Langkah kakiku terseok-seok berjalan menuju aula. Setelah mendengar pengumuman lepas sekolah tadi, rencana tidur siankku gatotalias gagal total. Kalau dipikirkan lagi aku sudah menduga hal ini akan sering terjadi di pengujung kelas 12 yang dilanda berbagai kesibukan. Dimulai dari ujian praktikum, persiapan SNBP dan terakhir sebagai beban tambahan, acara tahunan sebagai bentuk perpisahan. Terdengar sangat sibuk bukan? Belum lagi serah terima jabatan bagi yang memasuki organisasi, aku termasuk salah satu di dalamnya.
Aku segera merebahkan badanku di lantai aula sambil menunggu kawan lain yang belum datang. Mataku melirik jendela luar menampilkan anak kelas 10 dan 11 yang bergegas menuju kamar dan sebagian meluncur ke rumah masing-masing. Irinya. Ah aku lupa memberi informasi bahwa aku bersekolah di boarding school dan yap, mayoritas dari kami memang berasrama dan sangat sedikit yang laju. Karena itu juga menjadi salah satu kenapa seringnya penyelenggaraan acara selain koordinasi yang mudah juga, karena kita butuh sesuatu yang tidak membuat kami jenuh.
Ketua Angkatan sudah hadir dan formasi sudah lengkap menandakan akan dimulainya rapat yang kesekian kalinya ini. Aku menegakkan tubuh, menyandarkan kepalaku pada teman baik yang tak bukan adalah ketua. Diadakannya rapat kali ini untuk menentukan posisi masing-masing dalam acara perpisahan sekaligus menentukan tema acara. Rasa antusias yang tinggi dapat dirasakan dari ruangan yang tadinya tenang menjadi berisik karena banyaknya ide yang masuk, meski tergolong sangat ribut seperti pasar pagi. Kita tahu, ini bukan sekadar acara perpisahan biasa. Ini tentang menutup lembaran terakhir dari masa putih abu-abu kita di tempat yang selama ini disebut rumah kedua.
Setelah berunding lamanya, berawal dari usulan yang kian banyak dan menggunung, serta diadakan voting untuk mengerucutkan pilihan. setelah memutuskan cukup lama bersama perwakilan tiap kelas, diputuskannya tema penampilan kita dengan ‘kejawen’. Kejawen apa itu? Karena lokasi SMAku berada di Jawa Tengah di mana kebudayaan dan kepercayaan adat istiadat yang masih kental. Bukan hanya mengangkat sekaligus melestarikan tradisi, namun bermaksud merangkumkan kisah peradaban tanah jawa hingga meraih modernisasi. Tak hanya modernisasi, juga difokuskan perjalanan masuknya agama Islam ke Tanah Jawa.
“Oke, temanya kejawen. Nanti malam kumpul di aula pukul 8:30 kita bagikan posisi masing masing. Jangan lupa untuk tiap kelas nanti malam wajib mengumpulkan tampilan yang diinginkan, sekalian bikin rundown,” bu ketua melihat sang sekretaris yang sibuk mencatat poin poin yang dibicarakan.
Akhirnya rapat perdana selesai. Aku dan beberapa anggota sekamar bergegas untuk merebahkan tubuh di lantai sesampainya di kamar 2B, teman teman menatap kami dengan tatapan bertanya tanya hasil rapat terkait. sebenarnya sudah lama kami menggadang akan menggelar pentas perpisahan, namun karena banyaknya kesibukan, kami mengundurnya hingga waktu yang tersisa hanya sedikit.
“Jadi gimana mi, kita bakalan pentas kan?” tanya Memet dari dipan atas.
Mami mengangguk, “Jadi kok, temanya kejawen jadinya nanti kalian usul ya ke sekre kelas buat tampilannya mau apa. Malam ini mau bahas tampilan sekalian bikin rundown.”
Kami sekamar mengangguk paham, karena kami kelelahan lepas sekolah memutuskan untuk tidur hingga azan Asar berkumandang. Aku memilih tidak tidur. Lampu belajar di bawah dipan kuambil untuk menerangi buku pinjaman perpustakaan yang sedang kubaca.
Waktu cepat sekali berlalu, selepas sholat isya dan makan dilanjutkan kegiatan belajar malam. Namun, banyak dari kita memilih aktivitas lain selain belajar seperti bercengkrama, meminjam laptop atau bahkan mencuci. Suara dari megafon menyadarkanku dari lamunan sembari mengantri air panas di dispenser.
