Lari Jadi Tren Anak Muda, Ini Pesan Atlet Nasional DiSemarang 10K


SEMARANG – lari menjadi salah satu olahraga yang saat ini mulai banyak digemari dan menjadi tren di kalangan anak muda, terutama di kota-kota besar dengan lingkungan yang aktif dan penuh semangat. Biasanya, mereka bergabung dalam kelompok komunitas lari, ataupun berlatih berlari secara mandiri untuk membangun kebiasaan lari. Tak jarang pula, mereka ikut serta dalam ajang lari seperti pada acara Semarang 10K. Adanya tren lari kini membuat sebagian besar kalangan anak muda ikut terbawa rasa takut ketinggalan momen terhadap olahraga lari. Salah satu peserta Semarang 10K yaitu Lantang Bijak Satrio mengatakan bahwa rasa takut ketinggalan momen terhadap olahraga lari pada anak muda dapat memberikan dampak positif.
Salah satu dampak positif bagi mereka adalah tubuh menjadi lebih bugar dan sehat. ‘‘Menurut saya sebenarnya bagus. Tapi tetap harus sadar diri. Jangan langsung memulai lari jauh, kalaupun ingin lari jauh, minimal harus sadar diri,” Ucap Lantang kepada Kompas.com, Minggu (15/12/2024), sambil tersenyum.
Lantang menjelaskan bahwa ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan anak-anak muda saat ingin memulai kebiasaan berlari dengan benar. Pertama, lakukan latihan berlari dengan jarak secara bertahap. Misalnya, memulai dari jarak dua hingga tiga kilometer selama dua sampai empat minggu pertama untuk penyesuaian terlebih dahulu pada tubuh. ‘‘Jika tubuh sudah mulai terbiasa, boleh ditingkatkan lagi ke lima kilometer. Kalau memang sudah terbiasa, bisa ditingkatkan lagi. Tetapi jangan lupa juga untuk melakukan latihan penguatan otot” tutur Lantang.
Menurutnya, latihan dalam penguatan tubuh dalam olahraga berlari akan sangat membantu membentuk otot-otot kaki agar lebih kuat. Sehingga, para pelari dapat berlari dengan lebih cepat dan kuat. Lantang juga menyebutkan bahwa kebiasaan lari yang dibangun ternyata membuahkan hasil. Dirinya merasa memiliki metabolisme tubuh yang lebih baik dan lebih sehat. ‘‘Pada awalnya tidak begitu sulit, karena memang dasarnya sudah suka dengan olahraga sejak dulu. Selain itu, saya juga tidak merokok sehingga menjalani hidup sehat akan lebih mudah” tutur Lantang.
Hal serupa juga diungkapkan oleh pelari asal Kebumen, Ibnu Syams (23), yang juga ikut serta dalam tren olahraga berlari. Ia menyebut bahwa tren rasa takut ketinggalan momen ini membawa para anak muda kearah hal yang lebih positif. Selain menjaga kesehatan tubuh, Mereka juga belajar menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian.

“Berlari bisa menjadi pelepas stress juga, setelah bekerja atau sebelum kita beraktivitas pada pagi hari, lari sebentar saja sudah menjadi sesuatu yang baik,” ucap Syams dengan nada santai. Baginya, lari bukan hanya sekedar menjadi suatu ajang perlombaan untuk mengalahkan orang lain. ‘‘Kepuasan diri itu akan datang pada saat bisa melampaui batas kemampuan diri sebelumnya. Jadi lari bukan hanya soal siapa yang paling cepat, tetapi soal perjalanan mengalahkan diri sendiri saja,” ujarnya.
Sementara itu, atlet lari maraton nasional Odekta Elfina Niabaho, yang berhasil memecahkan rekor di Semarang 10K mengatakan bahwa rasa takut ketinggalan momen pada tren lari ini dikalangan anak-anak muda memberikan dampak positif. Kata Odekta‘‘Saya merasa ikut bangga bahwa anak muda Indonesia sudah mulai mengikuti tren tersebut, dan sekarang sudah banyak pula komunitas lain yang semakin bertumbuh menciptakan suasana positif”. Meskipun demikian, Odekta tetap berpesan kepada para anak-anak muda maupun pelari pemula untuk tidak terburu-buru dalam prosesnya. ‘‘Nikmati dulu proses kalian, Misal baru mampu lima kilo atau sepuluh kilo itu sambil dinikmati saja. Nikmati pertemanan larinya, jangan terburu-buru bersaing untuk mengalahkan orang lain. Dengan begitu, lari dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat” pungkasnya.

Nama : Aldida Kevin Najwa Fauzil Azim
Nim : 2502020112
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Dosen pengampu : Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, S.pd., M.Pd
Jenis Tulisan : Feature