Oleh Dela Adya Pratiwi
Banyak orang boleh jadi sudah familiar dengan Kota Semarang. Di kota itu, banyak tempat terkenal yang bisa didatangi dan banyak juga hiburan yang bisa dihampiri. Tapi ini kali aku ingin mengajak kalian untuk bergeser sedikit dari Kota Semarang. Ya, ke Kabupaten Semarang, wilayah yang sering kali terlewat oleh banyak orang.
Kabupaten Semarang memiliki banyak kekayaan alam yang menarik seperti air terjun, gunung, dan rawa. Tidak hanya itu, banyak objek wisata dan tempat bersejarah yang dapat didatangi di kabupaten tersebut. Salah satu tempat yang sering aku kunjungi adalah Alun-Alun Bung Karno di Kalirejo, Ungaran Timur.
Alun-Alun Bung Karno adalah area publik berupa lapangan luas yang memiliki jalur jogging, taman, dan tempat kuliner. Tempatnya sangat ramai, terutaa pada akhir pekan karena banyak orang berjualan di sana. Pada malam Minggu, banyak hiburan yang bisa dinikmati.
Warga setempat menyebut alun-alun itu Asjo yang merupakan akronim dari “asmara Jowo”. Sebutan itu tercipta karena Alun-Alun Bung Karno sering dijadikan tempat bersantai dengan pasangan atau orang tersayang. Memang di situ banyak tempat yang bisa dijadikan tempat nongkrong. Tidak heran banyak pasangan yang memilih datang untuk menghabiskan waktu bersama.
Sejak aku masih kecil, aku dan keluargaku sering datang ke sana. Dulu aku juga sering bermain sepatu roda di tempat itu. Pada hari sabtu dan minggu, banyak sekali yang menyewakan sepatu roda dan skuter. Saat masih belum memiliki sepatu roda sendiri, aku sering menyewa sepatu roda. Aku suka berkeliling di pinggir lapangan dengan sepatu roda sambil menikmati semilir angin yang berembus.
Sekarang pun aku masih sering datang ke alun-alun itu. Terkadang aku datang bersama temanku. Kami biasanya akan membeli minuman lalu berjalan-jalan di sekitar lapangan. Jika dirasa kaki mulai lelah, kami akan duduk di pinggir lapangan sambil bercerita dan bersenda gurau.
Topik pembicaraan kami sangatlah beragam. Apalagi saat ini kami sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Terkadang kami akan bercerita tentang kegiatan sehari-hari kami. Terkadang juga kami akan membicarakan tentang minat baru yang kami temukan. Atau kami hanya akan duduk merenung sambil memperhatikan alun-alun yang telah berubah seiring berjalannya waktu.
Saat berkumpul bersama, sering kali kami menjadi lupa waktu. Bercerita sampai langit memperlihatkan jingganya dan perut pun berbunyi seakan ingin ikut bercerita. Beruntungnya kami, karena banyak penjual makanan yang buka di alun-alun pada sore hari. Kami pun tidak perlu jauh-jauh mencari makanan untuk membungkam suara perut ini. Ketika sang jingga mulai bersembunyi, kami ikut undur diri.
Untuk sebagian orang Alun-Alun Bung Karno mungkin hanya tempat singgah sejenak untuk beristirahat. Tapi bagiku, Alun-Alun Bung Karno adalah tempat yang penuh kenangan, tempat dulu aku dan keluargaku sering datang untuk bermain. Kini menjadi tempat yang sering kudatangi hanya untuk sekedar merenung dan menikmati cahaya mentari.
Ya, di setiap sudutnya menyimpan kenangan yang tak akan tergantikan. Banyak memori yang lahir dari tempat ini. Meski sederhana, alun-alun ini memiliki cara tersendiri untuk memikat orang agar kembali. (*)