Dari cerita yang saya dengar langsung dari ayah saya, ada sebuah kampung adat di Brebes yang unik dan penuh keaslian tradisi. Namanya Jalawastu. Meskipun belum banyak orang tahu, kampung ini sering disebut-sebut mirip dengan Suku Badui di Banten, karena masyarakatnya masih memperta adat dan budaya leluhur.
Ayah saya bercerita, Jalawastu berada di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Di balik ketenaran Brebes dengan telur asinnya, ternyata ada kekayaan budaya lain yang tidak kalah menarik.
“Masyarakat Jalawastu hidup sederhana,” kata ayah. “Mereka tidak makan daging. Nasi jagung jadi makanan pokok sehari-hari. Itu bukan hanya soal makanan, tapi bentuk penghormatan terhadap ajaran leluhur.”
Saya membayangkan sebuah kampung yang tenang, rumah-rumah bambu berdiri rapi, dan udara sejuk yang membawa aroma tanah basah.
“Ada aturan lain juga,” lanjut ayah. “Di sana tidak boleh memelihara hewan berkaki empat. Lalu ada beberapa tempat yang dianggap suci, tidak semua orang boleh masuk. Kalau mau masuk, harus seizin juru kunci.”
Saya mendengarkan dengan penuh rasa penasaran, membayangkan bagaimana masyarakat Jalawastu menjalani hari-harinya.
“Tapi mereka tidak sepenuhnya menolak perkembangan zaman,” kata ayah lagi. “Di sana ada listrik, ada juga alat komunikasi. Asalkan tidak melanggar adat, teknologi boleh digunakan.”
Inilah keunikan jalawastu yang membuatnya sedikit berbeda dengan suku badui asli di Banten. Mereka tak menolak kehadiran teknologi sebagai kemajuan zaman, namun juga tidak pula meninggalkan budaya serta ajaran leluhur. Sehingga menciptakan keharmonisan mengikuti kemajuan zaman dan juga menjaga identitas mereka.
Selain aturan sehari-hari, masyarakat Jalawastu juga menjalankan berbagai ritual adat. Salah satunya adalah sedekah bumi atau yang mereka sebut dengan upacara ngasa, kata ayah itu bertujuan untuk rasa bersyukur mereka dan supaya diberi keberkahan. Mirip-mirip seperti sedekah bumi di pinggir pantai. Selain itu juga, pada hari tertentu masyarakat membersihkan area gunung agar mendapat rezeki berupa tanaman yang subur, kesehatan, keberkahan dan lain sebaginya.
“Mereka semua berkumpul,” kata ayah. “Bawa hasil bumi, berdoa bersama, lalu ada acara makan bersama. Itu jadi momen penting buat menjaga hubungan antarwarga dan alam.”
Dari artikel yang saya baca pula, meskipun Kampung Adat Jalawastu belum banyak dikenal luas, kini kampung tersebut telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah pada Oktober 2024. Pengakuan ini merupakan bentuk penghargaan atas ketekunan mereka dalam mempertahankan budaya di tengah dunia yang terus berubah.
Dari cerita ayah, saya menyadari bahwa kekayaan budaya Indonesia bukan hanya ada di tempat-tempat terkenal, tetapi juga tersembunyi di sudut-sudut kecil yang penuh makna. Jalawastu menjadi pengingat bahwa kearifan lokal harus terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi mendatang, agar tidak pudar ditelan zaman.(*)
Oleh Muhammad Ibnu Farhan