Jawaban dalam Kebisingan

Oleh Fadhilah Nur Karimah

Aku menuliskan banyak hal di halaman kosong laptopku. Seolah-olah dengan menulis, riuh di dalam kepala ini bisa sedikit mereda. Kata demi kata jatuh begitu saja, tanpa benar-benar tahu ke mana arahnya. Dunia terasa bising, sementara waktu terus berjalan tanpa jeda, dan aku masih berdiri di tempat yang sama, bingung menentukan langkah berikutnya.

Namaku Rere. Akhir-akhir ini, aku sering bertanya pada diriku sendiri apakah perempuan memang mudah terluka. Aku tersenyum kecil setiap kali melontarkan pertanyaan untuk diriku sendiri. Seolah lucu, tapi juga menyakitkan. 

Karena entah bagaimana, jawabannya terasa benar, namun bukan karena lemah, tapi karena hati ini terlalu mudah merasakan. Aku lelah bukan karena melakukan banyak hal, tapi karena terlalu banyak berpikir. Kadang rasanya seperti tenggelam dalam pikiran sendiri, dan yang lebih menyakitkan, aku mulai merasa tidak cukup kuat untuk bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Kalau berdiri untuk diri sendiri saja aku payah, bagaimana mungkin aku bisa menopang orang lain?

Pagi itu, aku duduk di tepi kolam rumah, memberi makan ikan-ikan yang berebut di permukaan air. Suara burung bersahutan menciptakan ketenangan yang mungkin terdengar aneh, tapi nyatanya tenang di luar, tapi tidak di dalam kepalaku. Sebuah buku terbuka di tanganku. Lembar demi lembar kubaca, tapi tak satu pun benar-benar dapat aku petik dari isi buku yang aku baca. Semua terasa kosong, seperti diriku.

Aku menatap air kolam. Bayanganku terlihat samar, terpecah oleh riak kecil. Mungkin memang seperti itu diriku sekarang, seperti tidak utuh ragaku berada di tempat, namun tidak dengan jiwaku yang entah berkeliaran ke mana. “Ngga ada gunanya juga nyimpen masalah sendiri, dek.” Suara itu membuatku menoleh. Kak Jo berdiri di sana, kakak satu-satunya yang aku miliki, membawa secangkir teh, lalu duduk di sampingku dengan tenang.Aku tertawa kecil. “Hidup udah mau kepala dua, Kak. Bukannya harusnya mulai belajar nyelesain masalah sendiri?” Kak Jo meletakkan cangkir tehnya. “Kalau semua harus sendiri, terus gunanya kita hidup sebagai manusia apa?” Aku terdiam, lalu menarik napas panjang. “Aku juga nggak ngerti kenapa aku ngerasa begini. Kayak aku nggak punya tanggung jawab sama diriku sendiri.”

“Semua orang pernah ngerasa begitu,” ucapnya pelan.

Aku menggeleng cepat. “Nggak, Kak. Nggak semua orang kayak aku. Aku banyak ngeluh. Banyak mikir, tapi nggak pernah bener-bener jalan.”

Kak Jo menatapku sedikit lebih serius daripada sebelumnya. “Kamu pikir Kakak dulu nggak kayak gitu?”

“Aku nggak pernah lihat Kakak gagal,” jawabku cepat. Nadaku mulai meninggi tanpa sadar.

“Itu karena kamu cuma lihat hasilnya, bukan prosesnya,” balasnya tegas.

Aku terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, getir. “Enak ya jadi Kakak. Kuat, bisa diandalkan. Sementara aku? Berdiri sendiri aja rasanya goyah.”

“Rere,” suaranya sedikit lebih dalam, “kamu tuh bukan lemah. Kamu cuma belum kasih kesempatan ke diri kamu sendiri buat coba.”

“Aku udah coba!” potongku cepat. “Tapi selalu aja rasanya nggak cukup. Selalu kalah sama takutku sendiri.”

“Terus kamu mau berhenti di situ?” tanyanya, kini menatapku lurus.

Aku mengepalkan tangan. “Aku capek, Kak! Capek harus terus jadi ‘cukup’ buat semua orang!”

“Siapa yang minta kamu jadi cukup buat semua orang?” balasnya, kali ini lebih tajam.

Aku terdiam. Pertanyaan itu seperti menamparku pelan.

“Selama ini,” lanjutnya, “kamu terlalu sibuk ngejar standar yang bahkan bukan kamu yang buat.”

Aku menunduk. Suaraku melemah. “Tapi aku takut, Kak.”

Ia menatapku, kali ini lebih lembut. “Takut itu wajar. Tapi kalau kamu terus sembunyi di balik takut, kamu nggak akan ke mana-mana.”

“Aku takut cuma jadi bayang-bayang kamu,” kataku akhirnya, jujur.

Sunyi sebentar. Hanya suara air kolam yang bergerak pelan.

Kak Jo menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Dek, Kakak nggak butuh bayangan. Kakak butuh kamu jadi diri kamu sendiri.” Rasanya semua beban jatuh ke kamu.” Aku terdiam sejenak dan menatapnya, “Pasti berat, ya, Kak?”

Kak Jo tersenyum tipis, lalu mengusap kepalaku. “Dek, hidup ini bukan soal siapa yang lebih kuat atau lebih berat. Semua cuma soal waktu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” Ia menatap ke depan. “Waktu itu yang ngajarin kita buat berdamai. Nggak apa-apa capek, nggak apa-apa ngeluh, tapi jangan pernah berhenti.”

Aku menatapnya. Mataku mulai terasa hangat. “Aku justru takut, Kak, karena Kakak terlalu baik.” Ia tertawa kecil. “Selama Kakak masih di sini, kamu nggak perlu takut.” Aku ikut tertawa, meski air mataku hampir jatuh. “Makasih ya, Kak… udah jadi kakak buat aku. Tolong hidup lebih lama lagi. Tunggu aku sukses.” “Kakak selalu di sini buat kamu,” katanya lembut. “Jangan pernah kubur mimpi kamu. Kalau kamu capek, lihat ke belakang dan kamu bakal lihat Kakak ada di sana.”

 Langit tiba-tiba mendung dan tak lama hujan turun perlahan. Aku diam, membiarkan semuanya jatuh begitu saja, antara air hujan dan air mata yang tak lagi bisa kubendung. Rasanya aku merasa lebih tenang seperti tidak ada lagi hal yang perlu aku risaukan setelah percakapan yang terjadi.

Mungkin hidup memang tidak selalu mudah. Mungkin aku masih akan merasa lelah, bingung, dan takut. Tapi setidaknya, hari ini aku tahu satu hal: aku tidak sendirian. Benar adanya semua, hanya perihal waktu. Setiap jiwa memiliki pandangan dan cara sendiri mengenai bagaimana harus menjalani kehidupan. Perlahan, aku cukup mengerti mengenai diri sendiri dan perlahan aku merasa cukup dengan kapasitas diri yang aku miliki.(*)