Ayo Lestarikan Baritan

Oleh Mezi Firdaus Arisky

Aku pertama kali mengenal tradisi Baritan ketika melakukan tugas penelitian lapangan di Desa Asemdoyong, Kabupaten Pemalang. Pengalaman ini menjadi sesuatu yang berkesan karena aku tidak hanya membaca tentang tradisi, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat menjalaninya dengan penuh makna.

Aku melihat bahwa Desa Asemdoyong merupakan desa pesisir yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada laut. Sebagian besar warganya bekerja sebagai nelayan, sehingga laut bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya mereka.

Aku merasakan bahwa hubungan antarwarga di desa ini sangat kuat. Mereka hidup dengan menjunjung tinggi kebersamaan dan tidak memandang perbedaan status sosial. Hal ini terlihat dari cara mereka saling membantu dalam berbagai kegiatan.

Aku mulai memahami bahwa tradisi Baritan bukan sekadar acara biasa. Tradisi ini adalah ritual tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Sura atau 1 Muharram. Pada hari itu, para nelayan bahkan tidak melaut agar bisa ikut serta dalam kegiatan bersama.

Aku menyaksikan bagaimana masyarakat mempersiapkan tradisi ini dengan penuh gotong royong. Mereka bersama-sama menyiapkan sesaji yang memiliki makna simbolis, termasuk kepala kerbau yang melambangkan pengorbanan dan kerja keras.

Aku juga mengetahui adanya prosesi penyerahan sesaji yang disebut masrahaken. Dalam prosesi ini, masyarakat menyerahkan berbagai jenis sesaji kepada panitia sebelum akhirnya dibawa ke laut untuk dilarung.

Aku merasa kagum ketika melihat iring-iringan perahu yang dihias membawa sesaji ke tengah laut. Suasana tersebut sangat meriah sekaligus sakral, menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi masyarakat.

Aku menyadari bahwa puncak acara terjadi saat sesaji dilarung ke laut. Setelah itu, masyarakat melakukan tradisi manganan, yaitu berebut makanan sebagai simbol mencari berkah agar hasil laut melimpah.

Aku memahami bahwa tradisi Baritan mengandung banyak nilai, seperti rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan pentingnya kebersamaan dan solidaritas sosial.

Aku juga melihat adanya nilai gotong royong yang sangat kuat dalam pelaksanaan tradisi ini. Semua warga terlibat aktif, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, sehingga menciptakan rasa persatuan yang erat.

Aku menyadari bahwa pada era modern, tradisi ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dari generasi muda yang mulai kurang memahami maknanya. Oleh karena itu, menurutku penting untuk terus melestarikan tradisi Baritan agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak hilang.(*)