Asal Mula Kecamatan Bruno

Pagi itu, embun masih bergelayut di pucuk-pucuk rumput liar di pinggiran Bagelen. Langit mendung menggantung berat, seolah menahan hujan yang enggan turun. Angin berhembus pelan dari arah selatan, membawa aroma daun basah dan kayu lapuk dari hutan dekat pegunungan Menoreh. Di kejauhan, suara nyanyian burung hutan terdengar seperti bisikan alam yang penuh pertanda. Dalam suasana yang sunyi itu, derap kaki kuda dan langkah kaki prajurit perlahan mendekat. Pasukan Turkiyo, mengenakan seragam serba gelap dengan sentuhan logam keemasan di bagian dada, muncul dari balik kabut. Wajah mereka tegas, meski sebagian memendam kelelahan perjalanan. 

Di tengah barisan itu, tampak sosok kharismatik dengan jubah dan sorban putihnya. Sorot matanya tajam, menyimpan kegetiran dan tekad baja. Ia adalah Pangeran Diponegoro, pewaris darah Mataram yang bangkit memanggul panji perang melawan penindasan kolonial. Ia menunggangi jaran Kyai Gentayu, kuda kesayangannya yang tinggi dan gagah, bergerak pelan bersama pasukan Turkiyo. 

Hari itu, tujuan mereka adalah tanah Bagelen, wilayah strategis yang mulai tertekan oleh infiltrasi Kompeni Belanda. Pangeran Diponegoro berniat menemui rakyatnya, membangkitkan semangat perlawanan, dan menguatkan barisan jihad melawan penjajahan. Namun perjalanan ke Bagelen bukan perkara mudah. Sungai Bogowonto, yang membentang luas dan deras di antara mereka dan Bagelen, menghadang perjalanan. Bukan hanya karena sulitnya menyeberang, tetapi karena satu hal yang jauh lebih sakral: pantangan kuno Mataram.

Menurut kepercayaan kuno, pantang bagi pasukan mataram untuk menyeberangi Sungai Bogowonto. Dipercayai akan terjadi nasib sial jika pasukan mataram nekad melewati sungai tersebut. Pantangan ini berhubungan dengan cerita di masa lalu, dimana pasukan mataram pernah mengalami kekalahan dalam sebuah pertempuran saat melewati sungai tersebut. Meski Diponegoro dikenal sebagai pemimpin rasional, ia sangat menjunjung tinggi tatanan spiritual Jawa dan tidak ingin mengabaikan pertanda yang diwariskan para leluhur.

Maka, dengan hati-hati ia memutuskan membawa pasukan kecil untuk memutar ke arah utara. Jalur itu jauh lebih sulit — melalui hutan-hutan rapat, bukit-bukit terjal, dan lembah-lembah curam yang belum dijelajahi sepenuhnya. Namun bagi Pangeran, itu lebih baik daripada mengorbankan restu leluhur. Perjalanan itu dilakukan diam-diam, hanya membawa pasukan Turkiyo dalam jumlah kecil agar bisa bergerak cepat dan tak terendus mata-mata Belanda. Namun sayangnya, rencana rahasia itu telah bocor.

Kompeni Belanda yang dipimpin oleh Kapten Ingen — perwira muda penuh tipu muslihat — telah mendengar rencana Pangeran dari para telik sandinya. Ia tahu pasukan Diponegoro tak akan menyeberangi Bogowonto, dan karenanya, satu-satunya jalur yang mungkin hanyalah jalur utara yang curam dan terbuka. Kapten Ingen mengatur pengepungan, dibantu oleh ratusan prajurit Legiun Mangkunegaran di bawah Pangeran Prangwedana. Mereka bersiaga di celah bukit, tempat paling sempit dan berbahaya dalam rute ke Bagelen. Ketika saatnya pasukan Turkiyo datang mendekat, jebakan pun dilancarkan. Letusan senapan membelah kabut, menakuti kuda-kuda dan membuat para prajurit Turkiyo panik.

Benturan senjata tajam, jeritan luka, dan suara tembakan menggema keras. Beberapa prajurit Turkiyo mencoba bertahan dengan tombak panjang dan pedang melengkung khas mereka, namun jumlah mereka terlalu kecil. Kapten Ingen sendiri turun ke medan, memerintahkan tembakan bertubi-tubi dari ketinggian. Tubuh-tubuh prajurit Turkiyo berjatuhan di tanah berlumpur. Mereka yang masih hidup, sebagian besar memilih melarikan diri ke dalam hutan untuk menyelamatkan nyawa. Medan yang sulit membuat pasukan Diponegoro kocar-kacir.

