Di zaman sekarang, lingkungan menjadi prioritas utama bagi masyarakat, kebiasaan membakar sampah di sekitar halaman rumah masih sering terjadi di kampung- kampung dan perumahan. Membakar sampah terlihat seperti cara yang cepat untuk membersihkan tumpukan sampah, tetapi sebenarnya hanyalah menimbulkan masalah besar yang mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Pembahasan artikel ini terinspirasi dari pengalaman Papa saya, seorang warga yang memiliki rumah di pinggir jalan, di mana tetangga saya sering membakar sampah hingga menjadi sumber keluhan berkepanjangan.
Dalam satu minggu, pasti ada asap pembakaran yang menyelimuti rumah, Hal tersebut mengakibatkan rutinitas santai di rumah terganggu oleh bau asap yang menyengat. Itulah hal yang dialami Papa saya, pemilik rumah dengan usaha kos-kosan kecil di pinggiran Semarang Barat.
Kejadian ini sudah berlangsung dan berulang-ulang selama hampir setahun. Asap tidak hanya membuat pakaian yang sedang di jemur menjadi bau asap yang sulit hilang, tapi juga masuk ke setiap ruangan di dalam rumah, bahkan juga memasuki area kos- kosan. Penyewa yang menginap sering komplain, karena polusi dari asap membuat mereka sulit tidur karena iritasi hidung dan mata, bahkan ada yang sampai minta potongan harga atau pindah karena polusi lingkungannya yang buruk.
Pemilik kos-kosan sudah mencoba berbicara baik-baik dengan tetangga yang membakar sampah, tapi karena responsnya kurang kooperatif. Akhirnya, pemilik kos- kosan memilih untuk membagikan pengalamannya di grup WhatsApp RT, ternyata tetangga lain juga merasakan hal yang serupa.
Lebih dari Sekadar Bau
Apa yang dialami Pemilik kos-kosan bukan sekadar ketidaknyamanan sementara, tapi memiliki pengaruh yang serius. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sekitar 25-30% rumah tangga di Indonesia masih mengandalkan pembakaran sampah sebagai cara pengelolaan limbah, terutama di daerah dengan akses pengangkutan sampah terbatas. Namun, praktik ini melepaskan polutan berbahaya seperti partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan dioksin dari pembakaran plastik, zat ini dapat menyebabkan gangguan yang serius seperti risiko penyakit kronis.
Menurut survei dari Dr. Maya Sari, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa, “Asap dari pembakaran sampah bisa menempel pada pakaian, furnitur, dan bahkan pada makanan, sehingga paparan toksin berlanjut meski asap sudah hilang. Bagi penyewa kos-kosan, yang sering berganti-ganti, ini bisa memicu komplain berulang dan kerugian ekonomi bagi pemilik.” Di sisi lain, juga terjadi dampak sosial yang membuat konflik antar tetangga bisa memanas.
Ada banyak cara sederhana untuk mengubah kebiasaan membakar sampah menjadi langkah positif. Seperti, bergabung dalam program pemilahan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang. Fasilitas utama dari program ini adalah tong sampah pilah yang disediakan untuk rumah tangga maupun fasilitas publik. Tong ini dibedakan berdasarkan warna dan jenis sampah. Selain itu, DLH juga menyediakan dropbox B3 yang ditempatkan di area public untuk menampung limbah rumah tangga berbahaya agar tidak tercampur dengan sampah biasa.
Jika berbicara baik-baik dengan tetangga tidak berhasil, laporkan ke kantor kelurahan atau telepon hotline KLHK di 1500-777. Banyak kasus seperti ini sudah selesai melalui perundingan damai. Sehingga menghindari masalah berlanjut ke pengadilan.
Membakar sampah di sekitar rumah mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya memiliki dampak yang bisa merugikan banyak hal, mulai dari kesehatan, ekonomi, sampai hubungan dengan tetangga. Kisah ini mengingatkan kita bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran bersama. Kalau misal kalian mengalami hal serupa, jangan hanya diam saja. Laporkan ke pihak berwenang atau jika kalian tidak berani cukup ceritakan keresahan di media sosial. Mari kita jaga lingkungan Bersama agar tetap bersih dan bebas asap, demi masa depan yang lebih sehat. (*)