Tentang Makam Adipati Mangkupraja II

Di hamparan dataran subur di wilayah Kroya, Kabupaten Cilacap, berdiri sebuah desa yang memiliki luas cukup besar: Desa Pekuncen. Di sana terdapat salah satu peninggalan sejarah yang hingga saat ini masih tetap terjaga keberadaannya. Peninggalan tersebut berupa makam Adipati Mangkupraja II yang dinilai oleh masyarakat sekitar sebagai makam leluhur dari desa tersebut. 

Desa pekuncen merupakan salah satu desa di Kecamatan Kroya yang dibagi menjadi 6 dusun, yaitu Dusun Gandaria, Pungla, Putan, Medang, dan Kubangwungu. Jarak dari setiap dusun ke dusun lainnya juga cukup jauh yang menandakan bahwa desa tersebut memiliki luas yang cukup besar. 

Nama desa tersebut didasarkan pada sejarah yang dahulu terjadi di desa Pekuncen, yaitu dari kata pekunci yang memiliki makna bahwa desa tersebut menjadi desa yang mengunci Raden Adipati Mangkupraja II, kemudian seiring berjalannya waktu nama desa tersebut berganti nama menjadi Pekuncen.

Penamaan desa tersebut memiliki makna bahwa desa tersebut mengunci Raden Adipati mangkupraja II yang dikenal sebagai patih di Kasunanan Surakarta. Berdasarkan sumber yang beredar, ia merupakan putra dari Raden Adipati Sasradiningrat I, sebelum akhirnya Raden Adipati Mangkupraja diasingkan ke daerah Pekuncen atau yang dahulu disebut Ayah. Ia pernah menjabat sebagai bupati dengan gelar Raden Tumenggung Mangkupraja.. 

Cerita mengenai alasan kenapa pada akhirnya Adipati Mangkupraja II tersebut dibuang, berdasarkan cerita yang beredar dan diyakini oleh masyarakat Pekuncen, yaitu sang adipati melakukan kesalahan besar yang membuatnya dibuang di Ayah. Hukuman tersebut ia dapatkan akibat kelalaian Adipati Mangkupraja II dalam memakai pusaka kerajaan, hingga pada akhirnya ia dihukum dengan cara diasingkan atau dibuang.  Adipati Mangkupraja II dibuang oleh raja yang sekaligus keponakannya sendiri

“Aku tidak mungkin menghukum gantung pamanku sendiri. Akan tetapi jika tidak dihukum gantung dia juga sudah bersalah,” ucap sang raja. 

Hingga pada akhirnya  raja memilih untuk membuang Adipati Mangkupraa II di  Pekuncen. 

Sampai pada suatu ketika ratu mengutus utusannya untuk membawa Adipati Mangkupraja kembali. Akan tetapi utusannya yang tuli tersebut justru mengira diperintahkan untuk membunuhnya. Adipati Mangkupraja yang tidak bisa dibunuh dengan benda tajam apa pun akhirnya menyuruh utusan tersebut untuk membunuhnya melalui kelemahan yang dimiliki Adipati Mangkupraja II. 

“Carilah seutas benang untuk mengikatku. Percuma saja kau memukuliku dengan senjata tajam. Itu tidak akan membunuhku,” ucap Adipati mangkupraja II pada utusan. 

Benar saja Adipati Mangkupraja II meninggal setelah diikat dengan benang.

Berdasarkan cerita yang saya pernah dengar secara langsung dari juru kunci makam yang bernama Pak Hani, dia mengatakan, “Adipati Mangkupraja II dikenal dengan jasanya dalam memimpin dan mengembangkan wilayah Pekuncen. Hingga pada akhirnya beliau meninggal dan dimakamkan di desa Pekuncen.” 

Sekarang lokasi makam tersebut dinamai dengan Makam K.R. Adipati Mangkuprojo (Sunan Sedo Ayah) yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap sebagai salah satu cagar budaya. 

Makam Adipati Mangku Praja berada di tempat yang dekat dengan persawahan.  Kondisinya yang terawat. Situasinya tenang dan dikelilingi oleh pepohonan rindang dan asri yang sengaja ditanam oleh juru kunci di situ. Menurut masyarakat Pekuncen, tidak semua orang bisa dimakamkan di makam tersebut. Konon tempat tersebut hanya diperuntukukan bagi orang-orang tertentu saja.

Setiap tahunnya banyak masyarakat sekitar maupun masyarakat dari luar desa Pekuncen yang berziarah ke makam Adipati MangkuPraja II untuk mendoakan ataupun mengenang leluhur, Adipati Mangkupraja II juga dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuatan mistis dan dihormati sebagai putraning ratu (keturunan raja). Umumnya mereka melaksanakan ziarah tersebut pada saat sebelum memasuki bulan Puasa. Ada beberapa orang yang memiliki keyakinan Kejawen biasanya membakar dupa atau dalam bahasa Pekuncen disebut dengan menyan di tepi makam dari Adipati mangkupraja II sembari berdoa dengan kepercayaan yang dianutnya.

Lokasi dari makam Adipati Mangkupraja juga dipisahkan dari permakaman umum lainnya. Makam tersebut tertutup dan berada di dalam suatu bangunan seperti pendapa serta posisi bangunannya dibuat lebih tinggi dan berundak-undak dibandingkan dengan makam lainnya. Selain itu makam Adipati Mangkupraja tersebut juga dikunci sehingga ketika ada masyarakat yang ingin berkunjung dan berziarah ke dalamnya harus meminta izin terlebih dahulu kepada juru kunci agar dapat dibantu untuk membuka ruangan tersebut. 

Menurut cerita yang beredar dahulunya makam tersebut tidak berada di lokasi yang sekarang tetapi berada cukup jauh dari lokasi makam saat ini. Namun pada waktu lampau  makam tersebut dipindahkan supaya lebih terawat dan terlindungi sebagai salah satu warisan cagar budaya yang perlu dijaga.

Selain berdasarkan cerita rakyat, saya juga memiliki pengalaman pribadi karena saya pernah berziarah ke makam Adipati Mangkupraja II. Saat saya masuk ke dalam pendopo tersebut suasananya begitu hening dan penuh dengan nuansa mistis. Di dalam bangunan pendapa tersebut juga terdapat beberapa makam lainnya, di sebelah makam Adipati Mangkupraja II, yang kemungkinan besar masih kerabat dari sang adipati.

Pengalaman tersebut memberikan saya pengetahuan dan pemahaman secara lebih mengenai leluhur sekaligus tokoh yang sampai saat ini masih dikenang oleh masyarakat. Selain itu kunjungan ziarah saya ke makam Adipati Mangkupraja II juga memperkuat kesadaran saya akan pentingnya menjaga sejarah lokal dan memahami identitas budaya yang telah diwariskan turun-menurun.

Oleh Talitha Nu’maa Azalia