Palembang : Harmoni Sungai Musi dan Jejak Sejarah

Oleh Lili Kartika Sari

Saya memang tidak lahir di Palembang, tetapi saya tumbuh dan besar di Palembang, yang memberi saya sudut pandang yang khas tentang bagaimana sebuah kota menyimpan cerita di setiap sudutnya. Palembang bukan sekadar ibu kota Sumatera Selatan,melainkan ruang hidup yang dipenuhi jejak sejarah, budaya, dan kehangatan masyarakatnya.

Dari hiruk-pikuk pasar tradisional hingga tenangnya aliran Sungai Musi, semuanya menyatu menjadi irama kehidupan yang sulit dilupakan.Sungai Musi adalah nadi utama kota ini. Setiap hari, perahu-perahu kecil hingga kapal besar melintasi sungai yang membelah Palembang menjadi dua bagian. Di atasnyaberdiri megah Jembatan Ampera, ikon kota yang tidak hanya menghubungkan wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Saat malam tiba, cahaya lampu yang memantul di permukaan air menciptakan suasana yang begitu menenangkan sekaligus romantis.

Tak jauh dari pusat kota, berdiri Benteng Kuto Besak yang kokoh, peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini mengingatkan kita pada masa kejayaan Palembang sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan di masa lalu. Berjalan di sekitarnya, saya sering membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat dahulu yang penuh semangat dan strategi menghadapi dunia luar.Palembang juga dikenal sebagai kota yang kaya akan budaya. Tradisi dan adat istiadat masih dijaga dengan baik oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah kain songket, hasil tenunan yang indah dengan benang emas yang mencerminkan kemewahan sekaligus ketelitian. Bagi masyarakat Palembang, songket bukan sekadar kain, tetapi simbolIdentitas dan kebanggaan.

Berbicara tentang Palembang tentu tidak lengkap tanpa menyebut kulinernya. Pempek menjadi makanan yang paling dirindukan, dengan cita rasa gurih ikan yang berpadudengan cuko yang asam, manis, dan pedas. Selain itu, ada juga tekwan, model, dan pindang patin yang menggugah selera. Menikmati hidangan-hidangan ini, terutamabersama keluarga, selalu menghadirkan rasa hangat yang sederhana namun bermakna.

Tidak hanya itu, suasana pasar tradisional seperti Pasar 16 Ilir memberikan pengalaman tersendiri. Di sana, interaksi antara penjual dan pembeli terasa begitu hidup. Tawar-Menawar menjadi bagian dari budaya yang mempererat hubungan sosial masyarakat.

Sebagai warga Palembang, saya merasakan bahwa kota ini bukan hanya tentang tempat, tetapi juga tentang kenangan dan nilai kehidupan. Setiap sudutnya menyimpan cerita; setiap aromanya mengingatkan pada rumah. Palembang mengajarkan saya tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa bangga terhadap asal-usul.

Bagi saya, Palembang akan selalu menjadi lebih dari sekadar kota. Ia adalah tempat pulang, di mana Sungai Musi terus mengalir membawa cerita, dan di mana hati selalu menemukan jalan untuk kembali.(*)