“Tes, mbak mbak pengurus angkatan dan perwakilan kelas diharapkan berkumpul di aula sekarang!”
Mendengar itu aku bertatapan dengan Mami yang baru saya berjalan tergopoh-gopoh sambil memegang lembaran kertas. Melihat itu aku menghela nafas, waktu senggang yang berharga telah terenggut. Sesegera mungkin aku mengisi penuh air panas yang bercampur dengan bubuk matcha membawanya ke aula untuk rapat. Aku duduk di tengah gerombolan kelas sebelah di barisan kedua. Segera rapat dibuka walaupun belum semua orang hadir. Tiap perwakilan kelas memberikan secarik kertas berisi daftar tampilan yang diinginkan.
Seiring berjalannya waktu, semua keputusan telah didapat, dilanjutkan dengan membentuk team agar acara berjalan lancar. tak hanya itu rundown selesai dibuat dan pemilihan penampilan telah selesai dengan anggota terpilih. Tiap orang akan ikut dalam penampilan juga merangkap sebagai team operasional. Aku terpilih penampilan tari kipas merangkap team kostum. Aku sedikit bersemangat mendapatkan bagian kostum, pikirku melayang-layang dengan berbagai sketsa kostum tiap tampilan.
Rapat telah usai, aku langsung berdiskusi dengan team kostum yang beranggotakan 5 orang. Kami telah menentukan berbagai kostum dengan cepat, segera aku mengambil buku sketsa di kamarku dan menggambar berbagai kostum serta berbagai pernak- pernik yang harus dibeli maupun membuatnya. Nisa mengusulkan kostum dari tiap tampilan agar ditunjukkan kepada anggotanya agar dapat direvisi sesuka anggota tampilan. Kami setuju dan aku membuat sketsa kostum tiap tampilan dengan kertas terpisah agar bisa diberikan besok.
***
Waktu terus berjalan tak ada yang menghalangi. Sejak rapat terakhir, kami satu angkatan berubah menjadi sangat sibuk. Di antara kesibukan yang saling bersinggungan dengan aktivitas sekolah kami, secepat mungkin menggelar latihan tiap pulang sekolah maupun sore hari. dimalam harinya bergilir dengan team yang terbagi mempersiapkan segala surat persetujuan yang dibutuhkan. Team kostum semakin sibuk mempersiapkan seluruh bahan bahan terutama untuk pernak pernik dan menyewa beberapa baju kepada beberapa orang tua wali.
Keributan terjadi di beberapa tempat dimulai dari surat yang terus direvisi, penanggung jawab tampilan yang sering kali berganti alur kisah, pencocokan tanggal, mengukur lapangan dan panggung, jangan dilupakan team dekorasi yang pusing akibat bahan dari triplek hingga cat yang salah pesan. Di dalam situasi seperti ini hanya ada satu team yang belum ricuh, yaitu team konsumsi. Yeah, dipastikan team tersebut akan sibuk mendekati hari datangnya acara. Silahkan nikmati dulu ketenangan kalian sebelum gempa mengguncang.
Sebulan berlalu, hujan sering kali datang bersamaan dengan angin yang menari menjadikan suhu semakin dingin belakangan itu. Karena hal itu, cat yang kami oleskan di atas triplek butuh waktu lebih lama untuk benar benar kering. Hal yang patut disyukuri dalam kondisi begini hanya satu, berat badanku yang kian turun akibat banyaknya aktivitas dan seringnya terlewat jam makan.
Beberapa waktu belakangan ini team dekorasi nampak kewalahan dengan banyaknya triplek yang harus dicat dan dipotong mengikuti pola. Karena itu mereka sering merekrut orang secara mendadak agar cepat usai. Sebagai contohnya adalah aku jika sekiranya sedang senggang membantu team dekorasi tidak masalah, aku menyukainya. Tapi belakangan ini aku merasa lantai satu sangat dingin dan beraura aneh. Lebih anehnya aku baru menyadarinya setelah acara ini selesai.
