Arti Kehidupan bagi Kacamata Kotak Hitam

Oleh Shofi Hayrunisa

Pagi yang ricuh mulai mewarnai hari Senin seorang gadil kecil gemuk memakai kacamata kotak hitam. Ia memakai kacamata itu akibat gemar membaca komik sebelum tidur. Salahnya ia membaca sembari tiduran dan dengan lampu yang redup mengakibatkan ia memakai kacamata berbentuk kotak hitam itu. 

Bundanya membangunkan gadis itu dan seraya berkata “ayo nanti kamu telat lihat ini sudah pukul berapa?” 

”Ah apa sih?” ucap gadis gemuk itu kepada sang Bunda yang telah sabar membangunkannya membuat sang Bunda mencapai garis kesabarannya. “Cepetan, mau Bunda bilang Ayah?”

Gadis itu terlonjak kaget dan cepat cepat bangun memngambil handuk dan segera ke kamar mandi, ia sangat takut kepada sang Ayah mengingat Ayah yang cukup keras kepada keempat anak perempuannya. Walaupun Ayah sangat keras karena wataknya, ia tetap sayang kepada keluarganya. Perkenalkan gadis itu Shinta yang masi menginjak kaki di Pendidikan sekolah dasar kelas 6 berumur 11 tahun. Ia pun terburu buru memakai seragam merah putih yang harum nan lembut yang telah di gosokkan oleh bundanya, setelahnya ia meminum satu kali teguk susu coklat hangat dengan sangat tergesa gesa. Sekolahnya sangat dekat dari rumahnya jadi orang tua mereka tak perlu repot mengantar gadis ketiganya itu. 

Gadis gendut dengan kulit khas Indonesia yang telah disinari pagi pun mengkilap membuat ia berkeringat deras hingga sampai sekolahnya, ia berada di sekolah swasta berbasis agama islam yang diharapkan kedua orang tuanya anak ini dapat membawa agama ke dalam kehidupannya. Shinta pun memasuki kelas yang berada di lantai 2 beruntungnya ia tidak terlambat dan bel pun baru berbunyi saat Shinta masuk kelas, bel berbunyi pertanda siswa-siswi yang berada di sekolah tersebut melakukan kegiatan rutinnya menghafal al-qur’an. Sedari ia duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah ke atas Shinta berada di lingkup ajaran islam yang cukup mendalam. Karena kedua orang tuanya sangat mengharapkan kepada anak ketiganya itu walaupun mereka tidak pernah bilang tapia nak tersebut tau apa yang di harapkan dan dicita-citakan oleh mereka.Orang tua mana yang tidak mengharapkan anaknya menjadi anak yang berbakti, bermanfaat bagi semu orang pasti semua orang tua ingin menjadikan anaknya berhasil baik dalam dunia juga akhirat. 

Saat berakhirnya masa putih merah wisuda pun tiba, semua orang tua mereka merayakan keberhasilan anak mereka. Bunda Shinta juga adiknya menghadiri wisudanya tapi ia bingung juga bertanya kenapa Ayah tidak mendatanginya? 

“Ayah sedang sibuk banyak tamu di bandara” kata Bunda Shinta. Shinta pun hanya bergumam tidak jelas dan sedikit sedih walaupun Ayahnya berwatak keras ia tetap mengharapkan kehadiran Ayahnya. Hal ini di alami juga oleh Shinta hingga ia wisuda di sekolah menengah ke atas Ayah Shinta tidak menghadiri wisudanya, begitu juga perayaan ulang tahun ia tak pernah menyempatkan waktunya kepada anaknya. Hal ini juga dialami oleh kakak Shinta akan tetapi Terpikir oleh Shinta perayaan yang hanya di hadiri oleh Ayahnya Adalah wisuda perkuliahan karena saat kakak Shinta perayaan kelulusan perguruan tinggi Ayah Shinta pasti akan hadir di Tengah mereka.

Hal ini membuat Shinta terpacu pada dirinya sendiri untuk dapat masuk ke perguruan timggi dan lulus agar Ayah dapat menghadiri perayaan kelulusannya dalam mendaptkan sarjana. Tapi semua yang dilakukan oleh Shinta bukan semata mata tentang Ayah ataupun Bunda ataupun kakak. Tapi ekspetasi orang lain kepada kita membuat diri kita haus akan keberhasilan yang lebih dan tidak akan pernah berhenti. 

Jadi pertanyaan dalam hidup Shinta hanya satu “Pernahkah kamu merasa cukup pada dirimu sendiri?” Perjalanan hidup Shinta tidak berhenti saat berhasil mendapatkan perguruan tinggi negeri, ia merasa tidak akan pernah cukup puas atas keberhasilan yang ia dapatkan bukannya tidak bersyukur karena memang manusia mendapatkan Hasrat yang tidak akan pernah puas atas segala yang ia miliki. shinta melanjutkan kisahnya di perguruan tinggi negeri dan berpisah kepada orang tuanya karena ia ingin menemukan jalan dan pengalaman baru yang sebelumnya ia tidak pernah dapatkan, dan pertanyaan yang memenuhi kepalanya yang sangat berisik itu. Akankah ia dapat menemukan jawaban atau ia hanya membawa dengan tangan yang kosong pemikiran Shinta begitu Panjang dan berkeliuk liuk. 

