Mata Air Senjoyo Salatiga

Oleh Ferry Tengger Adi Prakoso

Semburat fajar mulai merambat di antara celah dahan beringin tua, memantulkan cahaya jingga ke atas permukaan kolam yang masih berkabut tipis. Di sini, di tepi Mata Air Senjoyo, udara pagi selalu punya cara untuk menusuk hingga ke tulang, memaksa saya merapatkan jaket sembari menghalau helaian rambut yang menutupi mata. Bau tanah basah dan aroma khas air pegunungan menyeruak, menciptakan simfoni alam yang jujur. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi di Semarang, terkadang saya merasa jenuh dengan keheningan kampung halaman ini setiap kali pulang, seolah hidup saya hanya berputar di antara rimbunnya pepohonan yang itu-itu saja.

Lamunan saya pecah saat melihat seorang pria paruh baya duduk bersila di atas akar beringin yang menjuntai ke air. Ia mengenakan kemeja batik usang yang warnanya sudah memudar, namun tatapannya sangat tajam menatap permukaan air. Di sampingnya, terdapat sebuah tas kulit tua yang terbuka, memperlihatkan beberapa tumpuk naskah dan sebuah kamera analog tua. Saya mengenalnya sebagai Pak Damar, seorang mantan guru sejarah yang kini menghabiskan masa tuanya dengan menelusuri kembali lisan-lisan lama yang mulai terlupakan di sekitar Salatiga.

“Duduklah, Nak. Senjoyo sedang sangat tenang pagi ini,” ucap Pak Damar tanpa menoleh, seolah ia bisa merasakan kehadiran saya hanya dari derap langkah di atas tanah lembap. Saya pun ikut duduk di sampingnya, membiarkan kaki saya terjuntai menyentuh permukaan air yang sedingin es. Di bawah sana, ribuan ikan hias mulai berenang mendekat, seolah mereka adalah tuan rumah yang sedang menyambut tamu dengan ramah. Kejernihan air di sini memang luar biasa, mirip kaca bening yang memperlihatkan setiap detail kerikil di dasarnya.

Pak Damar mulai bercerita bahwa Senjoyo bukan sekadar sumber air, melainkan titik temu antara dimensi fisik dan spiritual yang sangat tipis. Ia mengisahkan legenda Joko Tingkir yang sangat melekat di benak warga kami, tentang bagaimana sang legenda melakukan tapa kungkum di sini. “Beliau berendam bukan sekadar membersihkan raga, Nak, tapi menyelaraskan batin dengan detak jantung bumi sebelum akhirnya berangkat menuju kejayaannya di Pajang,” bisik Pak Damar dengan suara berat yang penuh penekanan.

Cerita Pak Damar kemudian beralih ke sisi yang lebih gelap, tentang penemuan sosok jenglot yang sempat menghebohkan warga beberapa tahun silam. Makhluk kecil yang tampak seperti mumi mini dengan taring dan rambut panjang itu diyakini banyak orang sebagai sisa-sisa ilmu hitam yang tertinggal. Bagi Pak Damar, keberadaan cerita jenglot adalah pengingat bagi manusia agar tidak serakah atau mencoba menantang kekuatan alam dengan cara-cara yang menyimpang. Ada aura mistis yang terasa semakin kental saat angin berhembus melalui celah-celah pura di sudut mata air.

“Dahulu, tempat ini jauh lebih sunyi, penuh dengan ritual-ritual yang tak berani disebut namanya oleh lidah orang kota,” lanjut Pak Damar sembari menyesap kopi hitam dari botol minumnya. Angin dingin berdesir di sela akar beringin saat Pak Damar mulai bicara soal kearifan lokal yang menjaga ekosistem Senjoyo tetap asri. Menurutnya, rasa hormat masyarakat pada sosok-sosok tak kasat mata di sini adalah benteng pertahanan terakhir bagi alam. Saya merenung, menyadari bahwa setiap aturan mistis dan pantangan yang ada sebenarnya adalah cara leluhur menjaga jarak aman antara keserakahan manusia dan kesucian mata air. Ini adalah bentuk etika lingkungan yang unik, di mana mistisisme menjadi pelindung bagi kejernihan air yang kita hirup setiap hari. 

