Efek Konsumsi Makanan Cepat Saji Terhadap Kesehatan Remaja

Makanan cepat saji atau yang sering disebut fast food atau junk food adalah makanan yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Makanan cepat saji tentu menjadi kegemaran di kalangan masyarakat, terutama remaja. Selain memiliki menu yang beragam, penyajiannya yang cepat, praktis, dan enak, tentunya menjadi nilai lebih mengapa makanan cepat saji digemari. Akan tetapi, makanan cepat saji memiliki efek samping yang buruk apabila terlalu sering dikonsumsi. Makanan cepat saji memiliki kandungan kalori, lemak, gula, dan garam dalam jumlah yang besar, sedangkan kandungan nutrisi di dalamnya sangat sedikit.

Dengan kandungan nutrisi yang sangat rendah, tentunya memakan makanan cepat saji akan kurang bermanfaat. Tak hanya sia-sia, justru memakannya dalam jumlah besar akan membawa pengaruh buruk bagi tubuh. Berdasarkan teori yang ada dan hasil penelitian yang ditemukan, mengonsumsi junk food menyebabkan remaja mengalami peningkatan berat badan. Karena makanan cepat saji memiliki kandungan kalori dan lemak yang sangat tinggi. Apabila hal itu dibiarkan dan remaja terus menerus mengonsumsi junk food maka dapat berujung pada obesitas.

Mengonsumsi makanan cepat saji juga dapat menyebabkan hipertensi pada remaja. Lemak dan natrium yang berlebih dari makanan cepat saji dapat berisiko menyebabkan hipertensi. Berdasarkan data Riskesdas Republik Indonesia tahun 2007, penderita hipertensi di kalangan remaja di lndonesia berjumlah sekitar 8,4 %. Sedangkan di Jawa Tengah persentase penderita hipertensi di kalangan remaja sebesar 12,8% pada kelompok usia 15-24 tahun.

Sering mengonsumsi makanan cepat saji juga merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya masalah kesehatan, termasuk penyakit diabetes. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan cepat saji memiliki risiko lebih besar menderita diabetes, dibandingkan orang yang jarang mengonsumsi makanan cepat saji.

Konsumsi makanan cepat saji dapat meningkatkan risiko kanker, seperti kanker pada organ sistem pencernaan. Studi di Eropa menyebutkan, konsumsi makanan cepat saji yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko kanker. Hal ini karena makanan cepat saji kurang mengandung serat, namun tinggi gula dan lemak. 

Kemudian, meningkatkan faktor risiko penyakit jantung. Penyakit jantung menjadi salah satu efek dari mengonsumsi makanan cepat saji. Mengonsumsi makanan cepat saji yang terlalu sering, dapat mengakibatkan obesitas, penyakit jantung koroner akut, bahkan kematian. Salah satu penyebab terjadinya penyakit jantung adalah obesitas yang dialami seseorang. Hal ini karena obesitas meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung. Seseorang yang memiliki berat badan di atas rata-rata atau obesitas akan mengalami risiko penurunan fungsi jantung yang berujung pada kematian.

Efek samping yang dihasilkan makanan cepat saji tentunya lebih beragam dari yang disebutkan. Maka dari itu, sudah seharusnya menjadi kesadaran para remaja untuk memilih mengonsumsi makanan yang lebih bergizi dan bernutrisi, dibandingkan mengonsumsi makanan cepat saji yang tidak hanya rendah nutrisi tapi juga tidak baik bagi kesehatan. 

Mengonsumsi junk food secara berlebihan dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, karena kandungan gizinya kurang seimbang. Maka dari itu, remaja harus mulai sadar dan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi konsumsi junk food, contohnya dengan membatasi konsumsi junk food dalam waktu tertentu, mengganti makanan ringan dengan sayur dan buah, memakan makanan yang dimasak sendiri, berpuasa, memperbanyak konsumsi air putih, berolahraga, makan makanan yang tinggi gizi dan nutrisi.

DAFTAR PUSTAKA

Andhike S. S., Sugeng M., (2013). HUBUNGAN KEBIASAAN MENGONSUMSI JUNK FOOD DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA REMAJA DI SMA NEGERI 01 KUDUS.

Yesa L. A., Yustina K., (2017). KONSUMSI JUNK FOOD DAN OBESITAS TERHADAP REMAJA.

Wuri H., Siti R. O. P., Firda R., Marhaeni F. K., (2021). PENGARUH MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DALAM MENGIKLANKAN MAKANAN CEPAT SAJI DAN DAMPAK BAGI KESEHATAN PADA REMAJA.

Damiana N. M. H., (2019). UPAYA PENGURANGAN KONSUMSI JUNK FOOD UNTUK MENURUNKAN RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR.

Dhesti Lestari, Linda Selviana, Rahmazeni Ainun Zulfaa, Ilma Khalisatul Muntaha, dan Aliyya Hidayati