Asal Mula Tradisi Bulusan Desa Hadipolo Kabupaten Kudus

Kisahnya bermula dari Mbah Dudo, salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di lereng Gunung Muria, yang kini dikenal dengan nama Dukuh Sumber. Bersama muridnya yang kedua Umara dan Umari, Mbah Dudo yang tinggal di daerah yang sederhana. Mereka menggantungkan dari hasil pertanian. 

Umara dan Umari adalah orang yang rajin dan tekun dalam menggarap sawah. Suatu hari, di bulan Ramadhan Sunan Muria datang ke tempet tinggal Mbah Dudo untuk bersillaturrahim dan membaca Al-Qur’an bersama untuk memperingati Nuzulul Qur’an. Di tengah perjalanannya melewati persawahan menuju kediaman Mbah Dudo, Sunan Muria menonton suara “krubyuk-krubyuk” seperti orang yang tengah menggarap sawah. 

“Malam Nuzulul Qur’an Al-Qur’an yang membaca Al-Qur’an, sebetulnya masih berendam di udara seperti bulus saja.” 

Sabda dari Sunan Muria yang kurang senang melihat hal tersebut. 

Setelah diselidiki, ternyata suara tersebut berasal dari Umara dan Umari yang sedang mengambil rumput di sela-sela tanaman padi di sawah milik Mbah Dudo. Namun nahas, sabda Sunan Muria waktu itu membuat Umara dan Umari berubah menjadi bulus. 

Melihat kedua muridnya berubah menjadi bulus, Mbah Dudo minta maaf atas kekhilafan kedua muridnya itu dan memohon kepada Sunan Muria agar membayar mereka menjadi manusia kembali. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur, Umara dan Umari sudah menjadi bulus dan tidak dapat diubah lagi berubah menjadi manusia. Sunan Muria kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah yang diinjaknya. Dari situ, keluarlah mata air atau sumber, Desa Sumber. 

Kejadian selanjutnya, tongkat Sunan Muria berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon “tombo ati” (obat hati). Sebelum meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata, “Besok anak cucu kalian akan berbondong-bondong datang kemari untuk menghormatimu. Tepatnya pada satu minggu sampai bulan Syawal ” 

Perkataan Sunan Muria tersebut kini terbukti dengan adanya tradisi bodo kupat yang diperingati setiap tanggal 8 Syawal. Di Dukuh Sumber sendiri, untuk memperingati tradisi kupatan ini digelar kegiatan bulusan kupatan, yang ramai dan banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah di Kudus dan sekitarnya.(*)

Oleh Muhammad Naufal Muflifiyanto