Cerita Makam Mbah Demang: Kisah Masa Lalu Bersama Orang Terkasih

Pagi itu bukanlah seperti pagi yang biasa. Semuanya sibuk di dapur. Entah apa yang mereka siapkan. Aku hanya terbangun tanpa minat. Setelah udara terasa panas, diriku memilih beranjak dari tempat ternyaman apalagi kalau bukan kasur kesayanganku. Aku melihat apa yang sedang dilakukan oleh orang rumah, yaitu nenekku. Dia terlihat sedang memasak sesuatu dengan jumlah yang banyak dan dibantu pula oleh ibuku. Mereka seperti sedang membuat nasi uduk jika tercium dari bau harum yang semerbak.

“Nek, lagi masak nasi uduk ya?” ucapku sembari menengok dandang di atas kompor. Aku pun beranjak dari sana dan melihat ibuku juga memotong tempe dan kacang panjang. Sebenarnya aku tidak ada niatan membantu dikarenakan aku baru bangun, jadi sangat malas sekali untuk membantu. Mungkin nanti, batinku. 

Aku bergegas menuju kamar mandi dan segera bersiap untuk sarapan daripada dilempar panci oleh ibuku.

Sore pun tiba, entah sudah berapa lama kedua anggota keluargaku itu di dapur. Aku harap dapur tidak menjadi hancur sebab hawa tegang dari mereka berdua. Bukan menjadi hal yang asing lagi jika melihat hal itu. Sudah sangat wajar jika hal itu terjadi. Ibuku dan nenekku bukanlah orang yang mudah untuk bersatu bahkan berdamai. Entah apa yang mereka perdebatkan.

Sore yang indah tadi tergantikan oleh sang bulan. Orang-orang berbondong menuju ke sana setelah Isya. Aku pun ikut dengan ibuku ke sana. Kami berdua menggunakan pakaian muslim atau biasa disebut gamis. Biasanya memang kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Muharram tetapi aku belum tahu makna dari kegiatan yang kami lakukan ini. Aku pernah berpikir jikalau ini musyrik tetapi aku orang Jawa yang terlalu banyak mitosnya. 

Kami pun segera pergi ke makam Mbah Demang dengan nasi uduk yang sudah kami buat. Bukan hanya di keluargaku saja tetapi dari warga lain juga membuatnya. Mungkin jika di desa lain hal seperti ini akan dilakukan di punden akan tetapi jikalau di dukuhku akan dilakukan di sini. Meskipun di sini bukanlah punden seperti di desa lainnya.

Acara dimulai dengan adanya pembacaan salawat seperti saat tahlilan atau pengajian pada umumnya. Sebenarnya ini adalah kegiatan seperti ziarah saja jika diamati akan tetapi hanya berlaku setia setahun sekali. Para warga juga antusias dalam melakukan pengajian itu. Bahkan sebelumnya, saat pagi hari para bapak-bapak turut membersihkan makam tersebut. Meskipun makam itu sudah tergolong bersih. Lokasi dari makam itu bukanlah yang tergolong terpencil dan terkesan mistis tetapi tepat di belakang masjid di samping rumah kiai. Setelah selesai berdoa waktunya makan nasi uduk yang dibuat oleh warga tadi. Kami tidak makan nasi uduk buatan kami sendiri akan tetapi buatan yang lain. Kami makan bersama-sama dalam wadah yang sama. Ada juga yang membungkus menggunakan daun pisang. Aku merasa gembira bisa merasakannya bersama warga yang lain.

Kini, sudah bertahun-tahun lamanya aku tak pernah mengikuti kegiatan itu lagi. Kegiatan yang sangat sibuk membuat diriku kesulitan untuk kembali pulang ke rumah. Jadi aku hanya bisa berkabar dengan keluargaku dari jauh. Apalagi setelah kepergian nenekku, mungkin sudah sekitar tiga tahun yang lalu. Aku masih saja penasaran dengan makam Mbah Demang. Temanku yang berbeda desa dengan aku saja kaget jika di dukuhku ada yang namanya Mbah Demang karena di desanya juga ada nama Demang Waru. Jadilah aku menelepon ibuku malam itu.

“Assalamualaikum, Ibu. Lagi apa?” ucapku.

“Waalaikumsalam, Nduk. Ibu lagi nonton televisi. Kenapa, Nduk?”

“Aku mau tanya tentang makam Mbah Demang. Dulunya kok bisa ada di sana itu gimana?”

“Ibu juga kurang tahu, Nduk. Akan tetapi Mbah Demang itu masih ada keturunan dari Kerajaan Mataram Islam,” jawab ibuku.

Akhirnya aku mengakhiri telepon karena aku merasa belum ada jawaban yang pasti. Diriku mulai mengulik sedikit demi sedikit tentang kisah di balik adanya makam Mbah Demang. Namun, makin diulik makin susah untuk ditemukan. Narasumber demi narasumber dicari namun tidak ada hasil yang signifikan. Diriku merasa frustasi dengan hal ini. Aku berpikir mungkin ini bukanlah takdirku untuk mengetahui tentang makam tersebut.

Sampai saat ini aku pun masih penasaran dengan cerita asal mula makam tersebut ada di dukuhku. Sebab di dukuh lain pun memiliki makam yang berbeda. Bukan untuk dikeramatkan maupun memberi sesajen akan tetapi makam itu hanya sebagai penghormatan bahwa sosok beliau berjasa bagi tempat tinggalku. Tidak pernah terdengar cerita mistis yang beredar di kalangan warga tentang makam tersebut. Alhasil makam tersebut seperti makam pada umumnya.

Jika ditanya tentang perasaanku ketika ikut dalam acara pengajian itu, mungkin yang aku rasakan adalah rasa bosan dan mengantuk. Bagaimana tidak mengantuk, acaranya saja dilakukan setelah Isya yang notabenenya aku harus segera belajar dan tidur malam. Akan tetapi dapat bertemu dengan teman dan warga lainnya menjadi hal yang menyenangkan. Jarang sekali aku berkumpul dengan teman-teman karena kami sibuk dengan pendidikan yang kami jalani. Apalagi dengan keluargaku yang tentunya masih ‘lengkap’ hal itu memberikan kenangan tersendiri untuk diriku.

Sama halnya saat aku dan teman-teman takbiran di masjid. Kami pun dapat melihat jelas bentuk dari makam Mbah Demang itu. Seperti makam pada umumnya dengan atap rumah sederhana. Jika untuk ke sana sendiri pun diriku berani akan tetapi aku takut dengan hewan melata dikarenakan dekat dengan sungai kecil atau embung di belakangnya yang sedikit berbahaya. Aku lebih takut tiba-tiba ada ular daripada sejenis hantu yang melayang. Kita boleh percaya pada hal mistis akan tetapi jangan membuat hal itu menjerumuskan kita ke dalam hal yang negatif dan tidak sesuai dengan ketentuan agama.(*)

Oleh Indah Novitasari