Dua minggu dari hari acara berlangsung menjadikan kami latihan semakin intens. Kami menambah waktu latihan di malam hari sekitar jam delapan malam. Aku menunggu Nismut di depan blok kamar setelah mengambil laptopku. Sejujurnya aku takut berjalan sendirian malam malam melintasi lorong sekolah, mulai menjelang malam hingga malam sekolah berubah menjadi aneh. Terkadang aku merasa merinding sendiri saat tiba tiba memiliki urusan di sekolah hingga malam, terutama di lantai 3 dan lantai 2 dekat laboratorium dan kantin. Seakan akan langkahku ada yang mengikuti dari belakang atau memperhatikan gerak gerikku.
“Mut, ndang ayo mangkat,” aku berseru sambil mengetuk pintu kamar sebelah.
Dari dalam suara Nismut menyahut, “Sik, golek kipas!”
Setelah kipas ketemu, aku dan Nismut segera bergegas menuju sekolah ke salah satu ruang kelas lantai 1. Segera menyalakan proyektor dan laptop sembari kami peregangan. kali ini formasi tidak lengkap karena beberapa dari anggotaku adalah anak laju yang sudah pulang ke rumah masing-masing dan sebagian lainnya mengurus surat perizinan lapangan sekolah.
Kami mulai mengulang ulang video latihan kami, melihat celah kecil dari kesalahan yang dapat diperbaiki. Aku memberikan jeda 10 menit. Langkahku menggiring ke luar kelas melihat team koordinator lapangan sedang mengukur luas lapangan dan beberapa kali mengukur ulang untuk memastikan tak salah hitung. Tanpa sadar, aku berhenti di depan masjid sekolah yang tertutup gorden berwarna abu-abu. Bulu kudukku merinding seketika saat hendak berbalik ke ruang kelas melintasi mading samping tempat wudhu. Diujung tempat wudhu ada pintu yang menghubungi ke gudang belakang sedikit terbuka menampilkan gudang yang gelap gulita. Perasaanku yang tidak enak menarikku segera lari dari sana.
Saking amat sibuknya mempersiapkan kostum yang saking banyaknya, aku melupakan kejadian aneh yang beberapa kali ku rasakan. Hampir semua tampilan memerlukan banyak aksesoris kemilau yang harus dibuat sendiri, tidak mungkin akan menyewa dengan jumlah ratusan aksesoris. Aku juga membeli beberapa meter kain untuk detail kecil yang akan membuat penampilan menonjol. Tetiba Memet menepuk pundak ku yang sedang menggunting kain meteran.
“Ta, Keputren tambah aksesori pendukung dong ini,” Memet menyerahkan secarik kertas, “oh iya, aku minta styrofoam yang sisa ada di mana?”
Mataku membelalak, “Serius nih. Jadi pakai dupa? Lo mau bikin sesajen?” tanyaku tak percaya.
“Iya, biar kerasa gitu suasananya kan jawanya lagi di masa kentalnya tradisi,” kekehan Memet terdengar santai, “Ga mungkin juga kan bakal ada setan.”
Aku menghela napas lalu mengangguk menyetujui. Tidak ada salahnya kan bersikap profesional, toh hanya dupa dan sesajen mainan. Segera aku memberitahu bendahara dan memesan dupa secara offline di pasar dekat sekolah. Dupa pun dipilih dengan asal dengan isi yang agak banyak untuk gladi kotor beberapa hari yang akan datang dan gladi bersih sehari sebelum acara.
Menjelang gladi kotor yang ditunggu-tunggu, kami saling membantu membawa potongan background dari triplek yang sudah jadi. Belum sepenuhnya sih, tinggal merakit pada sehari sebelum memulai acara. Background dengan latar belakang kejawen dan hiasan beberapa rumah kecil yang di dalamnya ada wayang dan gunungan setinggi lebih dari 2 meter tiap sisi tepi masing masing rumah.
Gladi kotor berlangsung sangat lancar dan rekaman pada kamera handycam juga terekam sangat baik. Saat kami melakukan monitoring, aku merasa sangat kagum dengan tampilan keputren, aku merasakan aura mistis yang kuat apalagi dengan adanya beberapa penari menaruh dupa dan sesajen sebelum penampilan. Aku sudah membayangkan dengan kostum kebaya dan selendang seragam sedang menari disana. Jangan lupakan riasan khas jawa yang akan menghiasi.
Sebenarnya tari Keputren adalah tari klasik jawa yang menggambarkan putri kerajaan atau selir raja di lingkungan keraton. Gerakannya lemah gemulai, anggun, dan halus yang mencerminkan sifat perempuan bangsawan jawa. Namun, tari Keputren yang mereka tampilkan agak dimodifikasi tema dan gerakan yang tidak terlalu gemulai dengan menambah kesan mistis di puncak kisah dimana masyarakat jawa sangat percaya dengan hal gaib dan mistis.
