Pendekatan yang digunakan untuk mengajar matematika cenderung berfokus pada hafalan dan prosedur, sehingga peserta didik sering beranggapan bahwa matematika sebagai sesuatu yang abstrak dan sulit dipahami. Akibatnya, banyak peserta didik yang kehilangan keinginan untuk belajar dan mengalami kesulitan memahami konsep-konsep dasar matematika. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka di Indonesia membawa konsep baru dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang lebih kontekstual dan lebih fleksibel, yang berpusat pada pengembangan secara menyeluruh potensi dan karakter peserta didik. Pendekatan yang dimaksud yaitu, pendekatan realistik.
Pendekatan realistik dalam pendidikan matematika yang juga dikenal sebagai Realistic Mathematics Education (RME), adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang selaras dengan visi Kurikulum Merdeka. Metode ini yang awalnya dikembangkan oleh Hans Freudenthal di Belanda, menekankan betapa pentingnya matematika untuk kehidupan sehari-hari peserta didik dan bagaimana dapat digunakan untuk memecahkan masalah nyata. Dengan menggunakan pendekatan realistik, peserta didik diajari untuk memahami matematika sebagai alat yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah nyata. Dalam proses ini, mereka belajar mengaitkan konsep abstrak dengan situasi konkret yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga matematika menjadi lebih menarik untuk dipelajari.
Adapun langkah-langkah pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) adalah (1) Memberikan masalah dalam konteks; (2) Menyelesaikan masalah dengan cara sendiri; (3) Menimbulkan interaksi; (4) Membandingkan dan berbicara tentang jawaban; dan (5) Menyimpulkan hasil diskusi.
Kemudian hubungan pendekatan realistik dengan Kurikulum Merdeka yaitu, bahwa peserta didik tidak hanya diajarkan materi tetapi juga diajarkan untuk menggunakan pemikiran kritis, kreatif, dan aplikatif. Dengan demikian, pendekatan realistik dapat menjadi pendekatan yang sangat berguna untuk membuat pembelajaran matematika lebih bermakna dan menyenangkan. Pendekatan realistik juga mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah, yang memungkinkan mereka untuk belajar dari teman sekelas (tutor sebaya), membahas solusi, dan memperluas pemahaman mereka satu sama lain. Ini sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan bahwa bekerja sama adalah keterampilan yang penting di abad ke-21.
Meskipun pendekatan realistik memiliki banyak manfaat tetapi masih menghadapi beberapa masalah saat diterapkan di sekolah. Salah satu masalah utama adalah keterbatasan sumber daya. Selain itu, banyak guru belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk menerapkan pendekatan ini, kurikulum dan bahan ajar yang ada sering kali tidak mendukung pembelajaran berbasis konteks nyata, waktu juga menjadi hambatan untuk menerapkan metode ini. Dibandingkan dengan pendekatan tradisional yang lebih berfokus pada instruksi langsung, pembelajaran matematika dalam konteks dunia nyata sering kali membutuhkan lebih banyak waktu untuk diskusi dan eksplorasi.
Dengan menggunakan pendekatan realistik untuk menangani masalah keterbatasan sumber daya, guru dapat menggunakan lingkungan mereka sebagai sumber belajar. Seperti penggunaan benda-benda sederhana atau situasi nyata yang relevan dengan kehidupan peserta didik. Selain itu, diperlukan pelatihan dan workshop yang berfokus pada penerapan pembelajaran berbasis konteks nyata, didukung dengan komunitas belajar di mana guru dapat berpartisipasi, dan kolaborasi dengan komunitas sekolah. Masalah waktu yang terbatas dapat diatasi dengan perencanaan yang matang, seperti memprioritaskan topik tertentu dan mengelola kelas secara efisien dengan strategi seperti kerja kelompok. (*)
Oleh Viola Veronicha (Pendidikan Matematika UNNES)