Jaga Dipa dan Nilai yang Tak Pernah Hilang

Malam itu, hujan baru saja reda ketika dua orang pemuda, Rara dan Farah, berjalan pulang dari warung makan di ujung kampung. Jalanan licin dan sepi, hanya suara kodok yang bersahut-sahutan di kejauhan. Ketika mereka melewati sebuah gang kecil yang ditumbuhi pohon pisang liar di kedua sisi, Rara tiba-tiba memperlambat langkahnya. “Far, ini gang Jaga Dipa, ya?” tanyanya sambil melirik ke kanan dan kiri. Farah mengangguk pelan, suaranya agak berbisik, “Iya… katanya sih tempat ini dulu dijaga makhluk halus. Tapi aku belum pernah ngalamin apa-apa.”

Rara tampak ragu, tapi rasa penasaran membuatnya berhenti di depan gang. “Dulu waktu kecil, aku pernah denger cerita soal anak kecil aneh yang suka muncul di sini… Blis siapa gitu?” Farah menatapnya cepat. “Blis Kucir,” jawabnya. “Dia kayak anak kecil, tapi rambutnya cuma tumbuh di depan doang. Kadang botak tengah, kadang kayak dikepang satu. Warga sini percaya dia bukan manusia.” Suasana mendadak jadi hening. Angin malam bertiup pelan dan membawa bau tanah basah yang menyengat. Tanpa sadar, mereka berdua memandangi gelapnya gang itu lebih lama dari seharusnya.

Sambil berjalan lagi, Farah mulai bercerita. “Dulu sebelum Margadana jadi kelurahan, tempat ini masih desa kecil yang masuk wilayah Sumurpanggang. Di masa itu, orang-orang percaya banget sama hal gaib. Termasuk soal Jaga Dipa ini. Katanya, tempat ini dijaga oleh para roh halus. Makanya namanya Jaga Dipa, semacam penjaga wilayah yang nggak kelihatan. Gak semua orang bisa lewat gang ini sembarangan, apalagi malam hari.” Rara diam-diam merapat ke samping Farah, jelas mulai merasa gak nyaman.

“Ada satu cerita,” lanjut Farah, “tentang seorang pemuda yang dulu iseng waktu ronda malam. Namanya Karyo. Dia dulu jaga malam di Poskampling tua di ujung gang ini, yang sekarang udah rata sama tanah. Karyo waktu itu sombong, gak percaya sama hal-hal mistis. Malam itu dia sengaja ngomong kasar dan nyanyi-nyanyi sambil meledek, katanya, ‘Kalau emang ada setan, nongol sini!’ Nggak lama, lampu padam tiba-tiba, dan suara anak kecil tertawa muncul dari balik semak.” Farah berhenti sebentar, menatap Rara yang kini wajahnya mulai pucat. “Besoknya, Karyo ditemukan pingsan di dekat pohon pisang, dan sejak itu dia gak bisa ngomong lancar. Mulutnya miring. Kata orang, dia dihukum karena gak hormat,” Farah melanjutkan. “Sejak itu, warga jadi makin hati-hati. Kalau lewat sini, orang-orang suka bawa rokok atau kopi, ditaruh di bawah pohon sebagai sesaji. Sebagai bentuk permisi. Bahkan sampai sekarang, beberapa tetua kampung masih suka mengingatkan soal itu.”

Di tengah perjalanan pulang, mereka berdua melewati tanah lapang tempat Sedekah Bumi sering diadakan setiap tahun. “Di acara itu juga katanya Blis Kucir suka muncul,” ucap Rara perlahan. “Katanya dia nyamar jadi anak kecil yang ikut acara, makan dan main bareng, tapi gak pernah pulang.” Farah mengangguk. “Iya, makanya waktu Sedekah Bumi, orang tua selalu wanti-wanti, jangan pernah marahin anak kecil yang kamu gak kenal. Bisa aja itu bukan manusia. Ada cerita, dulu ada ibu-ibu yang ngomelin anak kecil karena ngacak-ngacak kue, eh malamnya anak itu muncul lagi di depan rumahnya, senyum-senyum sambil bawa kue itu juga.”

Rara menggigil, entah karena dingin atau karena merinding. “Far, aku jadi kepikiran. Sebenarnya, cerita-cerita kayak gini tuh emang kejadian beneran, apa cuma buat nakut-nakutin biar kita sopan?” Farah diam sejenak sebelum menjawab. “Mungkin dua-duanya. Tapi menurutku, pesan dari cerita ini kuat. Intinya kita disuruh jaga sikap, baik sama sesama manusia maupun sama yang tak kasat mata. Kayak Blis Kucir, mungkin cuma simbol aja, tapi simbol itu ngingetin kita supaya gak sembarangan, terutama ke anak-anak.”

Mereka akhirnya sampai di depan rumah masing-masing, namun sebelum berpisah, Rara menatap gelapnya ujung gang Jaga Dipa sekali lagi. “Aku pikir tadi cuma gang biasa,” gumamnya. Farah tersenyum tipis. “Gang ini biasa… tapi kisahnya luar biasa. Dan selama kita masih percaya, kisah itu akan terus hidup.” Mereka pun masuk ke rumah masing-masing, namun malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah ada sepasang mata kecil yang mengintip dari balik batang pisang.

Di dalam rumahnya, Rara duduk termenung, memandangi segelas teh yang mulai dingin. Di luar, angin kembali berhembus pelan, membawa suara langkah kecil yang entah berasal dari mana. Ia tidak berani membuka jendela. Tapi dalam hati ia tahu, malam ini, Blis Kucir mungkin sedang berjalan-jalan, mendengarkan kisahnya sendiri diceritakan kembali.

Rara merasa sedikit cemas, tapi ia segera mengusir perasaan itu. “Ah, itu cuma perasaan aja,” pikirnya. Ia kembali ke tempat tidur dan menarik selimut lebih erat. Dalam kesunyian malam, pikirannya melayang ke percakapan dengan Farah tadi. Mungkin kisah tentang Blis Kucir memang ada maksudnya. Mungkin bukan soal dunia gaib atau hal mistis, melainkan tentang menghargai sesama, terutama anak-anak, yang seringkali dilupakan.

Rara tersenyum kecil, merasa lega. Sambil menatap langit malam lewat celah jendela, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga sikap dan mengingat pesan moral yang ada di balik cerita-cerita seperti itu. Sebuah pengingat sederhana, hidup ini bukan hanya tentang apa yang tampak di depan mata, tetapi juga bagaimana kita berperilaku terhadap orang lain, terutama yang lebih lemah atau tak berdaya. Dengan pikiran yang lebih tenang, Rara pun akhirnya terlelap, merasa lebih dekat dengan makna dari cerita yang baru saja didengarnya.(*)

Narasumber: Bapak Sabar

Oleh Intannia Rizqi