“Weh gila Met, Keputren bagus banget tadi apalagi pas dupa itu masuk. Aromanya menusuk hidung,” candaku.
Memet tertawa, “Tari kipasmu juga keren. Bisa kompak gitu. Tapi sudah pas kan suasana mistisnya, atau perlu ditambah dupa lagi biar makin berkabut?”
Aku mengacungkan jempol, “Ide bagus, pas acara aja kamu tambahkan. Nanti aku sampaikan saran anggota kamu ke team lighting biar bisa dikasih efek lampu merah.”
Selepas gladi kotor itu, seminggu kemudian akan dilaksanakan gladi bersih sehari sebelum acara berlangsung. Semua orang bersemangat menyambut hari itu menandakan bebean mereka yang paling besar akan berkurang satu. Gladi bersih kali ini terhalang hujan maka akan dilaksanakan di dalam aula sekolah. Kali ini juga lancar tanpa kendala apapun.
Acara akan dilaksanakan hari ini, team kostum, dekorasi, konsumsi, lighting dan koordinator lapangan bergerak sibuk. Aku menyimpan berbagai kostum dan aksesoris tiap kelas yang dijadikan backstage juga beberapa pouch make up yang kita kumpulkan sendiri. Tadi malam tiba-tiba perekrutan team baru, yaitu team MUA aku menjadi salah satunya. Namun pada saat itu aku tidak terlalu mengerti mengenai make up, jadi aku akan mengambil bagian make up dasar. Sisanya kuserahkan pada Rara.
Sepulang sekolah background mulai dirakit dengan bantuan pak satpam dan tukang sekolah. Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk merakit dan mendirikan background setinggi lebih dari 3 meter, memasang karpet, mengatur lighting di lantai 1 dan lantai 2 serta menata dekorasi tanaman. Tak lupa MC dan sound system yang sudah terpasang rapi di belakang panggung.
Aku berdecak kagum melihat background yang sudah berdiri megah, “gila kece banget.”
“Jelas, siapa dulu yang dekor.”
Aku menoleh bertatapan mata dengan Roy dan Wawa. Jika ini bisa dianimasikan, maka aku akan menggambarnya seperti pinokio yang berhidung panjang. Wajah mereka berdua terlihat sangat bangga dengan hasil karya dengan mereka sebagai penanggung jawab. aku hanya bisa mengangguk mengakui bahwa itu luar biasa. Keren, guys!
Setelah cukup lama mengagumi hasil karya 3 meter itu, kami bergegas kembali ke asrama lalu mandi dan memakai kostum polos sekembalinya ke sekolah. Acara akan diselenggarakan mulai jam 3 sore selepas sholat ashar. Aku menuju ruangan MC yang sudah ada beberapa orang disana. Segera aku memasangkan beberapa aksesoris dan kebaya untuk MC serta membuat rok MC dari kain batik, sedangkan Widya melakukan make up.
Adik kelas 11 dan kelas 10 sudah sesak memenuhi pelataran lapangan yang sudah digelar karpet berwarna hijau. MC memasuki panggung dengan tepukan dan teriakan yang meriah dengan team dokumentasi yang tiap sudut memegang kamera, team lighting yang sudah standby di tempatnya juga team sound system yang sudah mengatur berbagai sound seperti gladi bersih. Dengan tari pembukaan yang khas dari ujung pulau sana-Tari Saman, acara sore hingga malam hari resmi dibuka.
Kami memantau sambutan, penampilan dari kami, dan adik kelas dengan seksama. Di masjid sekolah kami menitikkan air mata terharu karena tantangan yang dilalui sebenarnya sangat berat. Apalagi dengan izin pembimbing dan sekolah yang berbelit belit juga syarat yang harus dipenuhi. Pada akhirnya kerja keras, keringat dan kesungguhan kami benar benar terlaksana dengan baik.
Kami menjeda saat waktu maghrib telah datang, dilanjutkan dengan makan bersama dan sholat isya. Sejak lepas makan aku tak henti hentinya mondar mandir lantai 1 dan lantai 2 untuk mempersiapkan penampilan lain yang akan tampil setelah ini. Memastikan aksesoris, make up, dan set panggung agar tidak ada yang tertinggal. Ditengah banyaknya kegiatan ini aku harus menahan merinding tiap kali mengecek ruang ganti di lantai 2 yang berisi tari Keputren karena harus melewati lorong kosong depan BK. Tapi aku tidak punya waktu tersisa untuk mengkhawatirkan hal itu.
