Oleh Athaya Ibnu Hilmi
Aku lahir dan besar di Kota Tangerang, sebuah kota yang sering dianggap hanya sebagai penyangga Jakarta dan jarang dilihat sebagai tempat yang punya identitas kuat. Selama ini aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu, karena bagiku Tangerang hanyalah tempat tinggal dan tempat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa banyak pertanyaan. Namun, seiring waktu, ketika aku duduk di bangku SMA, terutama setelah mendapat tugas dari sekolah, aku mulai menyadari bahwa setiap kota pasti punya cerita yang membentuknya. Kesadaran itu semakin terasa ketika aku mengikuti kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang mengharuskan kami mengenal lingkungan bersejarah dan budaya daerah yang ada di Kota Tangerang. Dari situlah perjalananku ke Museum Benteng Heritage dimulai.
Kunjungan ke museum tersebut bukanlah ide pribadiku, melainkan bagian dari kegiatan kelas yang sudah direncanakan oleh sekolah sebagai bagian dari P5. Awalnya, aku menganggap kegiatan ini hanya seperti tugas biasa yang harus dijalani tanpa ekspektasi khusus. Banyak di antara kami yang juga merasa hal yang sama. Namun, karena ini merupakan kegiatan bersama teman-teman sekelas, vibes-nya lebih menyenangkan. Kami berangkat dengan rasa senang karena kami bisa belajar di luar lingkup sekolah alias jalan-jalan, hehe.
Hari itu kami berangkat bersama-sama menggunakan Bus Jawara yang telah disewakan oleh sekolah. Di dalam perjalanan, sebagian teman mengobrol, bercanda, dan ada juga yang sibuk dengan hp-nya masing-masing. Aku sendiri lebih banyak memperhatikan jalanan dan suasana sekitar yang sebenarnya sudah cukup familiar, tetapi terasa berbeda karena dilakukan bersama-sama. Pagi ini cuaca Tangerang terasa sangat panas dan menyengat, tetapi tidak mengganggu kebersamaan kami. Tanpa terasa, kami pun sampai di kawasan Pasar Lama.
Saat tiba di kawasan Pasar Lama, suasananya langsung terasa hidup dengan banyaknya aktivitas masyarakat yang berlangsung di sana. Pedagang, pembeli, serta berbagai suara bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang ramai dan khas. Kami berjalan bersama menuju Museum Benteng Heritage dengan rasa penasaran yang mulai muncul.
Di tengah keramaian pasar, sebuah bangunan terlihat mencolok karena memiliki bentuk yang berbeda dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Warna, struktur, dan desainnya memberikan kesan bahwa tempat tersebut memiliki nilai sejarah yang kentel. Hal ini membuatku mulai tertarik bahkan sebelum masuk ke dalamnya.
Ketika aku mulai memasuki museum, dalam pikirku, museum ini seperti rumah di zaman Dinasti Qing, haha, suasananya langsung berubah dari yang tadinya ramai menjadi lebih tenang dan tertata. Perubahan suasana ini seolah-olah kami masuk ke ruang yang berbeda dari dunia luar. Suasana museum yang hening membuat kami secara tidak langsung menyesuaikan diri menjadi lebih tenang. Beberapa teman yang tadinya ramai juga mulai mengurangi suara mereka.
Kami kemudian mulai berkeliling bersama, melihat berbagai koleksi yang ada di dalam museum dengan didampingi penjelasan dari pemandu, yang mana pemandunya adalah orang yang mengurus museum tersebut. Ada banyak benda yang dipajang, mulai dari foto-foto lama, perabotan, hingga benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari di masa lalu. Awalnya, aku hanya melihat sekilas tanpa terlalu memperhatikan detailnya. Namun, seiring penjelasan yang diberikan, aku mulai memahami bahwa museum ini dulunya adalah rumah dan setiap benda memiliki cerita yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada masanya. Hal ini membuatku mulai melihat koleksi tersebut dengan cara yang berbeda.
Salah satu hal yang cukup menarik perhatian kami adalah penjelasan tentang komunitas Tionghoa Benteng yang menjadi bagian penting dari sejarah Tangerang. Dari penjelasan tersebut, kami mengetahui bahwa mereka sudah tinggal di wilayah ini sejak ratusan tahun yang lalu dan berperan dalam perkembangan daerah tersebut. Informasi ini cukup membuka wawasan, karena sebelumnya aku tidak terlalu memahami latar belakang sejarah masyarakat di kotaku sendiri. Diskusi kecil juga sempat terjadi di antara kami karena itu merupakan salah satu tugas dari P5.