Saat mempersiapkan barang yang akan di bawa untuk merantau, Shinta menemukan bingkai foto wisuda foto ia saat masi duduk di bangku sekolah dasar Gadis gendut berkacamata kotak hitam itu sekarang menjadi gadis yang dapat merawat diri dan mempercantik dirinya sendiri. Hal ini sontak membasahi pipi gadis muda manis itu, ia lupa perjalanan kehidupan ia sudah sejauh ini dan ia harus melanjutkan hidup dengan penuh banyak rasa sesak yang mendalam pada dirinya. Shinta sejak dahulu terkenal dengan ke aktifan dan aksinya kepada banyak teman-temannya, gadis yang cerewet dan mudah berinteraksi kepada semua kalangan yang seumurannya, lebih tua dan muda. Ia gadis yang penuh semangat, akankah di perkuliahan semangat tersebut akan menghilang karena beredar kisah orang lain berkata bahwasannya pertemanan di perkuliahan penuh dengan kebohongan belum lagi tugas yang menumpuk juga masalah yang akan di luar kendali kita.

Pertemanan bagi Shinta adalah hal yang berharga karena ia mendapatkan banyak cinta dari teman temannya walaupun ia terkenal dengan mudah bergaul dengan orang banyak dan mendapatkan banyak teman, aslinya Shinta orang yang sangat berhati hati dalam membuka hati pada pertemanan ia takut menambah luka oleh karena itu ia penuh dengan banyak perhitungan pada dirinya. ia memang tidak berhasil dalam keluarga tapi ia berhasilkan mendapatkan teman teman yang mencintai dirinya, Shinta tidak dekat dengan Ayah nya ataupun kakanya walau dia dekat dengan bundanya. Tapi ia tidak mau menambah beban pikiran Bunda yang sangat sabar menjadi seorang Perempuan.

Perpisahan begitu menyakitkan tapi membuat hubungan itu semakin mendalam, Shinta harus berjauhan dengan teman-temannya begitu pula dengan keluarganya. Pernah mendengar tidak bahwa dengan memiliki hubungan jarak jauh dengan keluarga justru kita mendapatkan pahala, karena kita akan jarang bertengkar dengan orang tersebut. Dengan berjauhan yang timbul hanyalah perasaan rindu yang harus di tahan, Itulah sebuah perjalanan kehidupan. Saat akan merantau Ayah mencium keningku begitu pula dengan Bunda hal yang sangat jarang kali ini ada alas an yang cukup berat, karena kita akan berjauhan sementara waktu. 

Hari begitu panjang di perantauan semester awal, karena semua terasa berat belum terbiasa tapi Shinta menjalani hal itu dengan santai. Itu adalah keinginan Shinta untuk dapat hidup mandiri dan jauh dari orang tua dalam menemukan arti perjalanan sesungguhnya bagi hidup Shinta sendiri. Waktu itu bagaikan air yang mengalir dengan deras entah bagaimana ia menemukan Sebagian dirinya di orang lain teman perkuliahan yang sekarang menjadi teman dekatnya. “Halo, aku Shinta. Nama kamu siapa?” ucap Shinta dengan ramah Tamah “halo aku riri” seakan semesta memang sengaja mempertemukan mereka berdua, dalam mencari arti kehidupan sesungguhnya cerita aku dengan riri memang tidak jauh berbeda tetapi riri jauh lebih menyakitkan dibandingkan aku, aku sangat amat sayang kepada riri sebagai sahabat mungkin di jaman dahulu kita Adalah sahabat dan reinkarnasi ke jaman sekarang lelucon yang suka kita gunyonkan. Ia mengajarkan banyak hal kepadaku mulai dari diri sendiri walaupun kadang kita bertingkah konyol di kala serius kita berdua Adalah orang yang sedang bertarung dengan kerasnya dunia. Sedikit hiperbola tapi memang faktanya semua orang sedang bertarung untuk dirinya sendiri, jika bukan diri kita sendiri yang bekerja keras memang kita sedang mempertaruhkan apa pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekalipun ilmuan. Karena untuk diri sendiri Adalah hal yang utama.

Kisah Shinta tidak akan berakhir disini akan tetapi yang dapat kita ketahui perjalanan kehidupan memang tidak mudah, faktor yang bermunculan mulai dari keluarga, pertemanan, cinta dan perpisahan yang menyakitkan. Sulit tetapi itulah perjalanan kehidupan yang dialami oleh setiap manusia karenanya jadilah manusia yang dapat memanusiakan manusia lainnya. Menjadi orang yang bermanfaat salah satu tujuan Shinta mengambil jurusan hukum yang Dimana ia dapat membantu banyak orang dalam mengawali setiap perkara atau kasus yang akan ia selesaikan. Tidak perlu banyak berpikir Panjang atau mempertanyakan apa yang kita seharusnya kita lakukan, bagaimana, dan kapan berhenti berpikir dan banyaklah bertindak. Karena jika kita terus menerus berpikir panjang tanpa ada usaha percuma karena kita hanya mengandalkan kecemasan serta rasa ketakutan dalam menjalani sebuah kehidupan yang seharusnya kita bertarung secara maksimal dan tidak lupa istirahat sejenak sebelum bertarung hebat dengan dunia. 

Bisa kita simpulkan secara garis besar waktu tidak dapat diulang kenangan manis yang menyenangkan dapat berubah secara drastic menjadi sebuah duka. Hargailah setaip proses, watu, dan momen Bersama orang yang kita sayang. Dengan hal itu kita dapat menciptakan apa arti sebuah kehidupan bagi diri kita. Tentang Shinta, Riri, keluarganya juga teman dekat Shinta yang lain menjalani waktu bagaikan air yang mengali deras. Air yang deras pun pasti menghadapi bebatuan yang tajam oleh karenanya sama bagi mereka manusia ada waktunya terkena batu yang tajam. Tapi dapat disembuhkan Kembali oleh perjalanan kehidupan yang masih panjang. Karena manunisa memiliki Hasrat untuk bertarung juga berjuang dan tidak mudah menyerah, mereka kan mencoba kembali apabila mereka gagal. (*)