Oleh Gina Dwi Susanti
Liburan itu berawal dari obrolan santai di grup chat kami yang tiba-tiba berubah menjadi rencana serius. Aku dan teman-temanku sepakat untuk pergi ke Curug Pletuk di Banjarnegara setelah melihat foto-fotonya yang indah di media sosial. Air terjun yang tinggi dengan suasana alam yang masih asri membuat kami semua langsung tertarik. Kami pun sepakat untuk pergi menggunakan motor agar perjalanan terasa lebih seru dan bebas. Tanpa banyak berpikir panjang, kami menentukan hari keberangkatan dan mulai mempersiapkan segala perlengkapan.
Pagi hari yang ditunggu akhirnya tiba dan kami berkumpul di satu titik dengan penuh semangat. Suara motor yang mulai dinyalakan menambah suasana semakin hidup. “Udah siap semua? Jangan sampai ada yang ketinggalan, ya!” kata Rina sambil memakai helm. Aku langsung naik ke motor bersama temanku dan memastikan tas sudah terbawa dengan aman. Kami pun berangkat bersama-sama dalam rombongan kecil, menyusuri jalan dengan penuh antusiasme.
Di awal perjalanan, jalanan masih terasa nyaman dan cukup ramai. Kami bisa melaju dengan santai sambil sesekali bercanda di lampu merah. Angin pagi yang sejuk terasa menyenangkan saat menerpa wajah. Namun, setelah keluar dari pusat kota, suasana mulai berubah. Jalanan menjadi lebih sepi dan mulai menunjukkan tanda-tanda akan menantang.
Semakin jauh perjalanan, jalan mulai berubah menjadi sempit dan berkelok-kelok. Kami harus lebih fokus karena tikungan yang tajam dan tanjakan yang cukup curam. “Wah, ini jalannya kok makin ekstrem ya,” teriak Dika dari motor sebelah. Aku hanya tertawa kecil meskipun dalam hati sedikit tegang. Mengendarai motor di jalan seperti itu memang membutuhkan konsentrasi yang penuh.
Perjalanan terasa semakin lama karena kami harus menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan. Beberapa kali kami harus melambat karena tikungan yang terlalu tajam. Di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat. Kami memarkir motor di pinggir jalan dengan pemandangan perbukitan yang indah. Udara di sana terasa sangat sejuk dan segar, membuat rasa lelah sedikit berkurang. “Kalau perjalanan aja udah seindah ini, apalagi nanti curugnya,” kata Sinta dengan penuh semangat. “Ini masih jauh nggak sih?” tanyaku saat kami berhenti sebentar di pinggir jalan. Salah satu temanku menjawab, “Kata Google Maps sih masih, sabar aja ya.” Kami ke sana hanya mengandalkan teknologi Google Maps karena tidak ada yang tahu jalannya. Kami hanya bisa saling tertawa meskipun sudah mulai merasa lelah. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan jalan yang semakin menantang. Kami harus ekstra hati-hati karena jalanan tidak hanya berkelok, tetapi juga terkadang berbatu dan tidak rata. Beberapa kali motor kami sedikit terguncang saat melewati jalan yang rusak. “Pelan-pelan aja, yang penting selamat,” teriak Rina, mengingatkan dari belakang. Kami pun tetap menjaga jarak dan saling memperhatikan satu sama lain.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang terasa melelahkan, kami sampai di area parkir. Kami langsung mematikan mesin motor dan menarik napas lega. Namun, perjuangan belum selesai karena kami harus berjalan kaki menuju air terjun. Jalan yang harus kami lalui terlihat cukup menantang karena dipenuhi batu-batu kerikil dan tangga yang menjulang tinggi. Kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
“Serius kita harus lewat sini?” tanyaku saat melihat jalan berbatu yang licin. Temanku hanya tertawa dan berkata, “Ya iyalah, ini bagian serunya!” Kami pun mulai berjalan perlahan sambil berhati-hati. Setiap langkah harus diperhatikan agar tidak terpeleset. Suasana mulai terasa seperti petualangan yang sesungguhnya. Saat berjalan, kami beberapa kali hampir terpeleset karena batu yang licin. “Eh, hati-hati! Jangan sampai jatuh!” teriak Dika saat melihat temannya hampir tergelincir. Aku sendiri sempat kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. “Ya ampun, hampir aja aku nyungsep,” kataku sambil tertawa gugup. Teman-temanku langsung membantu dan kami saling menjaga satu sama lain.
Perjalanan menuju curug terasa cukup menegangkan sekaligus seru. Jalan yang menurun dan berbatu membuat kami harus ekstra fokus. Namun, suara gemericik air yang mulai terdengar membuat semangat kami kembali muncul. Kami tahu bahwa tujuan sudah semakin dekat. Rasa lelah perlahan berubah menjadi rasa penasaran. “Aku udah denger suara airnya! Kayaknya udah dekat!” seru Sinta dengan penuh antusiasme. Kami pun mempercepat langkah meskipun tetap berhati-hati. Suasana di sekitar terasa semakin sejuk dengan pepohonan yang rimbun. Angin yang berhembus membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Kami semakin tidak sabar untuk sampai.
Akhirnya, kami sampai di depan air terjun yang begitu indah. Pemandangan yang ada di depan mata membuat kami terdiam sejenak. Air terjun yang tinggi dengan air yang jernih mengalir deras, dikelilingi pepohonan hijau yang asri dan bebatuan yang besar. Suasana terasa sangat damai dan menenangkan. Semua rasa lelah dari perjalanan panjang langsung terbayar.
“Gila… ini indah banget,” kataku dengan penuh kagum. Teman-temanku juga terlihat tak kalah terpesona dengan keindahan tempat itu. Kami semua merasa perjalanan jauh dengan motor tadi tidak sia-sia. Bahkan, perjalanan yang sulit justru membuat momen ini terasa lebih berharga. Kami pun mulai menikmati suasana dengan penuh kebahagiaan.
Udara di sekitar curug terasa sangat sejuk dan menyegarkan. Percikan air dari air terjun mengenai wajah kami dan membuat kami tertawa. “Worth it banget sih ini,” kata Rina sambil tersenyum puas. Kami mulai berfoto bersama untuk mengabadikan momen indah ini. Tawa dan kebahagiaan terasa begitu nyata. Beberapa dari kami bermain air di sekitar aliran sungai kecil. Ada juga yang hanya duduk menikmati pemandangan sambil beristirahat. “Kalau tempat kayak gini, rasanya pengen lama-lama ya,” ujar Dika. Kami semua mengangguk setuju karena suasana di sana benar-benar nyaman. Waktu terasa berjalan begitu cepat.