Jatuh Cinta pada Masa Lalu

Oleh Nayla Intan Khoirunnisa 

Aku masih ingat betul aroma lembap perpustakaan sekolah yang bercampur dengan bau kertas tua, saat sinar matahari sore menyelinap lewat jendela berdebu. Hari pertama aku benar-benar jatuh cinta padanya, bukan pada Arka, tapi pada Sejarah yang dulu kubenci habis-habisan. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMA, pelajaran sejarah bagiku seperti hukuman. Hafalan tanggal perang, nama-nama Sultan Mataram. “Buat apa tahu masa lalu?” gumamku dalam hati setiap kali guru Sejarahku mulai berdiri di depan kelas dengan spidolnya yang sudah setengah habis tintanya. Kelas XII IPS 1 selalu sunyi seperti kuburan; teman-temanku menguap sambil corat-coret buku catatan; kipas angin berputar malas di sudut ruangan.

Tapi semuanya berubah saat Arka datang, murid pindahan dari Jogja yang wajahnya cerah seperti pagi setelah hujan. Guru memperkenalkannya di depan kelas. Suaranya pelan tapi tegas. “Ini Arka, silakan duduk di sana.” Jantungku berdegup aneh, meski saat itu aku pikir cuma karena dia tampan dengan rambut sedikit acak-acakan dan senyum yang bikin mata sipitnya tambah misterius. Aku duduk di dua bangku di belakangnya, mencuri pandang saat pelajaran sejarah dimulai. 

Biasanya kelas seperti mayat hidup, tapi Arka? Dia tegak, tangannya langsung terangkat. “Bu, kenapa Proklamator memilih 17 Agustus 1945? Apa karena ada firasat lain?” tanyanya lantang. Suaranya hangat seperti angin laut. Guruku tersenyum lebar. Kelas yang tadi sepi tiba-tiba bergumam kagum. Aku? Mulai memperhatikan bukan pelajaran, tapi dia, cara matanya berbinar saat bicara soal perjuangan rakyat kecil di masa kolonial.

Lalu datang tugas kelompok presentasi tentang Perang Kemerdekaan. Namaku satu grup dengannya. “Duh, kenapa sih harus sama si tukang hafal sejarah?” keluhku dalam hati sambil menggeser tas ranselku yang berat. Sore itu, perpustakaan sekolah penuh sesak dengan bau buku basah setelah hujan deras, rak-rak kayu menjulang tinggi, dan suara halaman di balik terdengar seperti bisikan rahasia. 

Aku datang terlambat. Bajuku masih berbau keringat sepulang dari latihan Paskibra. Buku catatanku cuma selembar kertas lipat. Arka sudah duduk di meja pojok, dikelilingi tumpukan buku sejarah Indonesia edisi tebal, foto-foto hitam putih pahlawan nasional. 

“Hai, duduk yuk,” sapanya santai. Senyumnya bikin ruangan yang pengap tiba-tiba terasa segar. “Menurutmu, kenapa peristiwa Bandung Lautan Api bisa bikin Belanda mundur?”

Aku angkat bahu, malas. “Ya, karena ada di buku, kan? Bakar semuanya, selesai.”

Dia tertawa pelan. Suaranya seperti gemericik air di kali kecil dekat rumahku. “Coba bayangin kamu di sana. Kamu lihat asap mengepul dari rumah-rumah, jerit orang-orang ketakutan, bau gosong menusuk hidung. Kamu bukan cuma baca; kamu hidup di situ. Rasain takutnya, semangatnya, pilihannya.” Matanya menatapku tajam, tangannya menggambar api di udara dengan semangat. Saat itu, dunia seolah berhenti. Aku membayangkan panasnya api, keringat para pejuang muda seperti kami, bau mesiu dan tanah basah darah. Sejarah bukan lagi daftar kering, tapi napas hidup yang bikin bulu kudukku merinding.

Sejak itu, kami belajar bareng hampir tiap sore. Perpustakaan jadi tempat langganan kami, duduk bersila di karpet usang, ngemil keripik pisang dari kantin yang renyah dan asin, sambil dia bercerita. Aku mulai jatuh cinta perlahan pada cerita-ceritanya, pada cara dia membuat masa lalu berputar di kepalaku. Cinta yang tumbuh dari tawa di sela halaman, dari tatapan yang bertemu saat matahari terbenam jingga di luar jendela.

Tapi seperti musim hujan yang datang mendadak, Arka pergi. Akhir semester, dia bilang keluarganya pindah ke Palangka Raya karena ayahnya ditugaskan. Tidak ada pelukan dramatis, hanya pesan WhatsApp malam itu, saat aku rebahan di kasur sambil dengar suara jangkrik di halaman rumah: “Jangan berhenti belajar sejarah ya, Nayla. Di sana, kamu bakal nemuin banyak hal, termasuk diri kamu sendiri. Tetap semangat!” Aku baca berulang-ulang. Air mataku menetes pelan ke bantal. Perpustakaan besoknya terasa dingin seperti kamar mayat dengan kursi kosongnya. Buku-buku yang diam. Angin malam bertiup sepi lewat ventilasi.

Hari-hari berlalu, tapi sejarah tetap tinggal bersamaku. Aku mulai begadang  membaca buku sendirian, mendengar podcast perjuangan Kartini di kamar sambil makan mi instan pedas, dan presentasi di kelas dengan suara lantang seperti yang Arka lakukan. Sekarang, di bangku kuliah Pendidikan Sejarah UNNES Semarang, aku duduk bersama mahasiswa lain. Setiap membuka buku, angin pelan dari AC membuatku ingat hembusan napas Arka saat diskusi. Kadang kupikir, di mana dia sekarang? 

Aku tersenyum kecil, menutup buku di meja kayu kuliah yang sudah usang. “Aku jatuh cinta dua kali,” bisikku pada diriku sendiri. Suara hujan deras di luar jendela seperti tepuk tangan masa lalu. “Pertama, padamu. Kedua, pada sejarah. Dan kali ini, aku yang memilih tinggal selamanya.”

Tapi malam itu, saat aku berjalan pulang melewati gerbang UNNES yang basah oleh guyuran hujan, ponselku bergetar hebat di saku jaket. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal, tapi nama pengirimnya membuat napasku terhenti. Arka. “Nay, apa kabar? Aku dengar kamu sekarang menjadi mahasiswi di Sejarah UNNES. Keren banget!”

Aku berhenti di tepi jalan. Air hujan yang hinggap di pohon menetes dari daunnya ke wajahku, campur aduk dengan air mata yang tak kutahankan. Bertahun-tahun yang kucoba lupakan kembali hidup, aroma perpustakaan, tawa Arka, dan janji tak terucap. Tanganku gemetar saat mengetik balasan. Aku merasakan gejolak asmaraku kembali. Namun, satu hal yang tak kusadari. “Nayla! Ayo buruan, nanti kita telat!” Itu suara temanku yang membuatku tersadar bahwa harapanku telah sirna. Aku menatap ponselku sambil tersenyum kecil. Aku terlalu merindukannya hingga berhalusinasi jika dia masih ada di sampingku. Kisah yang tak akan pernah aku lupakan ini akan kukenang hingga waktu yang tak menentu. (*)