Sambil menikmati renyahnya rolade daun singkong yang saya beli dari warung sederhana di pinggiran kolam, saya memperhatikan bagaimana ekosistem ini menyangga kehidupan. Di sisi yang agak jauh, beberapa ibu rumah tangga sedang mencuci pakaian dengan tenang, mengobrolkan harga pasar sambil sesekali tertawa. Meskipun mereka menggunakan air dari mata air ini, mereka sangat paham untuk tidak membuang limbah sabun ke area kolam utama, sebuah kesadaran kolektif yang sudah mendarah daging demi kelestarian bersama.

Pak Damar tiba-tiba terdiam, ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar foto lama yang sudah menguning. Foto itu memperlihatkan dirinya yang masih muda berdiri di bawah beringin yang sama, namun pohon itu tampak jauh lebih rimbun. “Saya sedang sakit, Nak. Penyakit paru ini memaksa saya untuk terus mencari udara yang paling segar jauh dari polusi kota, dan tempat ini adalah satu-satunya tempat yang membuat saya merasa masih punya waktu,” tuturnya dengan senyum yang menyimpan sedikit kesedihan.

Ternyata, perjalanan Pak Damar setiap pagi ke Senjoyo adalah upaya untuk “bernapas” di sisa-sisa hidupnya yang mungkin tak lama lagi. Ia merasa bahwa di bawah naungan beringin raksasa ini, paru-parunya mendapatkan kekuatan yang tak bisa diberikan oleh tabung oksigen rumah sakit manapun di Semarang. Baginya, Senjoyo adalah pelukan ibu yang memberikan kehidupan kembali setiap kali ia merasa sesak, sebuah tempat peristirahatan batin sebelum akhirnya ia harus benar-benar beristirahat selamanya.

Ia kemudian bercerita tentang fenomena culture lag yang ia amati di tempat ini, di mana teknologi untuk mempromosikan Senjoyo di media sosial berkembang sangat pesat, namun kesadaran untuk menjaganya tetap tertinggal. Banyak wisatawan datang hanya untuk berfoto tanpa peduli dengan sampah yang mereka tinggalkan atau ketenangan ritual warga yang mereka usik. “Mereka melihat keindahan, tapi tidak melihat jiwa dari tempat ini,” keluh Pak Damar sembari membersihkan lensa kameranya yang berembun.

Senja mulai turun, dan langit di atas Senjoyo berubah warna menjadi ungu keemasan yang memukau. Pak Damar berdiri perlahan, membenahi letak kacamata dan tas kulitnya yang berat dengan gerakan yang hati-hati. Sebelum melangkah pergi, ia menepuk bahu saya dan berpesan agar saya tidak pernah menganggap remeh kota kecil ini hanya karena saya sedang mengejar mimpi di kota besar. “Di sinilah urat nadi kehidupanmu bermula, jangan sampai kau lupa dengan tanah tempatmu berpijak,” ucap Pak Damar lirih.

Saya terdiam, memandangi sosoknya yang perlahan menghilang di balik deretan warung-warung sederhana yang mulai menyalakan lampu temaram. Pesan Pak Damar seolah meresonansi kegelisahan saya selama ini sebagai anak rantau yang seringkali mengabaikan kekayaan lokal demi modernitas. Senjoyo mengajarkan saya bahwa hidup berdampingan dengan alam adalah tentang rasa hormat dan timbal balik yang tulus, sebuah nilai yang seringkali hilang di tengah beton-beton ibu kota.

Sekarang, setiap kali aku pulang dari penatnya Semarang, Senjoyo selalu jadi pelabuhan pertamaku sebelum benar-benar sampai di rumah. Aku sering terdiam melihat para pengunjung yang tertawa di atas perahu bebek atau sekadar menghirup aroma gorengan hangat yang terbang di udara. Rasanya berbeda; aku bukan lagi orang asing yang cuma numpang lewat. Aku merasa menjadi bagian dari sejarah panjang yang terus mengalir dalam setiap tetes airnya, yang selama ini menghidupi ribuan orang di tanah kelahiranku sendiri.

Bagi saya, Senjoyo adalah pelabuhan batin yang paling jujur; rumah di mana aliran air, jejak sejarah, dan ketenangan seolah menyatu tanpa pernah lekang dimakan zaman. Akhirnya saya paham bahwa mencintai alam bukan sekadar merawat rupa fisiknya, tapi juga tentang menjaga kehormatan atas cerita dan rahasia yang tersimpan di balik jernihnya air. Inilah sedikit catatan saya tentang Senjoyo, tempat saya belajar bahwa seberapa jauh pun saya pergi mengejar mimpi, keteduhan beringin tua itu akan selalu menjadi tempat saya kembali pulang.(*)