Dukung SDGs, Kelompok KKN GIAT 16 UNNES Sediakan Biopori  Percontohan di Desa Watuurip

Mahasiswa KKN UNNES GIAT 16 WATUURIP Melakukan sosialisasi Penggunaan biopori untuk mengurangi sampah organic di Dusun Kaliluwung, Desa Watuurip Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Kamis (30/7/2026) (Dok. Tim KKN Giat 16 Watuurip)

BANJARNEGARA – Dalam upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)—khususnya penanganan sampah rumah tangga dan pelestarian lingkungan—Kelompok KKN GIAT 16 Desa Watuurip Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi serta pembagian lubang resapan biopori. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026, berlokasi di Dusun Kaliluwung RT 01 / RW 04, Desa Watuurip, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara

Program kerja berbasis keberlanjutan lingkungan ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, M.Pd. Adapun anggota kelompok mahasiswa KKN GIAT 16 UNNES yang terlibat terdiri dari Shendy Wibowo Putro, Aziizatun Nisa, Faisal Abul Khairi, Anindya Nursaila Zulfa, Neysa Amalia, Adinda Wahyu Handayani, Ahmad Imam M., Vara Mahesa Ayu, Arif Satria Tama, dan M. Winarno Burhanudin.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memaparkan tata cara pembuatan dan fungsi teknis biopori sebagai solusi pengelolaan sampah organik dapur. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi SDG poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) serta SDG poin 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengurangan pencemaran tanah dan sungai.

Sebagai langkah awal, tim KKN yang bermarkas di Posko Binangun Gunung RT 03 / RW 03 ini telah menyiapkan 11 unit biopori. Seluruh unit tersebut rencananya dibagikan satu unit per RT di Desa Watuurip sebagai percontohan agar memotivasi warga untuk membuat biopori secara mandiri.

Salah satu warga Dusun Kaliluwung RT 01 / RW 04, Sulastri, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di wilayahnya selama ini masih didominasi dengan cara dibuang ke sungai atau dibakar.

“Kebanyakan warga langsung buang ke sungai. Tapi ada juga sampah plastik yang dibakar. Dulu pernah buat galian tanah biasa untuk sampah, tapi kalau kena hujan cepat penuh dan tergenang air,” ungkap Sulastri saat ditemui di lokasi sosialisasi.

Pemanfaatan biopori diharapkan dapat mengatasi kelemahan galian sampah konvensional. Selain mengurai limbah sisa dapur menjadi pupuk kompos alami, biopori juga berfungsi meningkatkan daya resap air di dalam tanah guna mencegah genangan saat musim hujan.

Sulastri menyambut baik inisiatif dari mahasiswa KKN UNNES ini dan berharap sosialisasi tersebut dapat dipraktikkan secara berkelanjutan oleh warga.

“Harapan kami semoga warga sini bisa melaksanakan apa yang tadi disosialisasikan. Jadinya kan kita pupuknya enggak terlalu banyak beli, bermanfaat sekali untuk tanaman kita,” tutur Sulastri.

Melalui penyediaan 11 unit percontohan ini, kelompok KKN GIAT 16 UNNES menargetkan terciptanya kemandirian pupuk organik di tingkat rumah tangga serta berkurangnya pembuangan limbah sampah ke sungai di lingkungan Desa Watuurip.