati, dan setiap momen kecil yang kami rasakan. Tentang tawa di tengah kelelahan. Tentang rasa takut terpeleset yang berubah jadi cerita lucu. Tentang monyet-monyet yang diam-diam menemani. Dan tentang bagaimana alam, dengan caranya sendiri, mengajarkan kami untuk lebih sabar, lebih peka, dan lebih menghargai proses.
Saat kami akhirnya berdiri untuk kembali, aku menoleh sekali lagi ke arah Curug Benowo. Air itu tetap jatuh, tanpa peduli siapa yang datang atau pergi. Dan aku tahu, suatu hari nanti, aku akan kembali. Bukan hanya untuk melihat air terjun itu lagi. Tapi untuk merasakan kembali perjalanan yang sama—langkah demi langkah, napas demi napas, hingga lelah kembali terbayar oleh keindahan yang tidak pernah berubah. Karena beberapa tempat bukan sekadar tujuan. Mereka adalah pengalaman yang tinggal di dalam diri, lama setelah perjalanan itu sendiri selesai.(*)