Istirahat dari Dunia Digital: Tren Baru untuk Mengurangi Stres dan Kecemasan

Pernahkah kalian merasa cemas atau merasa ada yang kurang saat tidak memegang ponsel? Nyatanya itu merupakan suatu hal yang biasa, terlebih lagi di era digital, era dimana teknologi mendominasi, sebuah masa dimana hampir setiap orang dari berbagai kalangan menggunakan teknologi dalam aktivitas mereka. Ponsel dan media sosial sering menjadi sarana yang digunakan untuk berkomunikasi, belajar, atau sekadar mencari hiburan. 

Tercatat dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023) bahwa dari total 221 juta total orang di indonesai, 79% nya dipastikan menggunakan media digital. Namun seiring dengan semakin seringnya penggunaan teknologi, perasaan stres dan cemas pun sering kali dirasakan oleh para pengguna media digital.

Istirahat dari dunia digital menjadi salah satu keadaan untuk memberikan jeda waktu istihat bagi pikiran dari segala sesuatu yang ada di dunia maya, hal ini dilakukan dengan melepaskan diri sejenak dari penggunaan media digital seperti smartphone, laptop, dan media sosial lainnya. 

Dalam sebuah survei, DataReportal (2024) menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari untuk menggunakan media sosial. Konten-konten di media sosial yang terkadang berisi isu kontroversial, berita negatif, dan komentar-komentar yang kurang mengenakkan sering menimbulkan perasaan tidak baik seperti stres dan cemas.

Tren yang mengikuti standar media sosial juga menimbulkan perasaan tertekan karena tidak mampu mengikuti standar tren yang ada. Perasaan tidak dapat mengatasi hambatan dan tekanan ini lah yang akan menimpulkan stres yang berakibat pada perubahan pola pikir dan perilaku seseorang.

Dalam penelitian Politeknik Indonusa Surakarta (Susanto et al., 2025)  Penggunaan teknologi yang berlebih menimbulkan paparan informasi berlebih pada otak yang meningkatkan kadar kritisol, hormon stres, dan penurunan Kesehatan fisiologis secara keseluruhan. Hal ini akan menimbulkan kelelahan mental yang berujung pada penurunan kualitas hidup dan gangguan kecemasan.

Gejala yang sering dialami oleh orang yang menderita stres, seperti sakit kepala, sulit beristirahat, mudah tersinggung, sering kurang puas terhadap sesuatu hal, kecemasan berlebih, sering merasa gugup saat bersama orang lain, sering menyendiri, suka mencari perhatian, perfeksionis, sering merasa jenuh, serta menurunnya prestasi baik akademik maupun non akademik.

Dalam Leibniz Institute for Resilience Research, University Mainz, Germany, otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam memproses informasi digital. Ketika paparan informasi berlebihan terjadi, sistem kognitif mengalami kelelahan yang berujung pada peningkatan stres dan penurunan fokus.

Sebuah praktik yang dilakukan untuk melepaskan diri sejenak dari media digital, termasuk berbagai konten dan tren yang bertebaran di media sosial menjadi upaya untuk mengurangi stres dan gangguan kecemasan. Dengan berhenti sejenak dari menggunakan media sosial, seseorang bisa fokus pada kehidupannya di dunia nyata serta mengistirahatkan pikiran dari ransangan digital dan muatan informasi yang terus ter-update setiap saat. Dengan beristirahat sejenak dari media sosial dapat secara signifikan mengurangi gejala depresi ringan seperti stres dan gangguan kecemasan. 

Penelitian University College London (UCL), United Kingdom menunjukkan bahwa 39% studi menunjukkan tingkat kesejahteraan mental, 30% campuran, dan 30% tidak menunjukkan efek. Berdasarkan hasil itu, beristirahat sejenak dari media sosial efektif dalam meningkatkan kesejahteraan mentar terutama dalam pendekatan berbasis terapi.

Beristirahat dari media sosial dapat dimulai dengan memperbanyak aktivitas fisik maupun mengisi waktu luang dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca buku, memasak, atau sekedar berkumpul dan berbicara dengan teman.

Dengan mengurangi penggunaan media sosial, seseorang dapat mengurangi resiko stres dan kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan produktivitas, serta memperbaiki hubungan sosial dengan orang disekitarnya. 

Meski mengetahui itu, beberapa orang masih takut untuk meninggalkan dunia digital dengan alasan yang bermacam-macam seperti takut tertinggal informasi, tidak mengikuti perkembangan terbaru, ataupun sulit melepaskan diri dari dunia digital karena pekerjaan atau gaya hidup yang sulit diubah.

Terlepas dari itu, perubahan harus terjadi, bukan sebuah perubahan besar namun berani memulai dari sesuatu yang lebih kecil adalah yang terpenting. Tidak perlu lepas, namun cukup dengan mengurangi melalui aktivitas yang disukai. 

Pada kenyataannya media sosial bukanlah sebuah pengaruh yang buruk, semua tergantung pada intensitas penggunaan masing-masing, seberapa sering mereka menggunakannya, konten apa yang dilihat, dan tanggapan apa yang mereka berikan terhadap segala sesuatu yang muncul di media sosial. 

Konten negatif, berita kontroversial, komentar yang provokatif, semua menjadi pemicu seseorang untuk terkena gejala depresi ringan seperti stres dan kecemasan. Namun resiko terjadinya dapat dikurangi dengan melakukan istirahat sejenak dari segala aktivitas media sosial, memang tidak akan mudah dilakukan, namun semua dapat dicoba dari hal yang lebih sederhana dan terasa menyenangkan seperti beraktivitas dengan teman.

Istirahat dari dunia digital bukan sekadar tren, namun sebuah kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup demi memperkuat keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata. Mengambil jeda istrirahat dari layar HP bukan berarti ketinggalan zaman. Hal itu merupakan sebuah Langkah cerdas dan sederhana yang dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah hiruk-pikuk dunia digital.(*)

Oleh Fasa Irfatul Wilda