“KARET DAN WAKTU: HILANGNYA KARET TERKIKIS ZAMAN”

        Indonesia merupakan negara dengan seribu kekayaan alam, salah satunya adalah karet yang mempunyai peran penting dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Produksi karet di Indonesia merupakah komoditas terbesar kedua di dunia dengan jumlah mencapai 3,6 juta ton. Dengan potensinya yang cukup besar sebagai penyedia bahan baku, penyerap  tenaga kerja dan penghasil devisa tak heran rasanya jika karet menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Indonesia memiliki tiga provinsi penghasil karet terbesar. Memangnya ada apa saja sih? yuk cari tahu. Pada peringkat ketiga adalah Provinsi Jambi dengan  jumlah mencapai 317,6 ribu ton. Peringkat kedua adalah Provinsi Sumatera Utara dengan  jumlah mencapai 322,6 ribu ton, dan yang menduduki peringkat pertama yakni Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah mencapai 913,4 ribu  ton, sepanjang tahun 2022. Selain tiga provinsi tersebut daerah terbesar Indonesia berada di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Barat, Lampung, dan Bengkulu. Perkebunan karet Sidorejo adalah satu dari ratusan perkebunan karet yang tersebar di Indonesia. Tepatnya berada di Desa Branjang Ungaran Jawa Tengah. Perkebunan ini memiliki luas sekitar 132 hektare dengan kurang lebih 100 pekerja. Berdiri selama 61 tahun tepatnya di tahun 1962, perkebunan Sidorejo telah memproduksi karet secara konsisten sejak tahun berdirinya.

Pohon karet di perkebunan bervariasi tergantung luas lahan, dengan satu hektar lahan bisa memuat sekitar 400 pohon karet. Usia pohon karet yang siap disadap umumnya adalah 5-7 tahun, namun produktivitasnya akan optimal setelah usia tersebut dan bisa berlangsung hingga puluhan tahun, bahkan ada yang bisa mencapai umur 100 tahun. Pohon karet dapat disadap saat memasuki umur lima tahun. Sebelum proses penyadapan, kulit karet harus dibersihkan terlebih dahulu agar lateks tidak kotor. Pohon karet membutuhkan waktu satu sampai tiga jam untuk bisa dipanen. Pohon karet yang telah disadap akan menghasilkan getah karet atau yang sering dikenal sebagai lateks. Proses penyadapan getah karet;

  1. Persiapan Alat dan Pohon

Penyadapan dilakukan pada pohon karet yang telah mencapai usia dan diameter tertentu (sekitar enam tahun dan diameter 150 mm). Alat yang digunakan adalah pisau sadap dengan mata pisau khusus untuk membuat irisan pada kulit pohon. 

  • Membuat Alur Sadap

Penyadap akan membuat irisan dangkal pada kulit pohon dengan hati-hati menggunakan pisau berkait. Kedalaman irisan harus sesuai agar tidak melukai jaringan kambium pohon, namun cukup dalam untuk membuka pembuluh lateks. 

  • Pengeluaran Lateks

Setelah irisan dibuat, lateks akan mengalir keluar dari pembuluh lateks di bawah kulit pohon. Waktu terbaik untuk penyadapan adalah pagi hari saat tekanan turgor tanaman maksimum dan suhu masih rendah. 

  • Pengumpulan Lateks

Lateks yang menetes dikumpulkan dalam mangkuk atau wadah yang dipasang di pohon, kemudian dikumpulkan secara bertahap ke tempat pengumpulan hasil (TPH). 

    Setelah getah karet atau lateks tersebut dipanen, getah akan dikumpulkan dalam satu tangki dan dikirim ke tempat produksi. Setelah itu getah langsung dialirkan ke bak pembekuan dalam proses ini getah harus dicampur dengan air yang mengalir agar tidak mengumpal. Dan busa yang mengapung disaring dan dicampurkan dengan bahan kimia seperti formalin lalu ditutup agar idak kotor. Langkah-langkah pengolahan getah karet;

  1. Penyadapan (Penerimaan Lateks)

Proses ini melibatkan pembuatan sayatan pada kulit pohon karet (Hevea brasiliensis) untuk mengeluarkan lateks atau getah. Lateks ini kemudian ditampung dalam mangkuk. 

  • Pengenceran (Opsional)

Lateks yang baru didapat bisa diencerkan dengan air bersih untuk menyaring kotoran dan menstabilkan kadar karet kering (KKK), sehingga proses pengolahan dan mutu bisa terjaga. 

  • Pembekuan (Koagulasi)

Lateks ditambahkan bahan kimia pembeku, seperti asam semut atau asam format, untuk membuat lateks mengeras menjadi gumpalan. 

  • Penggilingan (Peremahan)

Gumpalan lateks kemudian digiling dengan mesin untuk memecahnya menjadi lembaran-lembaran atau serpihan. 

  • Pengeringan

Lembaran karet yang sudah digiling kemudian dikeringkan, baik dengan dijemur di bawah sinar matahari atau dikeringkan di dalam rumah asap untuk mendapatkan karet yang lebih padat dan berubah warna menjadi kecoklatan. 

  • Pengemasan

Karet yang sudah kering akan disortir, diklasifikasikan berdasarkan mutunya, dan kemudian dikemas dalam bentuk bongkahan atau bandela untuk siap dikirim ke industri. 

          Tahap terakhir adalah proses packing, dimana karet akan dipress lagi lalu diikat dan dicat putih agar tidak saling menempel saat proses distribusi. Setelah getah karet selesai dipacking karet akan diangkut dan siap didistribusikan ke Surabaya dan beberapa kota besar lainnya. Pada tahun 2022 Indonesia diperkirakan memproduksi sekitar 3,14 juta metrik ton karet, bernilai 3,5 miliar dolar as atau senilai 53,7 milliar rupiah pada tahun 2022. Dibandingkan dengan tahun 2022, di tahun 2023 Indonesia hanya memproduksi 1,32 juta metrik ton karet. Dengan jumlah bernilai 1,3 miliar dolar atau sekitar 20 milliar rupiah pada tahun 2023, bisa dikatakan tahun 2023 produksi karet di Indonesia mengalami penurunan cukup signifikan. Oleh karena itu penurunan jumlah produksi dan juga ekspor di Indonesia sangat berpengaruh dengan banyaknya pemecatan karyawan di PT. Sidorejo.

Lolita Chelsea_2502020095_R3