Garis Imajiner di Kota Istimewa

Yogyakarta yang sering kita sebut dengan kota istimewa di Indonesia, memiliki simbol tersendiri yaitu Tugu yang terletak di titik 0 km Kota Yogyakarta. Bangunan tinggi putih yang terletak di tengah Kota Yogyakata itu bukan semata-mata sebagai ikon kota Istimewa tersebut. Namun, terdapat sejarah terbentuknya tugu tersebut. Tugu yang lebih kita kenal dengan tugu Jogja, itu memiliki nama tersendiri, yakni “Tugu Golong-Gilig” atau bisa juga disebut sebagai “Tugu Pal Putih”. 

Tugu tersebut terbentuk sejak zaman penjajahan Belanda-Indonesia. Namun seperti namanya, DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), kota tersebut tidak tersentuh oleh negara Belanda. Dikarenakan Yogyakarta memiliki system pemerintahan yang berbeda, yakni sistem kerajaan dimana ada raja yang berkuasa di kota tersebut yang biasa kita sebut Sri Sultan. Sri Sultan memiliki kekuasaan penuh atas kota tersebut, dengan benteng yang mengelilingi daerah Kerajaan atau biasa kita sebut kraton ini digunakan untuk melindungi dan menandai daerah kekuasaan Sri Sultan.

Selain kraton dan tugu Pal Putih, Kota Yogyakarta juga memiliki keistiewaan lainnya, yakni Sumbu Filosofi dan Garis Imajiner. Sumbu Filosofi sendiri merupakan garis lurus yang terbentuk dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak. Sedangan Garis Imajiner, terbentuk lebih luas, yakni dari Pantai Parangtritis-Panggung Krapyak-Alun-Alun Selatan-Kraton-Alun-Alun Utara-Tugu Pal Putih-Gunung Merapi. 

Keduanya memiliki filosofi yang sama, yaitu perpaduan elemen seperti air, tanah, udara, dan api yang menjadi satu garis dalam kehidupan manusia. Setiap simbol dalam kota tersebut memiliki filosofi sendiri, seperti tugu dan Panggung Krapyak yang di tempatkan menghadap ke arah kraton. Tugu Pal Putih di Jogja bisa juga diartikan sebagai “Lingga” atau alat kelamin pria. Sedangkan Panggung Krapyak dapat diartikan sebagai “Rahim Wanita”. Di sini terdapat pengharapan bahwa dari Panggung Krapyak (rahim wanita) akan keluar bayi suci yang menuju proses pendewasaan manusia, sedangkan Tugu Golong-Gilig seperti arahnya yang ke atas memiliki tujuan hidup umat manusia menuju penciptanya. 

Lalu di Alun-Alun Yogyakarta sendiri terdapat dua pohon beringin besar yang juga menjadi ikon tempat tersebut. Pohon tersebut menjadi ikon Alun-Alun bukan tanpa sebab, namun ada filosofinya. Kiai Dewadaru berasal dari Kiai Dewadaru ditempatkan di sebelah barat sumbu filosofi, di sisi yang sama dengan lokasi Masjid Gedhe yang berfungsi sebagai pusat keagamaan. Sedang Kiai Janadaru ditempatkan di sebelah timur sumbu filosofi, di sisi yang sama dengan lokasi seperti Pasar Gedhe (Pasar Beringharjo) yang berfungsi sebagai pusat ekonomi.

Sedangkan Kraton Ngayogyakarta juga memiliki sejarahnya sendiri. Dari yang pada awalnya masih bergabung dengan Kraton Solo, Jawa Tengah hingga akhirnya dipisah karena peristiwa perang ambarawa. Begitupula dengan Tugu Golong-Gilig yang mengalami perubahan bentuk beberapa kali sejak zaman Belanda. Tugu asli rusak akibat gempa pada tahun 1867. Tugu itu dibangun kembali dengan bantuan pemerintah Hindia-Belanda. Namun tugu tersebut bentuknya tidak sama dengan aslinya. Diduga, ini memang kesengajaan dari pemerintah Hindia-Belanda yang tidak suka dengan semangat kesatuan yang disimbolkan oleh tugu tersebut. Tidak cukup dengan itu, pemerintah Hindia-Belanda pun membangun rel kereta api yang memotong sumbu filosofi.

Setiap simbol yang ada di Yogyakarta, bukan hanya simbol semata, namun juga terdapat filosofi dan tujuannya. Salah satu filosofi dari simbol-simbol yang ada di Yogyakarta yakni sebagai simbol perjalanan hidup manusia, dari kandungan, kelahiran, proses pendewasaan, hingga ke liang lahat.(*)

Oleh Isnaini Nur Khasanah