Rahim Alam Bernama Blora

Oleh Umi Salamah

Blora merupakan salah satu kabupaten yang terletak di timur Jawa Tengah, berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Timur. Daerah ini dikenal sebagai kawasan yang tenang dengan bentang alam yang luas dan masih alami, serta kehidupan masyarakat yang sederhana dan bersahaja. Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dan potensi alam yang melimpah, Blora menyimpan banyak cerita yang berhubungan dengan lingkungannya. Kehadiran bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi juga sebagai ruang hidup yang membentuk karakter, budaya, dan cara pandang masyarakatnya dari waktu ke waktu. 

Dulu, waktu aku masih kecil, aku selalu berpikir bahwa Blora hanyalah kota kecil yang tidak memiliki apa-apa. Di setiap sisi hanya terlihat hutan-hutan yang membuat suasana terasa sepi, seolah kehidupan berjalan pelan dan sunyi. Yang paling kuingat justru kebiasaan orang-orangnya yang suka menyapa dengan teriak saat berpapasan di jalan—ramai, akrab, tapi terasa aneh bagiku waktu itu. Semua tampak sederhana, bahkan cenderung membosankan. Namun, semuanya mulai berubah ketika aku menginjak SMA dan menemukan ketertarikan pada bela diri Taekwondo. Dari sekadar mencoba, aku perlahan larut di dalamnya. Latihan demi latihan kulewati hingga tanpa sadar aku dan teman-teman mendapat kesempatan mengikuti POPDA. Saat itu aku mulai merasa mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar kota kecil yang selama ini kupikir biasa saja.

Hari perlombaan pun tiba. Kami berangkat menuju GOR Blora dengan sepeda motor, menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit. Awalnya kupikir perjalanan ini akan membosankan, tetapi ternyata tidak. Langit terbentang biru keabu-abuan, jalanan berkelok naik turun, dan angin menemani sepanjang perjalanan. Di kanan kiri, hutan-hutan yang dulu terasa sepi kini tampak berbeda—lebih hidup, lebih bermakna. Pohon-pohon yang berjajar itu seolah menyimpan cerita yang selama ini tak kusadari. Di situlah aku mulai mengerti: Blora bukan sekadar tempat yang sunyi, melainkan ruang yang diam-diam menyimpan keindahan, perjalanan, dan kenangan yang tumbuh bersamaku.

Di perjalanan, aku berboncengan dengan seorang teman laki-laki, melintasi jalanan Blora yang terasa tenang dan damai. Angin berembus lembut, seolah membawa bisik-bisik alam yang menenangkan jiwa. Sepanjang jalan kami berbincang ringan, larut dalam suasana yang begitu hidup namun tetap hening. Sesampainya di sana, kami menyapa pagi dengan sarapan sederhana khas Blora, yaitu dua porsi pecel dan teh hangat, sehangat sneha (keakraban) yang mengalir di antara kami sebelum perlombaan dimulai. Namun, saat siang beranjak, langit berubah muram; awan hitam menggantung seperti tanda dari alam, seperti dugaan, hujan pun turun. Aku memilih menunggu, sementara temanku berlari mengambil jas hujan dengan penuh perhatian, tetapi aku menolak dan kami tetap bertahan dalam jeda waktu yang terasa panjang.

Setelah setengah jam berlalu, kami akhirnya pulang dalam rintik gerimis yang lirih, seperti nyanyian alam yang pelan. Saat melewati alun-alun, suasana begitu ramai—pedagang oleh-oleh, aroma soto dan sate, serta pertunjukan barong yang menjadi rūpa (wujud) budaya Blora, berakar dari kisah Panji dan hidup dalam tradisi rakyat. Kami tak sempat singgah, hanya melintas bersama waktu yang terus berjalan. Hingga di tengah perjalanan, temanku menghentikan langkah. Aku pun bingung. Ternyata, dia ingin aku mengabadikan momen bersamanya dengan senja yang perlahan tenggelam di barat, memancarkan cahaya jingga di antara pepohonan tinggi dan bukit-bukit yang bertumpuk. Dalam diam itu, aku mengerti bahwa perjalanan ini bukan sekadar langkah, melainkan rasa yang menetap dan tak akan hilang.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Roda terus berputar membelah jalan yang dipeluk pepohonan yang rindang. Dalam langkah yang mengalir itu, aku bertanya dengan polos, “Kenapa dari tadi kita seperti melewati hutan terus, mana jati lagi… pohonnya kan jelek?” Ucapanku melayang begitu saja di antara angin. Temanku tersenyum, lesung pipinya terpantul manis di kaca spion, lalu menjawab dengan nada ringan namun penuh makna, “Karena Blora memang hidup dalam napas jati. Ia bukan sekadar pohon, tapi warisan yang dijaga sejak lama. Bahkan ada Jati Denok yang usianya telah melampaui ratusan tahun. Sejak masa Mataram hingga penjajahan Belanda, tanah ini dikenal sebagai penjaga kayu terbaik, hingga pernah diperebutkan karena keunggulannya.”

