Oleh Rahmat Ba’da Maulana
Sehari setelah Lebaran, dunia seperti menarik napas panjang, dalam, dan penuh sisa kehangatan. Hiruk-pikuk kemarin yang riuh oleh tawa, pelukan, dan denting piring kini berganti menjadi sunyi yang akrab. Jalanan kampung tak lagi ramai oleh salam-salaman, hanya sisa jejak langkah yang masih terasa, seolah tanah pun belum sepenuhnya lupa pada kebahagiaan yang baru saja lewat.
Di sudut rumah, aku berdiri memandangi satu per satu anggota keluarga yang keluar membawa barang. Ada yang menggendong tas, ada yang sibuk mengunci pintu. Saudara-saudariku yang bermain-main menikmati momen kecil sebelum perjalanan dimulai. Mobil-mobil mulai dipanaskan, mesin-mesin bergetar pelan, seolah ikut tak sabar menuju tujuan. Hari itu, kami akan pergi ke Pantai Menganti, sebuah tempat di mana laut bertemu tebing dengan cara yang indah, di mana angin membawa cerita yang berbeda dari berisiknya kota.
Kami meninggalkan kota, melewati deretan bangunan hingga akhirnya digantikan oleh pemandangan sekitar jalur selatan Pulau Jawa. Jalan mulai menyempit, seakan mengajak kami masuk lebih dalam ke nuansa alam. Semakin jauh melaju, jalan tak lagi lurus, tetapi juga berkelok, naik turun mengikuti kontur perbukitan, Perjalanan ini memang menantang. Banyak bagian jalan yang curam dan tikungan yang menyimpan kejutan; setiap tanjakan menawarkan sudut pandang baru dan setiap penurunan seolah membawa kita semakin dekat pada tujuan yang sudah lama dinanti.
Jalan berliku yang kami tempuh tadi seolah terbayar lunas begitu pemandangan itu muncul: laut biru luas berpadu dengan tebing hijau yang menjulang. Kami telah tiba di surga Kebumen, Pantai Menganti. Pasir putih membentang luas, bersih, dan kontras dengan warna laut yang biru tua. Ombaknya besar dan kuat, khas pantai selatan. Kami turun perlahan menuju bibir pantai. Langkah kaki terasa ringan di atas pasir yang halus.
Tak lama kemudian, suara riuh kembali terdengar. Sepupu-sepupu mulai bermain air, saling ciprat, dan tertawa sebebas-bebasnya. Kami bersama merasakan air laut yang dingin menyentuh kaki. Ombak kecil datang dan pergi, sungguh menyejukkan kaki, sementara orang tua kami duduk di atas pasir putih pantai dengan tikar di atasnya, menyaksikan kami yang sedang bersenang-senang.
Beberapa saat setelah bermain di pantai, kami sempat naik lagi ke salah satu spot tinggi, tempat jembatan merah itu berdiri. Dari sana, pemandangan terasa lebih luas: laut, bukit, dan garis pantai semuanya terlihat jelas. Angin bertiup lebih kencang, tapi justru itu yang membuat suasana terasa nyata. Kami tak lupa untuk mengambil foto bersama di spot itu, mengabadikan momen indah yang datang setahun sekali ini.
Menjelang sore, langit berubah warna: dari jingga, ungu, dan merah bercampur indah di atas laut. Ombak masih datang dan pergi, tapi suasananya lebih lembut dan lebih tenang. Kami semua berkumpul lagi di warung pinggir pantai, duduk berdempetan sambil menikmati makan, minum, dan senja. Pada momen itu, aku sadar pantai ini bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi juga menjadi tempat untuk pulang sejenak.(*)