Aku telah bernapas lega setelah memastikan taekwondo dan pencak silat tampil, karena aku tinggal fokus dengan persiapan penampilaaku, Tari Kipas. Setelah kupastikan tidak ada aksesori yang belum terpasang, aku memanggil Widya yang telah tampil untuk membantuku. Namun, aku tertarik dengan tampilan tari Keputren dengan versi ini, jadi aku menontonnya melalui celah pintu. Walau hanya terlihat dari samping, aku tetap menikmatinya.
Reaksi penonton ketika lampu mulai redup dan berganti merah mulai ricuh. Apalagi saat bau dupa yang sangat menyengat dengan ekstra asap yang menggumpal di lantai membuat penonton mendongakkan kepala, bahkan sampai ada yang berdiri dari tempatnya. Alunan gamelan samar samar mulai mengalun yang kelamaan menjadi paduan musik khas jawa bertempo sedang. Hingga akhir,penonton makin antusias dengan penampilan berikutnya. Kini giliranku ke atas panggung, kami menyelesaikannya dengan sempurna walau ada sedikit kesalahan ketukan saat di tengah musik. Tapi sepertinya tidak ada yang menyadari.
Malam semakin larut, kami menyelesaikannya pada jam sebelas lebih. Kami bersorak gembira dengan penampilan yang spektakuler lalu berfoto sambil merapikan dekorasi dimulai dari karpet penonton. Aku membawa paper bag besar untuk memungut kostum kostum yang tertinggal maupun make up yang tergeletak diatas meja. Orang orang sudah lebih dulu meninggalkan tempat.
Aku menitipkan paperbag kepada Bochol, “Chol, nitip ini dong taruh di bawah dipanku.”
Bochol hanya mengangguk dan mengacungkan jempol.
Langkahku mendekati beberapa teman yang masih membersihkan halaman. Aku bergabung dengan seorang teman yang sedang menggulung tikar dan karpet. Background akan kami biarkan supaya besok bisa negurainya dengan meminta tolong pak tukang dan pak satpam. Menggulung tikar dan karpet sudah selesai, tersisa mengembalikannya ke lantai 2 di gudang sekolah dan gudang asrama.
Aku, Mami dan beberapa orang membantu menaruh karpet ke gudang lantai 2 dan beberapa lainnya mengembalikan karpet ke asrama. Kami kembali ke lapangan yang sudah tidak ada orang, memeriksa yang sekiranya tertinggal. Entah kenapa aku melihat beberapa orang terlihat di masjid sedang salat. Aku dan Mami mencoba mengajak untuk balik ke asrama. Saat menyingkap gorden, aku terpaku, tidak ada siapapun di sana. Kosong. Aku berbalik ke belakang sudah melihat Mami yang meninggalkanku duluan lari ke asrama. Tak ingin berlama di tempat ini, aku segera menyusul dengan berlari. Sesampainya di kamar aku dan Mami bercerita terkait hal yang terjadi barusan menjadikan kami ketakutan hingga tidur di bawah selimut dengan meringkuk.
***
Belum lama ini aku berkirim pesan dengan Memet. Bernostalgia dengan masa SMA yang menyenangkan dan menceritakan hal yang aku lihat di masjid sekolah. Dia nampak tertarik dengan apa yang kubicarakan dan mengetik pesan yang lumayan panjang. Pesan yang dia tulis mungkin menjawab rasa penasaranku atas jawaban mengenai kejadian acara akhir tahun itu.
Dia membalas pesanku dengan mengatakan, “Sebenarnya setelah kita gladi kotor itu, kita mainin dupa sama sesajennya. Gak tau gimana awalnya, tiba tiba kita udah muter musik Jawa klasik sambil jampi-jampi sesajen dan dupa yang kita pakai. Niat kita cuma buat mainan aja gak tahu kalau bakal beneran dateng. Hehe.”
Mungkinkah jampi-jampi mainan ini merupakan alasan munculnya orang yang salat di masjid? Hampir jam 12 malam? Aku tidak tahu, tapi bukankah memang alam kita dan mereka hidup berdampingan.(*)
Oleh Qurrota’ayun Umah