Selama berkeliling, kami juga membaca berbagai informasi yang dipasang di dinding museum dengan bahasa yang cukup mudah dipahami. Penjelasan tersebut tidak terasa berat, sehingga kami tetap bisa mengikuti tanpa merasa bosan. Beberapa teman bahkan mulai aktif bertanya kepada pemandu mengenai hal-hal yang mereka anggap menarik. Interaksi ini membuat suasana menjadi lebih hidup, tidak sekadar melihat-lihat tanpa memahami. Aku sendiri mulai lebih fokus membaca informasi yang aku lihat secara langsung.
Di tengah kegiatan itu, aku mulai membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat di masa lalu berdasarkan benda-benda yang dipajang. Aku mencoba membayangkan bagaimana mereka tinggal, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Meskipun hanya berupa bayangan, hal ini membuat pengalaman di museum terasa lebih nyata. Aku juga menyadari bahwa sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga tentang kehidupan sehari-hari yang membentuk suatu komunitas.
Salah satu bagian museum yang membuatku cukup heran adalah pintu teras lantai dua yang memiliki sistem penguncian dan bukaan yang hanya diketahui oleh pewaris rumah itu. Aku dan temanku mencoba membuka pintu yang ditutup tersebut, tetapi kami kebingungan cara membuka pintunya. Dalam benakku, “Ini puzzle-nya orang dulu nih”, dan dengan mudahnya pintu itu dibuka oleh pewaris.
Selain koleksi yang dipajang, bangunan museum itu sendiri juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan. Struktur bangunannya yang masih mempertahankan bentuk asli memberikan kesan autentik. Tangga, lantai, serta tata ruangnya terasa berbeda dari bangunan modern yang biasa kami temui. Hal ini membuat kami tidak hanya belajar dari benda-benda yang ada, tetapi juga dari bangunan itu sendiri.
Selama berada di dalam museum, suasana terasa cukup nyaman dan tidak terburu-buru, meskipun kami datang dalam kelompok besar. Kami diberi waktu untuk mengeksplorasi dan memahami setiap bagian dengan cukup leluasa serta bertanya sebanyak-banyaknya terkait museum ini. Beberapa temanku bahkan sempat berdiskusi mengenai teori-teori yang mereka buat sendiri mengenai hal-hal yang mereka temukan. Kegiatan P5 terasa lebih asyik dan tidak monoton seperti yang sempat kami bayangkan sebelumnya.
Kegiatan ini juga membuatku mulai melihat Tangerang dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya sebagai kota modern tetapi juga sebagai tempat yang memiliki sejarah panjang. Selama ini, aku lebih sering memperhatikan perkembangan kota dari sisi infrastruktur dan fasilitas yang ada. Namun, melalui kunjungan ini, aku menyadari bahwa ada sisi lain yang tidak kalah penting untuk dipahami. Sejarah dan budaya ternyata memiliki peran besar dalam membentuk identitas suatu daerah. Hal ini membuatku merasa lebih tertarik untuk mengenal kotaku sendiri.
Ketika kami keluar dari museum dan kembali ke suasana Pasar Lama yang ramai, perasaanku sudah tidak sama seperti saat pertama datang. Tempat yang tadinya terasa biasa saja sekarang terlihat lebih bermakna karena aku memahami sedikit tentang sejarahnya. Keramaian yang ada bukan lagi sekadar aktivitas, tetapi bagian dari kehidupan yang sudah berlangsung sejak lama dan berlangsung hingga kini. Teman-temanku tidak berhenti membicarakan pengalaman yang baru saja kami dapatkan hingga masuk ke dalam bus.
Perjalanan bersama teman-teman ke Museum Benteng Heritage dalam rangka P5 ternyata memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar memenuhi tugas sekolah. Aku tidak hanya mendapatkan informasi baru, tetapi juga cara pandang baru terhadap lingkungan sekitarku. Kegiatan ini membuatku sadar bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Dengan cara yang asyik dan dilakukan sama, belajar bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Hal ini membuatku lebih menghargai kegiatan seperti ini. Melalui kegiatan P5, aku belajar bahwa setiap tempat memiliki cerita yang bisa dipelajari jika kita mau memperhatikan.(*)