Di tengah kekacauan itu, Pangeran Diponegoro terpisah dari pasukannya bersama Tumenggung Gajah Permada — abdi setia yang tak pernah meninggalkan sang Pangeran. Pangeran  Diponegoro menarik kendali kudanya ke arah utara, menembus hutan lebat. Dahan-dahan berduri mencakar wajah dan tangan mereka, dedaunan basah menampar seperti cambuk. Burung-burung hutan berterbangan panik. Jalan yang mereka ambil bukan jalan, melainkan jalur sempit di antara akar pepohonan, ditumbuhi ilalang liar dan pakis setinggi dada. Kyai Gentayu terpeleset dua kali, Pangeran menegakkan tubuhnya, tetap memacu maju. Namun suara di belakang tak kunjung hilang. Mereka dikejar, diburu seperti binatang. Tumenggung tahu mereka tidak akan sanggup terus-menerus berlari dalam hutan yang begitu rapat. Mereka butuh tempat bersembunyi — tapi ke mana?

Tumenggung menunggangi kudanya sambil terus menelusuri hutan, mencari celah untuk kabur dari kejaran pasukan Belanda. “Ke arah kanan! Ada bukit dan pohon besar di atasnya!” seru Tumenggung sambil menunjuk ke celah sempit di antara dua batu besar yang ditumbuhi lumut. Pangeran mengikuti. Mereka menuntun kuda melalui celah sempit itu, naik ke lereng kecil, hingga akhirnya tiba di depan pohon jati tua yang menjulang tinggi, akarnya menjalar ke segala arah seperti ular-ular batu.

Kuda mereka ditambatkan di balik semak. Tumenggung memandang ke arah lembah — obor mulai bergerak mendaki. Waktu mereka hampir habis. Ia tahu, hanya satu cara untuk lolos: menggunakan warisan leluhurnya.Tangannya meraba lehernya sendiri, membuka simpul kecil dari tali kulit. Di sana tergantung azimat kulit harimau gembong, sebesar jempol tangan, menghitam oleh waktu namun masih memancarkan hawa hangat yang aneh. Dengan satu helaan napas, ia menempelkan azimat itu ke jempol kanannya.

Suara retakan tulang terdengar seperti patahan bambu dalam api. Tubuh Tumenggung menggembung, tulang-tulangnya berderak. Dalam sekejap mata, tubuh manusia itu telah berubah menjadi seekor harimau besar, dengan bulu hitam mengkilap, gigi taring yang menyeringai, namun mata yang tetap menyimpan kecerdasan manusia.

Pangeran tertegun, namun tidak gentar. Ia pernah mendengar tentang azimat itu, namun belum pernah melihatnya bekerja. Harimau itu menunduk perlahan, kemudian dengan hati-hati menggigit ujung kain jubah Diponegoro, mengangkatnya ke punggungnya yang kekar. Dalam satu lompatan yang senyap dan halus, mereka memanjat pohon jati tua itu, naik ke dahan besar yang tersembunyi di balik rimbunan daun.

Beberapa menit kemudian, pasukan Belanda tiba. Mereka memekik dan menyisir sekitar pohon. Tentara mengelilingi pohon, namun tak ada yang menoleh ke atas. Salah seorang prajurit pribumi berteriak, “Buruane ora ono! Ilang, Pak! Ilang kaya ditelan lelembut!” Para prajurit lain ikut mengulanginya, yakin bahwa sang Pangeran telah meloloskan diri entah ke mana. Mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka cari berada hanya beberapa meter di atas kepala mereka, mengamati dengan mata tajam dan napas tertahan.

Setelah malam turun sepenuhnya, dan pasukan musuh meninggalkan lokasi, Diponegoro dan Gajah Permada perlahan turun dari pohon. Keduanya penuh luka gores, pakaian robek, namun semangat tetap menyala. Tempat itu kemudian mereka tandai dalam ingatan sebagai lokasi keajaiban — tempat penyelamatan yang tak masuk akal. Di kemudian hari, masyarakat menamai daerah itu Bruno, dari singkatan “Buruane Ora Ono” yang berarti “buruannya tidak ada”,  sebagai penghormatan atas kisah ajaib saat Pangeran Diponegoro nyaris tertangkap, tapi hilang bagai ditelan bumi.(*)

Oleh Nisrina Nur Afifah