Oleh Fina Rahma Saniyah
Sebuah wisata seharusnya akan ramai oleh para pengunjung yang ingin menghabiskan waktu atau menghibur diri sejenak dari lelahnya kegiatan sehari-hari mereka, seperti wisata alam yang ada di kampung halamanku.Wisata Alam Prabu terletak di Desa Tirtomoyo yang menawarkan keindahan alam yang masih asri. Aku tidak menyangka bahwa wisata yang dahulunya ramai dibicarakan oleh banyak orang dan dapat menarik banyak pengunjung kini terasa berbeda. Tempat yang dahulunya menjadi penghilang penat kini hanya tersisa kicauan burung untuk mengisi kesendirian.
Aku teringat cerita orang-orang tua di desa tentang ramainya wisata ini, terutama saat akhir pekan. Bahkan, setiap tahun pasti terdapat pertunjukan tari ebleg yang sering digelar di sana, menghadirkan suara gamelan yang menari-nari di telinga dan sorak gembira para penonton yang ramai.
Perjalanan menuju lokasi wisata membawaku pada kenangan masa kecil. Jalan desa yang kukenal sejak dulu masih sama. Pepohonan hijau di sebelah kanan dan kiri memanjakan mata dan menenangkan hati. Pepohonan di sepanjang jalan juga menjadi saksi perubahan waktu yang perlahan menggeser keramaian menjadi kesunyian.
Aku sampai di pintu masuk Wisata Alam Prabu. Terasa sepi namun masih terawat; tidak ada kesan terbengkalai, hanya saja wisata ini kehilangan pengunjungnya. Aku menuju loket tiket. Terdapat penjaga yang duduk di sana dengan senyum lebar, seolah tahu bahwa aku adalah anak desa yang kembali dari tanah rantau.
Aku dipersilakan masuk tanpa membayar karena aku adalah orang asli daerah tersebut. Suasana di dalam wisata terasa begitu sunyi tanpa ada suara riang seperti yang kubayangkan. Walaupun terasa begitu sunyi, aku disambut dengan suara serangga dan burung yang bernyanyi seakan-akan menyapaku. Pohon hijau dan bunga yang mekar menambah keindahan wisata itu.
Dengan langkah yang pelan aku mulai menaiki ratusan anak tangga untuk menuju puncak wisata itu. Dulu tangga ini sering dipenuhi oleh pengunjung yang naik sambil bercanda riang dan beristirahat sebentar sebelum sampai di puncak ataupun turun. Sekarang hanya ada suara langkah pelan kakiku yang terdengar dan menggema di antara pepohonan yang rimbun.
Di pertengahan perjalanan aku memilih berhenti karena kelelahan. Saat beristirahat, aku memandang sekitar, terutama ke arah bawah. Aku tersenyum getir. Aku melihat dari atas betapa sepinya tempat ini sekarang. Sulit dipercaya tempat yang menjadi salah satu tempat yang ramai dipenuhi orang kini lenyap seperti dicabut hak bicaranya.
Sesampainya di puncak wisata, aku disambut oleh hamparan pemandangan hijau dan angin yang menenangkan. Suasana itu berhasil menghipnosisku. Semua beban dan lelahku seakan sirna digantikan dengan keindahan di depanku. Di puncak wisata ini terdapat tempat bersejarah yang menurut para warga desa adalah petilasan sosok tokoh terkenal bernama Mbah Prabu.
Aku mendekat perlahan ke arah petilasan itu. Aku merasakan wawa dingin dan suasana di tempat itu terasa lebih hening dibandingkan dengan tempat yang lain. Terdapat pagar sederhana yang mengitari pondok kecil. Walaupun bangunan tersebut begitu sederhana, ia memiliki kenangan dan sejarah yang panjang, bahkan sebelum aku terlahir ke dunia. Aku seperti diingatkan bahwa tempat ini bukan sekadar wisata, tetapi bagian dari sejarah Desa Tirtomoyo.
Saat aku sedang mengamati pondok, aku merasa ada seseorang yang mengamatiku, tapi aku tidak melihat siapa pun. Bulu kudukku berdiri; rasa takut dan rasa waspadaku muncul tiba-tiba. Aku seperti diingatkan tentang kenangan masa lalu yang ada di wisata tersebut.
Aku memutuskan untuk pulang. Perlahan aku menuruni ratusan anak tangga dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Aku tersadar Wisata Alam Prabu bukan sekadar wisata di kampung halamanku, melainkan tempat yang menyimpan banyak kenangan, cerita, sejarah, dan mungkin terdapat sesuatu yang belum sepenuhnya hilang walaupun terlihat sepi.(*)