Melepaskan Kekhawatiran dalam Pelukan Curug Lawe

Oleh Dimas Setya Budi

Satu kata untuk perjalanan ini adalah kemurnian yang sangat murni, menyegarkan, dan apa pun itu. Aku masih ingat bagaimana kakiku pertama kali menyentuh jalan setapak tanah di pintu masuk Curug Lawe. Matahari pagi itu hanya mampu mengintip malu-malu di balik rimbunnya pepohonan hutan tropis di lereng Gunung Ungaran. Suasananya lembap, segar, dan aromanya… Ah, aroma tanah dan lumut yang basah itu selalu berhasil membuatku merasa pulang.

Jujur saja, awalnya aku sempat mengeluh. Jalur trekking menuju air terjun ini tidak bisa dibilang santai. Aku harus melewati jembatan kayu yang licin, menyisir tepian irigasi tua, hingga menanjak di antara akar-akar pohon besar yang saling melilit. Napasku sempat tersengal dan beberapa kali aku ingin berhenti karena merasa lelah. Namun, setiap kali aku menoleh ke samping, pemandangan lembah hijau dan suara aliran air di bawah sana seolah menyuruhku untuk terus melangkah.

Di sepanjang jalan, aku tidak menemukan kebisingan selain nyanyian alam. Suara tonggeret yang saling bersahutan dan gemericik air yang mengalir di sepanjang pipa irigasi menjadi musik latar yang sempurna. Aku sengaja tertinggal sedikit dari teman-temaku, membiarkan diriku benar-benar ada di sana dengan alami. Aku menyentuh batang pohon yang berlumut, merasakan dinginnya air yang menetes dari daun, dan seketika itu juga, rasa lelah akibat rutinitas kuliah dengan tugas-tugas yang menumpuk perlahan luntur.

Hingga akhirnya, suara gemuruh itu terdengar. Semakin dekat, semakin keras, dan semakin megah.

Begitu sampai di depan Curug Lawe, aku hanya bisa berdiri terpaku. Di hadapanku, air jatuh dari tebing melengkung yang sangat tinggi, terlihat seperti helai-helai benang putih yang halus namun kuat. Butiran uap air yang terbawa angin langsung menyapu wajahku, dingin dan sangat menyegarkan. Rasanya seolah-olah alam sedang membasuh semua kekhawatiran yang kubawa dari kota.

Aku duduk di atas sebuah batu kali yang besar di depan air terjun. Sambil memperhatikan bagaimana air itu menghantam kolam di bawahnya, aku mulai merenung. Selama ini, aku terlalu sering merasa harus menjadi “kuat” dan “cepat” seperti arus air itu. Namun, aku lupa bahwa air terjun bisa menjadi seindah ini justru karena ia berani terjun bebas dan mengikuti alur yang ada.

Di sela-sela waktu itu, aku bergabung kembali dengan teman-temanku. Kami makan bekal bersama di atas batu, berbagi tawa yang terdengar jujur tanpa beban. Kehangatan percakapan itu terasa kontras namun selaras dengan dinginnya suasana sekitar. Di tempat yang tersembunyi ini, aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering kali butuh sedikit usaha dan perjalanan panjang untuk ditemukan.

Ketika kami memutuskan untuk pulang, matahari sudah mulai turun. Aku melangkah balik dengan perasaan yang jauh berbeda dari saat aku datang. Tubuhku mungkin lelah karena berjalan jauh, tetapi pikiranku terasa sangat ringan. Curug Lawe bagiku bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah pengingat bahwa terkadang kita perlu masuk jauh ke dalam sunyinya hutan hanya untuk bisa mendengar suara diri kita sendiri dengan lebih jelas.(*)