Kata-katanya jatuh perlahan ke dalam benakku, seperti hujan yang meresap tanpa suara. Aku terdiam, menatap jalan yang sama, pepohonan yang sama, namun kini terasa berbeda. Yang semula tampak biasa berubah menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang panjang. Perjalanan itu seakan belum selesai mengajarkanku tentang Blora. Di tengah ingatan tentang hutan jati dan kisah yang baru saja kudengar, temanku kembali membuka cerita lain—tentang tanah yang tak hanya hidup di permukaan, tetapi juga menyimpan kekayaan di dalam perutnya. Ia menyebut Blora sebagai kota minyak, tempat di mana bumi mengalirkan energinya sejak lama. Pikiranku pun melayang pada Sumur Minyak Tua Ledok, sumur-sumur tua yang tetap berdiri dan bekerja dalam diam, seolah menjadi saksi waktu yang tak pernah benar-benar berhenti.

Aku membayangkan bagaimana di balik kesunyian dan kesederhanaan Blora, ternyata Blora juga menjadi penghasil minyak tua di Indonesia. Terdapat denyut kehidupan lain yang tersembunyi—minyak yang perlahan ditimba, tangan-tangan yang terus bekerja, dan sejarah panjang yang mengalir bersama setiap tetesnya. Dari hutan jati yang menjulang hingga kedalaman bumi yang menyimpan energi, semuanya seakan menyatu dalam satu cerita utuh. Blora, khususnya wilayah Kecamatan Cepu , daerah ini terkenal dengan sumur-sumur minyak tua peninggalan Belanda yang masih dikelola secara tradisional oleh warga serta memiliki potensi Blok Cepu yang dikelola bersama. 

Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari pikiranku, hingga aku kembali bertanya, “Oh iya, tadi kamu lihat nggak sih di alun-alun? Banyak orang pakai baju hitam; ada juga yang pakai kebaya.” Temanku yang sejak tadi tampak begitu paham tentang Blora kembali tersenyum, lalu menjawab pelan, “Itu masyarakat Samin atau dulu kerap disebut kaum Samin atau Sedulur Sikep.” Ia menjelaskan bahwa mereka adalah kelompok masyarakat adat yang masih menjaga ajaran leluhur—hidup jujur, sederhana, dan selaras dengan alam. Pakaian hitam yang mereka kenakan bukan sekadar busana, melainkan simbol kesederhanaan dan keteguhan hidup yang mereka pegang sejak lama.

Ia juga menambahkan bahwa hari itu bertepatan dengan peringatan hari jadi Blora, sehingga banyak masyarakat Samin yang hadir dan mengenakan pakaian adat mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi. Aku terdiam sejenak, membayangkan makna di balik warna hitam yang tampak sederhana, namun ternyata menyimpan filosofi yang dalam. Di tengah keramaian alun-alun, mereka hadir bukan hanya sebagai bagian dari perayaan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, masih ada nilai-nilai yang dijaga dengan setia.

Perjalanan empat puluh menit itu, yang semula terasa singkat dan biasa, perlahan menjelma menjadi ruang perenungan yang dalam—membuka tabir tentang Blora yang selama ini tak benar-benar kupahami. Dalam waktu yang sekejap, aku diajak mengenal bukan hanya apa yang tampak di permukaan, tetapi juga sejarah, budaya, dan jiwa yang berdenyut di dalamnya. Dari jalan yang berkelok, cerita yang mengalir, hingga makna yang diam-diam tumbuh. 

Pada akhirnya, yang paling membekas dari perjalanan itu bukan hanya tempat yang dilalui, melainkan kehadiranmu yang diam-diam memberi makna. Cara pandangmu, tutur katamu, dan pengetahuan yang kau bagikan dengan begitu tulus telah mengajarkanku banyak hal tanpa perlu terasa menggurui. Mungkin benar adanya bahwa seseorang bisa hadir di waktu yang tepat dan mengubah cara kita memahami banyak hal. Dan dari semua yang kulalui hari itu, aku menyadari—bahwa yang paling berkesan bukan hanya perjalanannya, tetapi dirimu yang telah menjadi bagian penting di dalamnya. Benar kata orang Blora itu indah, tapi setelah aku mengenalmu, aku sadar keindahan itu masih kalah jauh dari caramu hadir dan memberi makna.(*)